BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Stres
merupakan salah satu reaksi atau respon psikolog is manusia saat dihadapkan pada
hal-hal yang dirasa telah melampui batas atau dianggap sulit untuk dihadapi.
Setiap manusia mempunyai
pengalaman terhadap stres bahkan sebelum manusia lahir (Smeltzer dan Bare,
2008). Stres normal dialami setiap individu dan menjadi bagian tak
terpisahkan dalam kehidupan.
Stres membuat seseorang
yang mengalaminya berpikir dan berusaha
keras dalam menyele saikan sesuatu permasalahan atau tantangan dalam
hidup sebagai bentuk respon adaptasi untuk tetap bertahan (Potter dan Perry,
2005).
Baru-baru ini
stres selama pelatihan
medis semakin banyak
dilaporkan dalam literatur -literatur yang dipublikasikan. Peneliti an
juga menunjukkan cukup tingginya tingkat stres, yang mengakibatkan gejala
depresi bahkan pikiran untuk bunuh diri pada mahasiswa medis. Selain stres,
keadaan sosial, emosional, fisik dan
juga permasalahan keluarga
dari mahasiswa juga
dapat mempengaruhi kemampuan belajar.
Stres yang berlebihan
dapat mengakibatkan permasalah mental dan
fisik dan dapat
mengurangi rasa harga
diri mahasiswa dan
dapat mempengaruhi prestasi akademiknya. Prevalensi stres
dikalangan mahasiswa kedokteran
gigi telah dilaporkan di b eberapa negara antaranya Amerika Serikat, United Kingdom,
German, Greece, Jordan,
Nigeria, Afrika Selatan, India, Singapura, Malaysia,
Jepang, Australia, dan
West Indies. Penelitian juga melaporkan bahwa
kendala akademik dan
juga faktor -faktor seperti
usia , jenis kelamin, etnitas,
dan status perkawinan
juga dapat mempengaruhi
tingkat keparahan stres pada mahasiswa. (Shah, 2010).
Remaja akhir merupakan tahap
perkembangan yang akan memasuki masa dewasa.
Pada masa ini
remaja mengalami suatu
kondisi yang disebu t
dengan periode “storm &
stress” (Bakrie, 2010). Perubahan
kondisi fisiologis dan perkembangan berupa
peningkatan kadar hormon.
Mengakibatkan mahasiswa labil dalam
menghadapi permasalahan
-permasalahan dalam kehidupannya.
Mahasiswa cenderung
terlihat kuran g berpengalaman
dalam menyelesaikan masalah (Tobroni,
2010). Oleh karena
itu, mahasiswa cenderung
lebih mudah mengalami stres.
Kehidupan bukan hanya sekadar
datang ke kampus, menghadiri kelas, ikut serta dalam ujian, dan kemudian lulus.
Tetapi banyak aktivitas yang terlibat dalam kegiatan akademik.
Bersosialisasi dan menye suaikan
diri dengan teman
sesama mahasiswa dengan karakteristik
dan latar belakang
yang berbeda, mengembangkan bakat
dan minat melalui
kegiatan -kegiatan non
-akademis, dan bekerja untu k
menambahkan uang saku
(Govaerst & Gregoire, 2004). Kondisi tersebut dapat
menjadi stressor bagi
mahasiswa. Pola hidup
yang kompleks ini seringkali menjadi
beban tambahan di
samping tekanan dalam
kuliah yang melelahkan. Masalah
di luar kuliah mau tak mau harus diakui turut mempengaruhi baik dari segi mood,
konsentrasi, maupun prestasi akademik.
Mahasiswa mengalami stres dapat
berdampak positif atau n egatif (Agolla &
Ongori, 2009). Beban stres
yang dirasa berat
juga dapat memicu
seorang remaja untuk berperi laku negative, sep erti merokok, alcohol,
seks bebas bahkan penyalahgunaan NAPZA (Widianti, 2007).
Fakultas kedokteran gigi
diketahui sebagai lingkungan pembelajaran yang meminta tuntutan
yang tinggi dan
penuh dengan tekanan
jiwa ( stressful).
Kurikulum saat ini
menghendaki mahasiswa kedokteran
gigi untuk mencapai bermacam-macam kecakapan/keahlian, termasuk
kemahiran dalam pengetahuan teori, kompetensi
klinik, dan keterampilan
dalam berhubungan dengan
orang orang (interpersonal skill). Telah
banyak penelitian yang dilakukan
di berbagai fakltas kedokteran
gigi di seluruh
dunia dan kebanyakan
dari penelitian ini menunjukkan peningkatan
yang signifikan dari
stres di antara
mahasiswa kedokteran gigi.
Dalam penelitian (Alzahem et all,
2010), ditemukan bahwa sumber stres pada mahasiswa kedokteran gigi berhubungan
dengan ujian, kebutuhan dan syarat klinik,
dan dental supervisor. Pada penelitian
Polychronopoulou dan Divaris, 2005, mengemukakan
bahwa sumber stres
pada mahasiswa kedokteran
gigi berasal dari banyaknya
kul iah, ujian dan
peringkat, kurangnya kepercayaan
diri akan menjadi dokter
gigi yang sukses,
melengkapi syarat kelulusan,
kurangnya waktu untuk mengerjakan
tugas sekolah, dan
kurangnya waktu santai. Menurut (Khalid, 2000), prevalensi
stres di Malaysia pada k edokteran gigi sebesar 89,7%.
