Rabu, 31 Desember 2014

Contoh Skripsi Kedokteran:Perbedaan kadar CD4 sebelum dan setelah penggunaan Highly Active Anti retroviral therapy (HAART) pada penderita HIV

BAB PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Mengakhiri abad ke-20, dunia kesehatan dikejutkan dengan munculnya penyakit baru yang sangat berbahaya dan ganas, yang menyerang kehidupan manusia, yakni HIV/AIDS (Notoatmodjo, 2007). Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu penyakit retrovirus yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan ditandai dengan imunosupresi berat yang menimbulkan infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, dan manifestasi neurologis (Mitchell dan Kumar, 2007). Penyakit ini telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu relatif singkat terjadi peningkatan jumlah pasien dan semakin melanda banyak negara. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin atau obat yang relatif efektif untuk AIDS sehingga menimbulkan keresahan dunia (Widoyono, 2008). Sampai akhir tahun 2002, diperkirakan terdapat 42 juta orang yang hidup dengan HIV atau AIDS. Dari jumlah ini, 28,5 juta (68%) hidup di Afrika subSahara dan 6 juta (14%) berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 2002, diperkirakan 5 juta orang baru terinfeksi HIV dan diperkirakan 3,1 juta orang meninggal karena HIV/AIDS (Murtiastutik, 2008). Kasus AIDS pertama sekali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 di Bali, penderita adalah seorang wisatawan asal Belanda. Pada tahun 1991 sudah ditemukan 47 penderita. Pada 10 tahun yang lalu penyakit ini banyak ditemukan hanya pada pelaku homoseksual, sekarang sudah banyak ditemukan pada pelaku heteroseksual (Murtiastutik, 2008). Menurut data dari Ditjen PPM dan PL Depkes RI pada Januari 2010, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Indonesia periode 1 Januari sampai 31 Desember 2009, terdapat sebanyak 3.863 kasus. Jumlah kumulatif kasus AIDS sejak 1 Januari 1987 hingga 31 Desember 2009 adalah sebanyak 19.973 kasus. Menurut data dari Ditjen PPM dan PL Depkes RI pada Januari 2010, Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS yang terbanyak dari 33 provinsi di Indonesia. Sumatera Utara berada pada urutan ke-9 setelah Sulawesi Selatan. Jumlah kumulatif kasus AIDS area Sumatera Utara dilaporkan 485 kasus. Seperti virus lain, HIV tidak dapat berkembang biak sendiri melainkan harus berada pada sel inang atau hospes. Tidak semua sel hospes bisa terinfeksi oleh HIV tetapi hanya sel yang mempunyai reseptor CD4 seperti sel TCD4+ dan monosit/makrofag (Murtiastutik, 2008). Keadaan imunosupresi berat, yang terutama menyerang imunitas seluler, merupakan penanda AIDS. Hal ini disebabkan terutama oleh infeksi dan hilangnya sel T CD4+ serta gangguan pada fungsi kelangsungan hidup sel T-helper (Mitchell dan Kumar, 2007). Antiretrovirus ditemukan pada tahun 1996 dan mendorong suatu revolusi dalam perawatan penderita HIV/AIDS. Meskipun anti retrovirus (ARV) belum mampu menyembuhkan penyakit dan menambah tantangan dalam hal efek samping serta resistensi kronis terhadap obat, namun secara dramatis menunjukkan penurunan angka kematian dan kesakitan, peningkatan kualitas hidup penderita HIV/AIDS dan meningkatkan semangat masyarakat. Pada pedoman WHO terdahulu (April 2002) direkomendasikan bahwa rejimen lini pertama terdiri atas dua NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors) ditambah salah satu NNRTI (Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors) atau abacavir (ABC), atau protease inhibitor. Sejak pedoman tersebut diterbitkan kebanyakan negara berkembang, termasuk Indonesia , memilih komposisi rejimen lini pertama yang terdiri atas dua NRTI dan satu NNRTI (Murtiastutik, 2008). Pemberian ART mempunyai beberapa tujuan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, sebagai berikut. • Faktor klinis, yaitu memperpanjang hidup dan meningkatkan kualitas hidup. • Faktor virologis, yaitu menurunkan viral load sebesar-besarnya ( 20-50 sel/ml) dan selama-lamanya. Hal itu mneunjukkan untuk menghentikan progresivitas penyakit dan mencegah/menunda resistensi. • Faktor imunologis, yaitu terjadi rekonstruksi imun baik secara kuantitatif (jumlah CD4 dalam rentang normal) maupun kualitatif (respon imun spesifik terhadap patogen). • Faktor pemilihan rejimen yang tepat, ditujukan untuk mempertahankan pilihan terapi, meminimalisasi efek samping, memaksimalisasi ketaatan/kepatuhan. • Faktor epidemiologis, yaitu menurunkan penularan HIV serta menurunkan angka kesakitan dan kematian. Contoh Skripsi Kedokteran:Perbedaan kadar CD4 sebelum dan setelah penggunaan Highly Active Anti retroviral therapy (HAART) pada penderita HIVDownloads Versi PDF Klik Disini


Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.