Jumat, 30 Januari 2015

Contoh Skripsi Psikologi:Perbedaan Self-Efficacy Antara Siswa Etnis Tionghoa Dan Non Tionghoa Di SMA Mayoritas Etnis Tionghoa



  BAB I  PENDAHULUAN
  A.  LATAR BELAKANG MASALAH  Pendidikan 
didefinisikan  sebagai  alat 
untuk  memanusiakan  manusia 
dan  juga  sebagai 
alat  mobilitas  vertikal 
ke  atas  dalam 
golongan  sosial.  Konsep 
mengenai  pendidikan  sendiri 
tercantum  dalam  pembukaaan 
UUD  1945  bahwa 
salah  satu  tujuan  negara 
yakni  mencerdaskan  bangsa 
dan  mengarahkan  kepada 
mewujudkan  suatu  keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Di
dalam pasal 31 UUD 1945 amandemen IV  ayat  pertama 
juga  menyatakan  bahwa 
setiap  warga  negara 
berhak  mendapatkan  pendidikan. 
Hal  ini  menunjukkan 
bahwa  setiap  orang 
berhak  mengenyam  pendidikan  sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di
negara Indonesia ini (Undang-Undang  Dasar,
1945).
 Berdasarkan 
pernyataan  dari  konstitusi 
di  atas,  setiap 
orang  siapapun  dia,  bersuku  apapun, 
beragama  apapun,  selagi 
merupakan  rakyat  Indonesia 
berhak  untuk  mengenyam 
pendidikan  di  institusi 
mana  pun.  Indonesia 
sebagai  negara  multikultural  tidak 
akan  pernah  lepas 
dengan  diversitas  sosiokultural 
di  dalam  suatu  institusi  pendidikan. 
Sebagaimana  kultur  didefinisikan 
sebagai  pola  perilaku, 
keyakinan,  dan  semua 
produk  dari  kelompok 
orang  tertentu  yang 
diturunkan  dari  satu 
generasi  ke  generasi 
lainnya  (Chun,  Organizta, 
&  Marin,  2002; 
Thomas,  2000  dalam 
Santrock,  2008).
 Indonesia sebagai negara multikultural, salah
satu tema penting dalam kerangka  persatuan  nasional 
berkaitan  dengan  persoalan-persoalan  mengenai 
pengintegrasian  berbagai etnik
(Mendatu, 2010). Multikultural telah menghasilkan keberagaman sebagai     hasil 
dari  perbedaan  ras 
dan  etnik  yang 
merujuk  kepada  identitas 
diri  seseorang  (Mitchell 
&  Salsbury,  1999). 
Pendidikan  di  Indonesia 
sendiri  memiliki  berbagai  keragaman 
etnis  maupun  agama. 
Untuk  itu,  sangat 
penting  memberikan  porsi  pendidikan  multikultural 
dalam  sistem  pendidikan 
di  Indonesia  terutama 
agar  siswa  memiliki 
kepekaan  dalam  menghadapi 
gejala-gejala  dan  masalah-masalah  sosial 
yang  berakar  pada  
perbedaan  karena  suku, 
ras,  agama  dan 
tata  nilai  yang 
terjadi  pada  lingkungan masyarakatnya.
 Pendidikan 
multikultural  memang  sebuah 
konsep  yang  dibuat 
dengan  tujuan  untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan
bagi semua siswa yang berbeda-beda  ras,  etnis, 
kelas  sosial  dan 
kelompok  budaya  (Akhmad, 
2008). Kesadaran  multikulturalisme  tersebut 
dapat  berkembang  dengan 
baik  apabila  dilatihkan 
dan  dididikkan pada generasi
penerus melalui pendidikan. Dengan pendidikan multikultural,  sikap 
saling  menghargai  terhadap 
perbedaan  akan  berkembang 
bila  generasi  penerus  dilatih 
dan  disadarkan  akan 
pentingnya  penghargaan  pada  orang 
lain  dan  budaya 
lain  sehingga  peran 
“budaya”  merupakan  salah 
satu  kekuatan  di 
dalam  mempersatukan  kehidupan kelompok masyarakat (Yani, 2010).
 Pembauran 
dapat  dilihat  dalam 
lapisan  masyarakat,  termasuk 
dalam  lembaga  pendidikan 
dari  tingkat  dasar 
sampai  tingkat  atas 
sebagai  wadah  pembauran 
atau  melting  pot (Glazer 
&  Moynihan,  1963). 
Menurut  Pelly  (2003) 
melting  pot dapat  dianggap 
sebagai  wadah  asimilasi 
dengan  harapan  agar 
kelompok  tertentu  dapat  meleburkan
(diri dan budayanya) kepada kelompok yang lebih dominan. Pada akhirnya  muncul 
kebijakan  asimilasi  yang 
merupakan  cara  agar 
kelompok  minoritas  dapat  melebur
ke dalam kelompok mayoritas (Mendatu, 2010). Peleburan tersebut tidak hanya     dalam konteks sosial, namun di dalam dunia
pendidikan. Pada tahun 1967 pemerintah  mendirikan  Sekolah 
Nasional  Proyek  Khs 
(SNPK)  sebagai  sekolah 
pembauran  (berdasarkan  Intruksi 
Presiden  Kabinet  No. 
37/U/In/G/1967).  Sekolah  dilihat 
sebagai  wadah  pembauran (melting  pot) antara 
kelompok  pribumi  dengan 
kelompok  non  pribumi, 
agar  generasi  muda 
non  pribumi  dapat 
meleburkan  diri  dan 
budayanya  ke  dalam 
budaya  nasional  melalui 
wadah  pendidikan.  Pada 
tahun  1975,  SNPK 
dirubah  menjadi  Sekolah 
Nasional  Swasta  yang 
kemudian  menjadi  basis 
sekolah  asimilasi  (pembauran).
Contoh Skripsi Psikologi:Perbedaan Self-Efficacy Antara Siswa Etnis Tionghoa Dan Non Tionghoa Di SMA Mayoritas Etnis TionghoaDownloads  Versi PDF >>>>>>>Klik Disini Artikel terkait skripsi diantaranya : Judul judul skripsi,contoh judul skripsi, contoh skripsi,contoh proposal,download skripsi, proposal skripsi, Kumpulan Contoh skripsi, contoh artikel, contoh makalah,proposal penelitian, karya tulis, judul seminar akuntansi, proposal tentang, beasiswa disertasi, laporan ta, tugas ta, tesis akuntansi keuangan, tesis kesehatan, proposal tesis akuntansi, contoh-contoh tesis, tesis gratis, tesis contoh, contoh bab 1 tugas akhir, kumpulan tugas akhir akuntansi, proposal pengajuan tugas akhir, contoh laporan tugas akhir akuntansi, judul tugas akhir jurusan akuntansi.



Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.