Adapun penelitian (Peker et all,
2009), dan (Polychronopoulou & Divaris, 2010), mengemukakan bahwa
tingkat stres yang
tinggi pada dokter
gigi dimulai sejak sekolah
di kedokteran gigi
dan memiliki manifestasi
yang berbeda terga ntung lama pembelajarannya. Berdasarkan
penelitian (Gorter et all, 2008), (Schmitter et all, 2008)
dan (Murphy et all,
2009) menunjukkan bahwa tingkat
stres pada mahasiswa kedokteran
gigi lebih tinggi dibandingkan mahasiswa kedokteran.
Dampak positif
dari stres, berupa peningkatan
kreativitas dan memicu pengembangan diri,
selama stres yang
dialami masih dalam
batas kapasitas individu. Stres
tetap dibutuhkan untuk pengembangan diri mahasiswa (Smeltzer & Bare, 2008).
Predikator control dan
suport mejadi hal y
ang penting untuk mengarahkan mahasiswa
mendapatkan mafaat positif
dari kondisi stres
yang dialami (Gibbon.C., Dempster.M., & Moutray.M., 2011). Respon
stres dari setiap mahasiswa
berbeda. Respon tersebut
bergantung pada kondisi
kesehatan, kepribadian, pen
galaman sebelumnya terhadap
stres, mekanisme koping,
jenis kelamin, dan usia,
besarnya stresor, dan
kemampuan pengelolaan emosi
dari masing-masing individu (Potter & Perry, 2005).
Stres merupakan topik yang
penting dalam kehidu pan akademik termasuk kehidupan sosial. Penel itian
ini melibatkan Mahasiswa
Malaysia Semester I Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas
Sumate ra Utara (FKG
USU) Tahun Akademik 2013/2014 .
Penelitian ini menjadi
penting untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya stres.
Penelitian ini memp ertimbangkan aspek -aspek lain yang berhubungan
dengan stres. Karakteristik
umur dan jenis kelamin menjadi penting untuk
dilibatkan sebagai bagian
yang mempengaru hi karakteristik
stres pada mahasiswa .
Harapan peneliti dengan
dilakukannya penelitian ini
dapa t berkontribusi
terhadap p erkembangan keilmuan melalui manajemen
stres baik terhadap sumber daya
manusia, lingkungan, maupun terhadap pengelolaan sistem pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan
latar belakang yang telah dikemukan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah seperti berikut : Bagaimanakah tingkat stres pada mahasiswa Malaysia
Semester I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Tahun Akademik
2013/2014? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Tujuan umum
penelitian ini adalah
untuk mengetahui tingkat stres
terhadap karakteristik jenis kelamin
dan umur pada mahasiswa Malaysia
Semester I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara Tahun
Akademik 2013/2014.
1.3.2. Tujuan Khusus Tujuan
khusus dari penelitian ini adalah a gar teridentifikasinya gambaran : a.
Tingkat stres pada
mahasiswa Malaysia Semester
I Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
Tahun Akademik 2013/2014.
b. Tingkat stres
pada mahasiswa Malaysia Semester
I Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
Tahun Akademik 2013/2014
berdasarkan jenis kelamin.
c. Tingkat stres
pada mahasiswa Malaysia
Semester I Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
Tahun Akademik 2013/2014
berdasarkan umur.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1.
Manfaat Bagi Universitas Penelitian
ini dapat menjadi
informasi bagi pihak
universitas mengenai permasalahan yang
dihadapi oleh mahasiswa
asing yang menyebabkan
mereka mengalami stres. Selain itu mahasiswa mengetahui konsep terkait
stres, sehingga mahasiswa dapat melakukan penyesuaian yang baik dalam
menghadapi stres dan mampu berusaha untu k menghindari koping yang buruk.
1.4.2. Manfaat Bagi Pengembangan
K eilmuan Penelitian ini dapat
d ijadikan sebagai pedoman
yang dapat disesuaikan
dengan tingkatan stres seseorang dengan menilai respon yang tampak
secara verbal atau non-verbal
dengan mengarahkan individu
kep ada bentuk koping
yang positif.
Mahasiswa laki -laki maupun
perempuan memiliki po tensi yang sama besar dalam menghadapi stres,
sehingga tidak perlu
adanya perlakuan khusus
diantara keduanya.
1.4.3. Manfaat Bagi Peneliti Penelitian
ini digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya terkait dengan
identifikasi tingkat stres dari
segi fisiologis, psikologis,
dan perilaku di kalangan
mahasiswa. Selain itu,
penelitian ini dijadikan
sebagai rujukan dalam menentukan
intervensi kedokteran terhadap
mahas iswa dengan karakteristik stres sebagai
bagian dari kehidupan
maha siswa yang tidak terpisahkan.
0 komentar:
Posting Komentar