Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:School Refusal Pada Anak Sekolah Dasar



BAB I PENDAHULUAN
I.A.
Latar Belakang Sumber daya manusia yang
berkualitas sangat penting artinya untuk mewujudkan tingkat kehidupan masyarakat yang
lebih baik. Salah satu jalur strategis
yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas itu adalah melalui pendidikan. Hal
ini karena tujuan utama yang ingin dicapai
oleh pendidikan adalah optimalisasi dan aktualisasi potensi manusia.
Pendidikan diharapkan secara
terencana dapat meningkatkan kualitas manusia dalam Ibrahim, 1993).
Pendidikan adalah salah satu hal
yangpenting dalam kehidupan seseorang, yang
berlangsung di sepanjang kehidupan manusia, yang dapat membuat manusia tersebut dalam hal ini khsnya anak didik dapat
menjadi tunas harapan bangsa yang
diharapkan dapat mempertahankan eksistensi bangsa dan menjadi calon kompetitor dalam menghadapi persaingan dimasa
yang akan datang. Dan yang menjadi
sarana pendidikan tersebut salah satunya adalah sekolah (dalam Suryabrata, 1998).
Sekolah adalah salah satu sarana
pendidikan untuk menyempurnakan perkembangan
jasmani dan rohani anak. Peristiwa mulai sekolah merupakan langkah maju dalam kehidupan anak. Peristiwa
ini dapat menjadi suatu peristiwa yang
menegangkan, menakjubkan, yang menakutkan atau yang asing bagi anak (dalam Sukadji, 2000). Sekolah dasar adalah
jenjang paling dasar pada pendidikan formal
di Indonesia.
Sekolah dasar adalah jenjang
sekolah yang wajib diikuti oleh anak mulai dari usia 6 tahun (dalam Rifai, 1993). Sekolah
dasar merupakan landasan bagi pendidikan
selanjutnya dan bahwa siswa sekolah dasar mengalami tingkat perkembangan yang berbeda dari sekolah-sekolah
tingkat selanjutnya (dalam Kumara,
1997). Ketika seorang anak telah mencapai usia sekolah, kehidupan rumahpun telah digantikan dengan kehidupan
sekolah. Sekolah kemudian memiliki arti
yang penting karena dapat menjadi sarana bagi pengembangan prestasi anak. Sebaliknya, sekolah dapat pula
menjadi sumber masalah bagi anak.
Siswa belajar melakukan kontak
sosial di sekolah, melalui permainan dan pergaulannya dengan siswa lain, siswa
diperkenalkan pula pada tatanan yang berlaku
di lingkungannya (dalam Daud, 2003). Pada usia ini anak tidak hanya dituntut untuk mempelajari keterampilan dasar
membaca, menulis dan berhitung, tetapi
juga diharapkan mampu bergaul dengan teman-teman sebaya dan lingkungan sekitarnya dengan cara yang positif
sesuai dengan budaya tempat tinggalnya
yang dapat juga kita sebut sebagai kemampuan bersosialisasi, sesuai dengan tugas perkembangannya (Mubin, 2006).
Siswa sekolah dasar umumnya
berusia 6 sampai 12 tahun. Usia 6 tahun merupakan
usia awal dari masa kanak-kanak akhir, menurut Hurlock (1999) masa kanak-kanak akhir dimulai pada usia 6 tahun
sampai dengan usia 13 tahun pada anak
perempuan dan 14 tahun pada anak laki-laki. Menurut Rifai (1993) masa kanak-kanak akhir merupakan masa sekolah
dasar, yaitu periode perkembangan anak
antara usia 6 sampai 12 tahun.
Anak usia 6 tahun sudah dianggap
matang untuk belajar di sekolah dasar, tapi
ternyata tidak semua anak siap untuk pergi ke sekolah. Anak bisa merasa belum siap walaupun usianya sudah mencukupi
untuk masuk sekolah. Di sekolah terdapat
individu-individu yang belum pernah bersamanya dalam kehidupan keluarga dan belum pernah bergaul dengannya.
Pada awalnya anak mungkin menghadapi
kesulitan dalam beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sekolah.
Tetapi jika ditangani oleh para
