Senin, 29 Desember 2014

Contoh Skripsi Kedokteran:Gambaran Fungsi Paru Pada Pekerja Kilang Padi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan sektor industri di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, peningkatan ini sejalan dengan peningkatan taraf ekonomi Negara. Dengan majunya industri maka terbukalah lapangan kerja buat masyarakat yang dapat meningkatkan taraf ekonomi dan sosial masyarakat. Meskipun perkembangan industri pesat dapat meningkatkan taraf hidup, akan tetapi dampak negatif juga bisa terjadi pada masyarakat. Salah satu dampak negatif adalah terhadap paru para pekerja dan masyarakat disekitar daerah perindustrian. Hal ini disebabkan oleh pencemaran udara akibat proses pengolahan atau hasil industri. Berbagai zat dapat mencemari udara seperti debu batu bara, semen, kapas, asbes, zat-zat kimia, gas beracun, dan lain-lain. Berbagai penyakit paru dapat timbul pada para pekerja tergantung jenis paparan yang terhisap (Yunus, 1997). Tenaga kerja merupakan tulang punggung di bidang industri yang sangat menentukan berhasilatau tidaknya usaha untuk mempertinggi produksi, produktivitas, dan efesiensi kerja, sekalipun faktor modal cukup, material baik mutunya, mesin-mesin yang sempurna tersebut tidak dapat dijalankan oleh tenaga kerja yang memiliki derajat kesehatan yang rendah dan tidak memuaskan. Berdasarkan undang-undang no.1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja dinyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional serta dalam undang-undang no.13 Tahun 2003 pasal 86 ayat 1 tentang ketenagakerjaan menyatakan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama (Pungky, 2003). Di Negara China setiap tahunnya menderita kerugian langsung sebesar 100 miliar yuan (US$ 12,5 miliar) penyakit akibat kerja terutama penyakit paru, menurut wakil Menteri Kesehatan Chen Xiaohong, usia pekerja yang menderita penyakit pneumocomiosis makin lama makin muda, dengan rata-rata usia 40 dan yang termuda berusia 20 tahun, pada tahun 2005. Periode terkena penyakit yang paling cepat tiga bulan, dihitung dari saat pertama kontak dengan debu. Sebagian besar adalah pekerja pedesaan dan buruh, perusahaan-perusahaan di kota kecil serta pekerja di lingkungan perusahaan yang mengandung racun dan berbahaya (Anonim,2007). Di Indonesia, penyakit atau gangguan paru akibat kerja yang disebabkan oleh debu diperkirakan cukup banyak meskipun data yang ada masih kurang. Hasil pemeriksaan kapasitas paru yang dilakukan di Balai HIPERKES dan Keselamatan Kerja Sulawesi Selatan pada tahun 1999 terhadap 200 tenaga kerja di 8 perusahaan, diperoleh hasil sebesar 45% responden yang mengalami restriktif, 1% responden yang mengalami obstruktif dan 1% responden yang mengalami combination (gabungan antara restriktif dan obstruktif) (Irga, 2009). Penyakit paru akibat kerja adalah penyakit atau kerusakan paru yang disebabkan oleh debu, asap, gas berbahaya yang terhirup oleh pekerja di tempat pekerjaan mereka (Mangunnugroho, 1992). Salah satunya penyakit paru akibat debu industri adalah pneumocosis yaitu segolongan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu-debu dalam paru-paru seperti debu asbes, kapas, silika, kayu, timah, padi dan sebagainya. Penyakit paru akibat debu industri mempunyai gejala dan tanda yang mirip dengan penyakit paru lainnya yang tidak disebabkan oleh debu di tempat kerja. Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan anamnesis yang teliti meliputi riwayat pekerjaan dan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, karena penyakit ini biasanya baru tumbuh setelah paparan yang cukup lama. Berbagai faktor berperan pada mekanisme timbulnya penyakit diantaranya jenis, konsentrasi, sifat kimia debu, lama paparan dan faktor individu pekerja. Selain menegakkan diagnosis dan melakukan anamnesis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti uji faal paru dan pemeriksaan radiologi (Yunus, 1997). Debu adalah salah satu komponen yang menurunkan kualitas udara. Akibat terpapar debu, kenikmatan kerja akan terganggu dan lambat laun dapat pula menimbulkan gangguan fungsi paru (Antaruddin, 2003). Alsegaff (1992) menyatakan bahwa debu yang terhirup termasuk debu padi dalam jumlah yang berlabihan oleh saluran pernapasan, menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan dan rasa tidak nyaman pada saat bekerja. Paparan yang tertinggi dengan inhalasi dapat mengakibatkan gangguan pada paru yang bersifat temporer disertai dengan batuk, perasaan tidak nyaman, susah bernapas, napas pendek, dan lama kelamaan dapat berakibat fatal. Kilang padi merupakan lingkungan kerja yang berbahaya bagi tenaga kerja, karena pekerja yang bekerja 8 jam setiap harinya terpajan dengan debu padi. Kilang padi adalah suatu industri rumah tangga yang memproduksi padi menjadi beras dan menghasilkan debu pada saat proses produksinya. Akibat pajanan debu pada ruang produksi, kilang padi tersebut menyebabkan gangguan pernapasan. Resiko gangguan pernapasan akibat kerja tidak hanya mengancam para pekerja , tetapi juga yang bermukim disekitar daerah industri. Pengamatan yang dilakukan oleh Antaruddin di daerah Aceh pada tahun 2003 terhadap pekerja kilang padi menunjukkan bahwa ketika menjelang tua, mereka mengalami batuk-batuk kronis seperti gejala-gejala penyakit paru obstruksi kronis (PPOK). Contoh Skripsi Kedokteran:Gambaran Fungsi Paru Pada Pekerja Kilang PadiDownloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini


Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.