Kamis, 06 November 2014

Skripsi Mechanical Engineering:Perancangan Dan Pengujian Alat Pengering Kakao Dengan Tipe Cabinet Dryer Untuk Kapasitas 7,5 kg Per-Siklus



BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Perubahan cuaca di Indonesia
saat ini bisa dikatakan tidak stabil. Dengan adanya perubahan cuaca yang tidak
menentu ini dapat mengganggu aktivitas para petani di Indonesia khsnya petani kakao dalam
hal proses pengeringan.
Ketersediaan buah cokelat yang ada di
Indonesia belum dapat dimanfaatkan secara
optimal oleh kaum petani, produsen, baik industri kecil, menengah dan sedang, serta masyarakat yang berada pada jalur
produksi cokelat. Padahal biji cokelat di Indonesia memiliki beberapa keunggulan.
Sebagian besar jenis cokelat yang ditanam adalah Criollo. Cokelat merupakan sumber devisa terbesar
ketiga perkebunan mencapai US$701 juta pada tahun 2002 dan pada
tahun 2009 juga terus meningkat sebagai
sumber devisa terbesar di sektor perkebunan. Sejauh ini, pengendalian proses pengolahan biji cokelat juga masih belum
optimal. Salah satu penyebabnya adalah minimalnya
pengetahuan tentang tahap-tahap proses pengolahan biji cokelat dan pengendalian faktor-faktor proses pengolahan
bagi kaum petani, kaum produsen dan masyarakat.
Pengeringan merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan mutu cokelat, di samping proses
pemanenannya karena mutu biji cokelat ditentukan
dari kadar airnya.
Biji cokelat yang masuk ke dalam pengeringan
adalah biji cokelat yang sudah terfermentasi.
Kadar air biji cokelat setelah dipanen masih tinggi yaitu sekitar 51% - 60% ( Susanto ,1994) sehingga memberikan peluang
yang besar untuk cepat membk akibat
adanya pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, dengan adanya pengeringan, dapat mengurangi kadar air
dalam biji. Kadar air biji yang diharapkan
setelah pengeringan adalah 6%, yang
bertujuan untuk memudahkan pelepasan
nibs dari kulitnya, juga mencegah agar tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme pembk sehingga dapat
memperpanjang umur simpan.
Pengeringan biji cokelat terbagi menjadi dua
yaitu sun drying dan artificial drying.
Sun drying memerlukan sinar matahari sebagai sumber energi, sumber panas dan sinar ultraviolet. Pengeringan ini
dilakukan secara terbuka, membutuhkan hembusan
angin yang besar dari udara sehingga pengeringan berlangsung lambat.
Pengeringan
ini mampu menghasilkan warna biji kakao mengkilap, sedangkan pada artificial drying tidak. Namun, pengeringan secara terbuka
menyebabkan rawan kontaminasi dari
udara, debu dan kerikil dari lingkungan sekitar.Selain itu, pengeringan ini dilakukan hanya jika cuaca
memungkinkan. Jika tidak, menggunakan artificial
drying. Pengeringan buatan (artificial drying) menggunakan bahan bakar.
Prinsip kerjanya adalah pemanasan secara
konduksi (penghantaran panas) atau konveksi
(pengaliran panas) yang bertujuan untuk mengurangi kadar air bahan pangan, berbentuk solid . Salah satunya adalah
cabinet dryer. Pada cabinet dryer, pemanasan
dilakukan secara konveksi dan konduksi. Secara konveksi, digunakan aliran udara kering yang mengalir secara
alami. Secara konduksi, digunakan sejumlah tray (wadah penampung biji) secara bertingkat.
Sistem pengering ini menggunakan udara
pengering sebagai medium pemanas biji cokelar. Bahan bakar yang digunakan adalah minyak tanah(kerosin) dan kayu bakar.
Komponen-komponen yang menyn cabinet
dryer tersebut, disesuaikan dengan kapasitas biji cokelat yang masuk dan juga diperhitungkan efisiensi dari sistem pengering
tersebut.
1.2.
Tujuan Masalah 1. Untuk
merencanakan dan merancang alat pengering biji cokelat yang nantinya dapat digunakan oleh para petani cokelat.
2.
Untuk mendapatkan performance alat pengering yang dapat mengeringkan
biji cokelat sesuai dengan Standard
Nasional Indonesia.
3.
Untuk membandingkan hasil dari pengeringan kakao berdasarkan bahan bakar
yang digunakan, yaitu antara kerosin
dengan kayu bakar.
1.3.
Manfaat Perancangan Untuk menghasilkan alat pengering yang dapat
memudahkan petani cokelat pada saat
proses pengeringan biji cokelat jika perubahan cuaca tidak stabil.
1.4.
Batasan Masalah 1. Dimensi dari
alat pengering yang dirancang 2.
Perbandingan berdasarkan bahan bakar kerosin dengan kayu bakar yang
meliputi: a. Distribusi suhu tiap
traypada alatpengering b. Kebutuhan
Air (L/jam) c. Waktu pengeringan (jam) d. Kadar air biji kakao setelah dikeringkan berdasarkan Standard
Nasional Indonesia (%) e. Kebutuhan energi (kJ/kg) f. Kebutuhan bahan bakar (Liter/jam) g. Analisa biaya 1.5. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah
pembaca dalam memahami tulisan ini, maka dilakukan pembagian bab berdasarkan isinya. Tulisan ini
akan disn dalam lima bab, BAB I PENDAHULUAN,
berisi latar belakang, tujuan masalah, manfaat perancangan, dan batasan masalah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA,
berisi landasan teori yang diperoleh
dari literatur untuk mendukung perancangan dan pengujian. BAB III PERANCANGAN ALAT PENGERING, berisi perhitungan perancangan alat pengering. BAB IV PENGUJIAN ALAT PENGERING
berisi tata cara pengujian alat pengering,
peralatan dan perlengkapan yang digunakan serta prosedur kerja dari pengujian yang dilakukan. BAB V DATA DAN
ANALISA, berisi data hasil pengujian,
perhitungan dan analisa terhadap data hasil pengujian. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN, berisi kesimpulan dari
hasil pengujian dan saransaran.

Skripsi Mechanical Engineering:Perancangan Dan Pengujian Alat Pengering Kakao Dengan Tipe Cabinet Dryer Untuk Kapasitas 7,5 kg Per-Siklus

Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.