pendidikyang baik, kesulitan beradaptasi tersebut dapat diatasi dengan cepat (dalam Mahfuzh,
2001).
Proses mempersiapkan anak kecil untuk
beradaptasi dengan sekolah, termasuk
salah satu proses sosial yang sangat susah dan sekaligus sangat penting.
Proses ini memerlukan kajian yang
mendalam terhadap masing-masing anak dalam
rangka untuk mengetahui iklim disekitar sekolah, mengenali kebutuhankebutuhan
yang riil dan mengamati secara mendalam semua perilaku serta upayanya dalam mengatasi berbagai kesulitan
yang anak dapati di lingkungan keluarga.
Ketika menuju sekolah, seorang anak membawa beban-beban emosional tertentu yang berpotensi menghalangi anak
berangkat ke sekolah. Jika bebanbeban emosional ini dibiarkan, akan menimbulkan
beberapa tingkah laku yang tidak normal,
yang salah satunya adalah school refusal(dalam Mahfuzh, 2001).
School refusal terjadi ketika
anak tidak mau pergi ke sekolah atau mengalami
distres yang berat berkaitan dengan kehadiran di sekolah.School refusaladalah kriteria diagnostik dari
gangguan kecemasan berpisah, kondisi mental
yang dikarakteristikkan oleh ketidaknormalan, kecemasan yang tinggi, berkenaan dengan perpisahan yang sebenarnya
dari orangtua atau individu lain yang
dekat dengan anak (dalam Kahn, 1981). Anak yang mengalami school refusalmerasa tidak nyaman karena perasaan
cemas sehingga mereka dapat kehilangan
kemampuan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan pada berbagai tahap pada masa perkembangan mereka.
Secara spesifik, seorang anak yang
sangat pemalu dan sangat tidak mampu berinteraksi dengan teman sebaya, tidak mungkin belajar bagaimana cara
berinteraksi dengan orang lain (dalam Davison,
2006).
School refusaldapat terjadi
karena adanyakeadaan yang membuat anak menjadi
stress, seperti siblingantar saudara; kematian anggota keluarga, teman dekat atau hewan peliharaan; perubahan di
sekolah, seperti guru baru, kehilangan teman;
perubahan keluarga, seperti perceraian atau pernikahan kembali (dalam Kahn, 1981).
Peneliti mendapatkan beberapa datadari anak
yang merupakan subjek prapenelitian
yaitu A dan B, darihasil wawancara berikut ini : “……Di sekolahku ga’ ada yang baek... ...ga’
mau sekolah, enakan dirumah. Tapi mama
bilang harus sekolah... ... ...ya aku sekolah, biar pintar. Tapi males kali pergi sekolah... ...
...ga’ bisa ketemu mama. Pernah ga’
masuk sekolah lama, enak kali... soalnya bisa jalan-jalan ama mama, papa, kakak... ...disekolah ga’ enak... ...ga’
enak... ...” (A komunikasi personal, 16 Maret 2006) “……Sekolah enak……bisa ketemu temen-temen, tapi
tugasnya banyak.
Kalau ketemu teman-teman bisa main sama-sama...
main kejarkejaran...main...main deh... ... trus bisabelajar bersama... ... kan
kalau saya ga’ tahu bisa tanya ama
temen... ... tapi bukan saat ujian, kalau ujian ga’ boleh tanya-tanya... ... Main samamama dan
kakak di rumah kalau dah pulang sekolah,
kalau ama temen yadi sekolah.…e...dirumah juga, dekat rumah ada temen... ...ya main
juga...tapi kata mama harus siap dulu
Prnya... ... ” (B komunikasi personal,
16 Maret 2006) Perbedaan yang dapat
dilihat dari hasil wawancara di atas adalah anak yang pertama adalah anak yang merasa takut
jika harus sendirian dan berpisah dari
ibu atau orang yang dekat dengannya. Dengan kata lain anak tersebut telah mengalami penolakan terhadap sekolah (school
refusal). Sedangkan anak yang kedua sama
sekali tidak mengalami school refusalkarena anak tersebut terlihat sangat menikmati pergi ke sekolah

Skripsi Psikologi:School Refusal Pada Anak Sekolah Dasar

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.