Selasa, 07 Januari 2014

Skripsi Agrikultur: Inventarisasi dan Pemanfaatan Bambu


Potensi bambu dalam menopang keberlanjutan hutan dinilai ekonomis di masa depan. Hutan sebagai sumber utama penghasil kayu dari waktu ke waktu kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Keadaan ini disebabkan adanya tindakan eksploitasi dengan cara yang sangat tidak bijaksana, tanpa memperhatikan keberlangsungan dan kelestarian hutan itu sendiri. Pertambahan penduduk yang pesat, nilai ekonomis yang dikandung hutan merupakan beberapa hal pemicu semakin cepatnya kerusakan hutan (Gunardja, 1995).

Untuk menyelamatkan hutan perlu ditempuh berbagai cara, baik secara managerial, kebijakan-kebijakan, politis dan sebagainya. Satu hal yang penting dan mendesak guna memperkecil kerusakan hutan adalah mencari alternatif pengganti kayu. Diketahui bahwa substitusi terdekat kayu yang cenderung mudah dalam pengusahaannya adalah bambu. Bambu keberadaannya tersebar mulai dari dataran rendah hingga ke dataran tinggi, mulai dari pedesaan sampai ke perkotaan. Untuk tumbuh, bambu tidak memerlukan habitat khusus sebagaimana layaknya rotan, oleh sebab itu bambu merupakan jawaban sebagai alternatif pengganti kayu di masa depan, dengan demikian percepatan kerusakan hutan dapat lebih dikurangi (Anonim, 2010).

Tanaman bambu merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan. Bambu dapat tumbuh di daerah yang beriklim kering hingga yang beriklim basah, dari dataran rendah hingga ke daerah pegunungan dan biasanya di tempat-tempat terbuka yang daerahnya bebas dari genangan air (Widyana, 2001).

 Bambu tidak saja dipakai untuk kebutuhan di dalam negeri juga merupakan komoditi ekspor. Sebagai komoditi ekspor, menurut data Biro Pusat Statistik dalam kurun waktu selama lima tahun ( 1986- 1990) ekspor bambu dan hasil olahannya dalam bentuk mebel dan kerajinan terus menerus mengalami peningkatan. Pada tahun 1989 volume ekspor meubel bambu adalah 16.789 kg dengan nilai sebesar US 230, 714. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan bambu memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah secara nyata. Selain itu bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam, tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah (baik lahan basah/kering), tidak membutuhkan investasi besar, pertumbuhannya cepat, setelah tanaman mantap (3 – 5 tahun) dapat di panen setiap tahun tanpa merusak rumpun dan memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan kebakaran (Nur Berlian, 1995).

Tanaman bambu merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan dan memiliki potensi yang cukup tinggi, dikarenakan bambu mempunyai manfaat ekologis dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Bambu sudah sejak lama dikenal petani sebagai tanaman yang bernilai ekonomis. Namun hingga kini pola pemanfaatan bambu yang ada di desa penelitian masih sangat minim, masyarakat sekitar masih belum optimal dalam pemanfaatannya. Masyarakat hanya memanfaatkan bambu sebagai bahan dasar kerajinan keranjang dan tepas, bambu sendiri jika dijadikan beberapa kerajinan seperti untuk industri furniture, berupa meja, kursi, lemari, rak dan tempat tidur dan bambu dalam bentuk serat dapat dimanfaatkan dalam bentuk pulp. Akan tetapi pemanfaatan yang dilakukan masyarakat masih mengambil bambu dikawasan hutan. Hal ini perlu diperhatikan secara serius supaya tidak terjadi kepunahan pada tanaman bambu di Desa penelitian. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penyelamatan hutan khususnya untuk tanaman bambu yang banyak diambil masyarakat di kawasan hutan dengan mengembangkan tanaman bambu di lahan sendiri serta memberikan informasi jenis-jenis bambu dan pola pemanfaatan bambu yang digunakan dalam membuat bahan dasar kerajinan dan nilai ekonomi yang diperoleh masyarakat. Untuk itu perlu adanya penelitian ini untuk mengatasi masalah yang ada di desa penelitian.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

1. Menginventarisasi bambu yang ada di Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh di Kabupaten Karo, Bukit Barisan.

2. Mengetahui pemanfaatan bambu yang ada di Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh di Kabupaten Karo, Bukit Barisan.

3. Mengetahui nilai ekonomi bambu yang ada di Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh di Kabupaten Karo, Bukit Barisan.

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi kepada masyarakat lokal mengenai jenis-jenis bambu pada batas kawasan Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh Kabupaten Karo, Bukit Barisan.

2. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai pemanfaatan bambu dan pemasaran pada batas Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh Kabupaten Karo, Bukit Barisan.

3. Memberikan masukan bagi para pengambil kebijakan untuk pengelolaan hutan bambu yang lebih baik lagi di Desa Sembahe, Sibolangit dan Tongkoh Kabupaten Karo, Bukit Barisan.


Download lengkap Versi Word





Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.