BAB PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Virus hepatitis adalah penyakit menular umum yang membunuh sekitar 1,5 juta orang setiap tahun. Di seluruh dunia, dua milyar orang telah terinfeksi virus hepatitis B (VHB), 360 juta mengalami infeksi kronis, dan 600.000 meninggal setiap tahun dari penyakit hati terkait HBV atau karsinoma hepatoseluler.Mac Callum mengklasifikasikan hepatitis virus menjadi dua jenis yaitu: Virus Hepatitis A, atau hepatitis menular, dan Viral Hepatis B, atau Serum hepatitis.Blumberg melaporkan penemuan antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), juga dikenal sebagai antigen Australia, dan antibodi-nya, hepatitis B antibodi permukaan (HBsAb). Blumberg mendapat hadiah nobel untuk penemuannya itu. Sekarang antigen tersebut dikenal dengan nama hepatitis B surface antigen(HBsAg). Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada jaringan hati yang disebabkan oleh virus yang berasal dari famili hepadnavirus. Ukuran virus ini sangat kecil berkisar 42 nanometer dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. HBV dapat ditularkan secara vertikal, melalui kontak seksual atau rumah tangga, atau dengan suntikan tidak aman, tetapi infeksi kronis yang diperoleh selama masa bayi atau masa kanak-kanak menunjukkan jumlah besar pada morbiditas dan kematian di seluruh dunia. Angka prevalensi infeksi VHB di Asia Pasifik cukup tinggi yaitu melebihi 8% dan penularannya pada umumnya terjadi secara vertikal (pada periode perinatal) dan horizontal (pada masa anakanak) oleh karena itu risiko menjadi kronis cukup besar. Diperkirakan lebih dari 350 juta di antaranya menjadi kronis yang tentunya berisiko tinggi meninggal dunia akibat penyakit hati kronis. Sekitar 75% pengidap hepatitis B kronis karier berada di Asia Pasifik. Pada saat ini sekitar 1 juta kematian per tahun akibat penyakit hati berhubungan dengan VHB. Sirosis hati, gagal hati, atau kanker hati dapat terjadi pada 15 – 40 % penderita dengan infeksi hepatitis B kronis. Di negara berkembang orang dewasa sangat berisiko tinggi untuk terkena hepatitis B, terlebih di negara miskin, hepatitis B dengan endemis tinggi, cukup banyak ditemukan pada anak-anak. Oleh sebab itu, karena tingginya morbiditas dan mortalitas karena hepatitis B, penyakit ini sangat mengancam di dunia. Prevalensi infeksi HBV berbeda-beda di seluruh dunia. Kategori daerah endemis terbagi menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Indonesia sendiri masuk dalam kelompok prevalensi sedang sampai tinggi. Dari data Lukman Hakim Zain: Hepatitis B dan Permasalahannya 3 yang terkumpul, prevalensi infeksi VHB di Indonesia berkisar antara 2,5% (di Banjarmasin) sampai 36% (di Dili). Pada penelitian prevalensi infeksi virus B yang dilakukan oleh Zain dkk. pada mahasiswa yang baru masuk tahun 1983 didapat prevalensi 16,6%.Dari data pasien hemodialisis regular di 12 kota besar di Indonesia dari 2.458 pasien didapati prevalensi infeksi HBV sebanyak 4,5%, sedangkan di Kota Medan sendiri didapat 6,05% dari 314 pasien (survey nasional pernefri untuk prevalensi hepatitis B/C pada pasien hemodialisis).Diperkirakan saat ini 11,6 juta penduduk Indonesia terinfeksi oleh VHB. Oleh sebab itu perlu diupayakan pencegahan dengan program imunisasi pada bayi dan anak-anak karena pada usia seperti ini infeksi hepatitis B yang kronis dapat dicegah serta menghentikan progresivitas infeksi hepatitis B kronis yang sudah terjadi dengan obat-obatan yang sudah tersedia. Pada tahun 1991, World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan vaksinasi hepatitis B untuk seluruh negara. Tahun 2002, 154 negara telah melakukan vaksinasi hepatitis B pada seluruh bayi baru lahir.Program vaksinasi pertama di dunia dilakukan di Taiwan pada tahun 1984. Selama 2 tahun program tersebut, vaksinasi diberikan terutama pada bayi dengan ibu pengidap hepatitis B (HbsAg positif). Kemudian vaksinasi tersebut diperluas untuk seluruh bayi baru lahir, usia pra-sekolah dan sekolah yang belum divaksinasi. Program tersebut menurunkan angka prevalensi anak usia kurang 15 tahun pengidap hepatitis B dari 9,8% pada tahun menjadi 1,3% pada tahun 1994. Pada tahun 1999 vaksinasi mencakup sekitar 80 – 86 % pada anak balita dan 90% pada anak usia sekolah sehingga prevalensi pengidap hepatitis B berkurang sampai 0,7% pada anak usia kurang 15 tahun. Menurut pusat penelitian penyakit menular,badan penelitian dan pengembangan kesehatan departemen kesehatan RI,Jakarta,bahwa Indonesia telah melaksanakan program Immunisasi Hepatitis B sejak tahun 1987 di Lombok dan kebijaksanaan ini diteruskan ke beberapa propinsi lain, yaitu tahun 1991 dimulai secara bertahap di empat propinsi,tahun 1992 diperluas menjadi sepuluh propinsi, dan pada tahun 1997 untuk dua puluh tujuh propinsi harus sudah melaksanakan vaksinasi hepatitis B.Bila program vaksinasi berhasil,diharapkan pada tahun 2015 (satu generasi kemudian) hepatitis B bisa dibanteras dan bukan merupakan persoalan kesehatan masyarakat lagi.UNIDO-WHO-UNICEF menganjurkan untuk Negara dengan jumlah pendudk lebih dari juta supaya memproduksi sendiri vaksin yang diperlukan.Indonesia dengan pendudk lebih dari 180 juta dan prevalensi HBsAg antara 8-20% harus mepersiapkan diri untuk memproduksi sendiri vaksin hepatitis B.
Senin, 08 Desember 2014
Download Skripsi Kedokteran:Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Status Imunisasi Hepatitis B Pada Mahasiswa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar