Download Skripsi Kedokteran:Gambaran Pengetahuan Mahasiswai Fakultas Kedokteran mengenai Buta Warna
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Salah satu gangguan yang
terjadi pada mata adalah buta warna. Buta warna adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat
membedakan warna tertentu yang bisa
dibedakan oleh orang dengan mata normal. Seseorang yang menderita buta warna sebagian besar disebabkan oleh faktor
genetik. Walaupun tidak terlalu sering,
buta warna juga dapat terjadi bukan karena faktor keturunan tetapi didapat, misalnya seperti karena Shaken BabySyndrome,
cedera atau trauma pada otak dan retina
(Kurnia, 2009).
Menurut Ganong (2003), buta warna
merupakan penyakit keturunan yang terekspresi
pada para pria, tetapi tidak pada wanita. Wanita secara genetis hanya sebagai carrier.
Istilah buta warna juga dapat
diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut
(cone cell) pada retina mata untuk
menangkap suatu spectrum warna tertentu sehingga objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya (Nina Karina,
2007).
Buta warna umumnya dianggap lebih
banyak terdapat pada laki-laki dibanding
dengan perempuan dengan perbandingan 20:1. Buta warna mempengaruhi 13% populasi umum. Saat ini di
Eropa sekitar 8-12% pria dan 0,5-1%
wanita menderita buta warna. Penelitian lain menyatakan 1 dari 12 orang pria menderita buta warna. Sedangkan wanita
hanya 1 dari 200 orang saja yang menderita
buta warna (Rahmadi, 2009). Di Australia buta warna terjadi pada 8% laki-laki dan hanya sekitar 0,4% pada
perempuan. Sekitar 8% wanita pembawa sifat
buta warna (color blindness carrier). Kelainan buta warna didapat (buta warna biru kuning) memiliki pengaruh sama
antara laki-laki dan perempuan. Di Iran
dari populasi anak-anak usia 12-14 tahun yang mengalami defek penglihatan warna 8,18% laki-laki dan 0,43% perempuan,
tidak didapatkan adanya penyakit sistemik,
penyakit mata, pengobatan kronis, dan tidak terdapat kelainan fundus dengan visus 20/20 (emmetropia). Sedangkan di
Amerika sekitar 10 juta pria Amerika
sepenuhnya 7% dari penduduk laki-laki tidak dapat membedakan warna merah dari hijau, atau melihat merah dan hijau
berbeda dari kebanyakan orang. Ini adalah
bentuk paling umum pada buta warna. Pada perempuan hanya mempengaruhi 4%. Type yang paling sering
adalah merah-hijau (Howard Hughes Medical
Institute, 2006).
Para peneliti mempelajari buta
warna merah/hijau di Inggris melaporkan prevalensi
rata-rata hanya 4,7 persen dalam satu kelompok. Hanya 1 % laki-laki Eskimo yang menderita buta warna. Sekitar 2,9
% anak laki-laki dari Arab Saudi dan 3,7
persen dari India yang yang ditemukan memliki kekurangan penglihatan warna.
Dari data Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2007 didapatkan prevalensi
nasional Buta Warna adalah 0,7 % (berdasarkan keluhan responden).
Sebanyak 6 provinsi mempunyai
prevalensi buta warna di atas prevalensi
nasional, yaitu Nanggroe Aceh
Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, DKI Jakarta, dan Nusa
Tenggara Barat.
Dengan demikian, berdasarkan
latar belakang di atas, peneliti
tertarik untuk meneliti tentang gambaran
pengetahuan mahasiswa/i FK stambuk 2008-2010 mengenai buta warna, dimana pada
mahasiswa/i tersebut belum mendapatkan
kuliah mengenai mata. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui sejauh mana
pengetahuan mereka mengenai buta warna.
1.2. Rumusan Masalah Bagaimana gambaran
pengetahuan mahasiswa/i stambuk 2008-2010 FK mengenai buta warna? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mendapatkan gambaran pengetahuan mahasiswa/i
stambuk 2008-2010 FK mengenai buta warna.
1.3.2. Tujuan Khs
Yang menjadi tujuan khs dalam penelitian ini adalah: 1.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan FK stambuk 2008-2010 tentang buta warna sesuai
dengan karakteristik tiap stambuk.
Contoh Skripsi Kedokteran:Gambaran Pengetahuan Mahasiswai Fakultas Kedokteran mengenai Buta WarnaDownloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini
0 komentar:
Posting Komentar