BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Imunisasi adalah suatu cara
untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit
infeksi menular (MENKES RI, 2005).
Imunisasi bertujuan untuk
menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat
Dicegah dengan Imunisasi (PD31) (MENKES
RI, 2005).
Program imunisasi nasional
dikenal sebagai Pengembangan Program Imunisasi
(PPI) atau Expanded Program on Immunization (EPI). Program PPI merupakan program pemerintah dalam bidang
imunisasi guna mencapai komitmen
internasional yaitu Universal Child Immunization (UCI) pada akhir 1982. UCI secara nasional dicapai pada tahun
1990, yaitu cakupan DTP3, Polio 3, dan
campak minimal 80% sebelum umur 1 tahun. Sedangkan cakupan untuk DTP1, Polio 1 dan BCG minimal 90% (Ismael
& Hadinegoro, 2011).
Besar cakupan imunisasi dalam
program imunisasi nasional merupakan parameter
kesehatan nasional, semua jenis imunisasi harus mencapai lebih dari 80%. Namun pada kenyataannya, cakupan
imunisasi belum memuaskan (Ismael &
Hadinegoro, 2011).
Menurut laporan CDC yang dikutip
oleh Hadinegoro (2007), beberapa penyakit
infeksi seperti pneumokokus, campak,
rotavirus, Haemophillus influenzae tipe B (Hib), pertusis, tetanus,
dan lainnya; berturut-turut dilaporkan dapat
dicegah/ dihindari melalui upaya imunisasi 26%, 21%, 16%, 15%, 11%, 8%, dan 3%.
Imunisasi dasar telah mencakup
banyak penyakit yang memiliki tingkat infeksi
tinggi di Indonesia, tetapi diperlukan tambahan imunisasi bagi beberapa penyakit yang angka infeksinya juga cukup tinggi (DEPKES RI, 2011).
Pemerintah belum memberikan
pelayanan imunisasi gratis terhadap imunisasi diluar imunisasi dasar, tetapi beberapa
institusi swasta sudah mulai mensosialisasikan
penggunaan imunisasi diluar imunisasi dasar (MENKES RI, 2005).
Menurut penelitian yang dilakukan
pada tahun 2007 di Jawa Barat dan Jawa
Tengah, terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu terhadap pemberian kelengkapan imunisasi. Hasil
analisis antara kelengkapan imunisasi dengan
pendidikan ibu memperlihatkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki proporsi 81,45% untuk
melakukan imunisasi lengkap, sedangkan ibu
dengan tingkat pendidikan rendah memiliki proporsi 58,28% (Lienda Wati, 2007).
Penelitian seperti ini belum
pernah dilakukan sebelumnya di Medan. Oleh sebab itu, melalui penelitian ini, peneliti
ingin mencari bagaimana hubungan tingkat
pendidikan ibu terhadap cakupan kelengkapan imunisasi selain imunisasi dasar pada anak di bawah 1 tahun di Medan .
1.2. Rumusan Masalah Rumusan
masalah dari penelitian ini adalah bagaimana hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap cakupan kelengkapan
imunisasi diluar imunisasi dasar pada
anak di bawah 1 tahun di Rumah Sakit Muhammadiyah Sumatera Utara dan Praktek Pribadi Dokter Anak? 1.3. Tujuan 1.3.1.
Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan cakupan program imunisasi diluar imunisasi dasar pada
anak di bawah 1 tahun di Rumah Sakit
Muhammadiyah Sumatera Utara dan Praktek Pribadi Dokter Anak.
1.3.2. Tujuan Khusus Tujuan
khusus dari penelitian ini adalah melihat peranan tingkat pendidikan ibu terhadap cakupan kelengkapan imunisasi
diluar imunisasi dasar pada anak dibawah
1 tahun di Rumah Sakit Muhammadiyah Sumatera Utara dan Praktek Pribadi Dokter Anak.
1.4. Manfaat 1.4.1. Manfaat Bagi Peneliti Manfaat
yang bisa diperoleh bagi peneliti adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap
cakupan pencapaian imunisasi diluar imunisasi
dasar anak dibawah 1 tahun. di Rumah Sakit Muhammadiyah Sumatera Utara dan Praktek Pribadi Dokter Anak.
1.4.2. Manfaat Bagi Masyarakat Manfaat
yang bisa diperoleh bagi masyarakat adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya
peranan pendidikan ibu terhadap upaya
pencegahan penyakit melalui imunisasi diluar imunisasi dasar anak di bawah 1 tahun sebagai langkah peningkatan
kesehatan anak.
0 komentar:
Posting Komentar