BAB PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Thomson dan Kelly (1990) dalam Chove, et al (2006) sayuran merupakan bagian dari diet sehari-hari di banyak rumah tangga yang merupakan sumber penting dari vitamin dan mineral dibutuhkan untuk kesehatan manusia. Oleh karena itu, higienitas dan keamanan sayuran yang dikonsumsi menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Widaningrum, et al., 2007). Seiring dengan peningkatan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan, terutama dengan penerapan teknologi modern, polusi dan pencemaran rantai makanan manusia menjadi tidak terhindarkan lagi (Chove, et al., 2006). Kontaminasi kimia dari sumber seperti industri, kenderaan dan pestisida dapat mempengaruhi keamanan pangan. Logam berat adalah salah satu dari berbagai jenis kontaminan terpenting yang dapat ditemukan di permukaan dan di dalam jaringan sayuran segar (Marshall, et al., 2003). Banyak jenis sayuran yang beredar di masyarakat tidak terjamin keamanannya karena diduga telah terkontaminasi logam-logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), atau merkuri (Hg) (Widaningrum, et al., 2007). Menurut Mapanda, et al (2005) dalam Kudirat dan Funmilayo (2011) logam berat merupakan penyebab tertinggi di antara kontaminan utama sayuran berdaun. Sementara menurut Edem, et al., (2009) dalam Asdeo dan Loonker (2011) sayuran berdaun mengakumulasi kandungan logam berat lebih tinggi daripada yang lain. Berdasarkan beberapa penelitian, timbal merupakan penyebab tertinggi kontaminasi timbal pada sayuran berdaun (Marshall, et al, 2003; Bigdeli, et al, 2008; Jawad, 2010). Timbal adalah bahan kimia beracun klasik yang kronis. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan ginjal, sistem kardiovaskular, kekebalan tubuh, hematopoietik, pusat saraf dan reproduksi. Menurut FAO/WHO (2004) dalam Al Othman (2010) paparan jangka pendek ke tingkat tinggi timbal dapat menyebabkan kesulitan pencernaan, anemia, ensefalopati dan kematian. Pada penelitian ini penulis berfokus pada bayam. Menurut Audu dan Lawal (2006) dalam A. Sani, et al (2011) dan Marshall (2003) bayam mencatat kadar Pb tertinggi. Sayuran yang berdekatan dengan jalan raya lebih tinggi kadar timbalnya. (Makokha, et al., 2008). Rendahnya tingkat logam berat yang diamati di pasar karena sebagian besar pasar terletak jauh dari sumber pencemaran. (Kudirat & Funmilayo, 2011). Di Indonesia, selama 20 tahun terakhir hanya sedikit sahaja artikel yang mempelajari adanya unsur timbal dalam makanan, terutama pada bayam. Sejumlah laporan tentang konsentrasi logam berat dalam sayuran yang dijual di pasar negara-negara yang berbeda ada tersedia (Bucker et al., 1991; Hussain et al., 1995; Sharma, et al., 2009, Zahir, et al., 2009 dalam Banarjee et al., 2011) tetapi hanya beberapa laporan sahaja yang diterbitkan tentang kandungan logam berat dalam sayuran yang dijual di pasar Indonesia, khsnya .
Senin, 08 Desember 2014
Download Skripsi Kedokteran:Perbandingan Kadar Timbal pada Sayuran Bayam yang Dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar