BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Secara farmakologi
kafein mungkin merupakan
zat aktif yang
paling tersering dikonsumsi
di dunia. Zat
ini dapat ditemukan
dalam minuman sehari hari
seperti kopi, teh
dan minuman ringan,
dalam produk-produk yang mengandungi
koko atau cokelat, dan dalam obat-obatan.
Kopi merupakan sumber utama
kafein yang dikonsumsi oleh orang dewasa
di Amerika Syarikat sedangkan minuman
ringan merupakan sumber kafein yang paling sering untuk anak-anak.
Konsumsi kafein
dari minuman ringan
telah meningkat secara
dramatis dalam beberapa dekade
terakhir dan 70%
dari semua minuman
ringan mengandung kafein (Johns Hopkins, 2003).
Rerata konsumsi
kafein diperkirakan sebanyak
76 mg/hari per
orang, namun ada yang melebihi
230 mg/hari di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Ini membuktikan
bahawa kafein merupakan
stimulan susunan saraf
pusat yang dikonsumsi secara meluas di seluruh
dunia. Penggunaan kafein yang tersebar
luas ini telah menjadikannya sebagai
fokus kepada banyak penelitian dalam dekade ini (Peeling & Dawson, 2007).
Kafein merupakan
zat kimia dalam
golongan xantin yang
merupakan perangsang susunan
saraf pusat. Dalam
dosis yang rendah
dan moderat, metilxantin,
khususnya kafein menyebabkan
kebangkitan kortisol dengan meningkatkan
kewaspadaan, perhatian dan
konsentrasi serta mengurangkan kelelahan
(Katzung, 2004). Hal
inilah yang menyebakan
kafein menjadi pilihan para
mahasiswa terutama mahasiswa
kedokteran dalam upaya
untuk meningkatkan kualitas
belajar.
Berdasarkan penelitian oleh Lee
K-H et al (2009), konsumsi kafein untuk tujuan akademik
meningkat apabila mahasiswa
kedokteran melanjutkan kuliah dari
tahun pertama hingga
tahun ketiga. Ternyata,
kafein adalah obat
stimulans yang paling
sering dikonsumsi untuk
tujuan akademik karena
lebih praktis dan mempunyai efek
yang diinginkan untuk
terus waspada dan
energetik dalam pembelajaran.
Konsumsi kafein dengan dosis
antara 100-200 mg per hari dianggap aman, berdasarkan
U.S. Food and
Drug Administration, dosis
yang berlebihan kemungkinan
dapat menyebabkan efek
samping yang tidak
diinginkan. Salah satunya
adalah tremor tangan.
Individual yang mengkonsumsi
kafein dalam jumlah yang banyak, yaitu lebih dari 500 mg
per hari lebih berkemungkinan untuk timbulnya
kejadian tremor (Tythan, 2011).
Tremor dapat didefinisikan
sebagai gerakan bergetar involunter dan ritmis yang disebabkan oleh kontraksi otot berlawanan
secara bergantian yang si nkron dan irregular.
Kualitas ritmis tersebut
yang membedakan tremor
dari gerakan involunter
lain, dan keterlibatan
otot agonis dan
antagonis membedakan tremor dari klonus (Ropper, 2005) 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas
maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah pemberian
kafein dapat menimbulkan
kejadian tremor tangan
pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera
Utara angkatan tahun 2010?
1.3.
Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan
Umum Penelitian ini bertujuan
untuk membuktikan ada
efek kafein terhadap kejadian
tremor tangan pada
mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
angkatan tahun 2010.
1.3.2. Tujuan Khusus Melihat efek
kafein terhadap kejadian
tremor tangan pada
uji tremor tangan menggunakan kertas dan uji tremor
tangan dengan melukis garisan lurus dalam
masa 10 detik dalam kalangan
mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara angkatan
tahun 2010.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Memberikan
informasi ilmiah kepada
masyarakat tentang efek
samping kafein terhadap kesehatan
mereka.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana konsumsi kafein
yang berlebihan dapat mempengaruhi
kualitas kehidupan mereka.
3. Supaya masyarakat lebih berhati-hati dan
mengawal konsumsi kafein seharisehari.
0 komentar:
Posting Komentar