Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Resiliensi Pada Penderita Kanker Payudara



BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH Kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga
bagi setiap manusia.
Manusia dapat menjalankan
berbagai macam aktivitas hidup dengan baik bila memiliki kondisi kesehatan yang baik pula. Problem
kesehatan yang utama dan sebab-sebab
kematian sekarang ini adalah adanya penyakit-penyakit kronis (Sarafino, 2002). Penyakit kronis yang cukup
sering terjadi pada saat ini adalah kanker.
Kanker adalah penyakit yang tidak mengenal status sosial dan dapat menyerang siapa saja. Kanker muncul akibat
pertumbuhan tidak normal dari selsel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel
kanker dalam perkembangannya. Sel kanker
tumbuh dengan cepat, sehingga sel kanker pada umumnya cepat membesar. Bila sudah memasuki stadium lanjut,
sel-sel kanker ini dapat berkembang dan
menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga bisa menyebabkan kematian (Yayasan Kanker Indonesia, 2005).
Gumawan Achmad, seorang
ginekolog, (Kompas, dalam Hasnida & Lumongga,
2009) menyatakan bahwa dua pertiga dari penderita kanker di dunia berada di negara-negara berkembang seperti
Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Siti Fadilah Supari, dalam
sambutannya ketika membuka Temu Ilmiah Dokter
Bedah Onkologi Indonesia pertama (1st International Scientific Meeting di Indonesia Society of Surgical
Oncologyst/ISSO), bahwa jumlah pasien kanker di Indonesia mencapai 6% dari 200 juta lebih
penduduk Indonesia (Media Indonesia, dalam
Hasnida & Lumongga, 2009). Diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per
tahunnya. Bahkan telah diperkirakan bahwa
menjelang permulaan abad ke-21, peta penyakit di Indonesia akan mendekati peta penyakit di negara maju dimana
penyakit kanker berada pada urutan
ketiga penyebab terjadinya kematian setelah penyakit kardiovaskuler dan kecelakaan (Tambunan, dalam Hasnida &
Lumongga, 2009).
Data dari pemeriksaan patologi di
Indonesia menyatakan bahwa urutan lima besar
kanker adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kelenjar getah bening, kulit dan kanker nasofaring (dalam Hasqa,
2008). Salah satu kanker yang perlu diwaspadai
adalah kanker payudara (carcinoma mammae). Kanker ini menduduki peringkat kedua setelah kanker leher rahim di
antara kanker yang menyerang wanita
Indonesia (BKKBN, 2005). Di Indonesia insiden kanker payudara mencapai 20 orang per 100.000 penduduk. Ini
menjadikan kanker payudara sebagai jenis
kanker yang banyak ditemui pada wanita. (Medicastore, dalam Hasqa, 2008).
Transisi dari wanita yang sehat,
aktif, dan bahagia menjadi seseorang yang menderita kanker payudara serta segala
diagnosa dan treatment dapat terjadi dengan sangat cepat yang memungkinkan
terjadinya beberapa kesulitan penyesuaian
diri (Tavistock & Routledge, 2002). Seperti penyakit kronis lainnya, kanker menimbulkan sejumlah ancaman yang
seringkali semakin parah dari waktu ke
waktu. Pasien-pasien ini mengenali penyakitnya sebagai “real killer”, yang dapat mengakibatkan rasa sakit, cacat, dan
pengrusakan. Pengobatan yang panjang
dan melelahkan akibat penyakit tersebut merupakan stresor traumatik tersendiri bagi diri mereka, sebagaimana
adanya kebutuhan yang berkelanjutan untuk
melakukan pemeriksaan setelah perawatan berakhir, dan kemungkinan dari kambuhnya penyakit tersebut (Bargai, 2009).
Dengan kata lain, diagnosa dan treatment kanker payudara dapat mengubah kehidupan
wanita (Tavistock & Routledge, 2002).
Ada tiga tipe dasar dari
pengobatan kanker payudara, yaitu pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Pembedahan merupakan
pengobatan primer kanker payudara
(Odgen, 2004). Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat sebagian payudara yang mengandung
sel kanker atau pengangkatan seluruh
payudara (mastectomy). Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan
penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi
kesehatan pasien secara umum. (dalam Sarafino, 2006). Pengobatan melalui pembedahan tidak terlepas dari adanya
efek samping. Masalah yang biasanya
muncul pada pasien yang telah melakukan prosedur pembedahan adalah bengkak dan mati rasa di sekitar area payudara
yang telah diangkat (Ricks, 2005).
Seperti yang diungkapkan Ibu Lena
berikut ini: ”Waktu operasi dikoyak sampe kesitu (ketiak) ya, jadi kebas.
Kayak ibu operasi waktu melahirkan aja..kebasnya dua
tahun baru hilang. Ya ini mungkin juga
lama ini. Belum enaklah, belum nyamanlah kalo kita tidur mengimpit sini, terasa dia bawah-bawah ini
masih ada kebas-kebasnya.” (Komunikasi
Personal, Juni 2010) Pembedahan biasanya
diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi. Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan
berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker
yang tidak terangkat saat pembedahan (Odgen, 2004). Meskipun terapi radiasi tidak begitu dirasa sakit, terapi ini
dapat menghasilkan masalah efek samping.
Dikarenakan radiasi mempengaruhi kesehatan dan sel, bagian yang dipengaruhi dapat mengalami iritasi, terbakar,
atau kerontokan rambut. Seseorang dapat
mengalami mual, muntah, hilangnya selera makan, mandul, dan menurunnya fungsi sumsum tulang belakang
(dalam Sarafino, 2006).
Selanjutnya, pada kemoterapi,
pasien menerima obat-obatan yang sangat keras,
biasanya dimakan atau disuntikkan, yang akan beredar ke seluruh tubuh untuk membunuh sel kanker dengan cepat.
Kemoterapi digunakan baik pada tahap awal
ataupun tahap lanjut penyakit (pada saat tidak dapat lagi dilakukan pembedahan). Satu masalah dari kemoterapi ini
adalah bahwa obat-obatan dapat juga
membunuh banyak sel normal dengan cepat, sehingga dapat menghasilkan efek samping yang tidak menyenangkan, termasuk
penurunan imunitas terhadap infeksi,
luka atau nyeri pada mulut, kerontokan rambut, mual dan muntah, dan kerusakan organ internal (ACS; AMA; Williams,
dalam Sarafino, 2006). Seperti yang
diungkapkan Ibu Risa berikut ini: ”Memang lemah kita, kemo tu bikin lemah. Ibu
diawal-awal baru masuk obat, satu minggu
panas..pecah semua mulutnya, tangan ini semua panas, kaki semua panas, kepala panas. Rambut rontok, bulu
mata pun rontok, Mana terakhir-terakhir inilah, hasil kukunya ini..dia hitam
kayak kena bakar gitu.
Hitam kali, hitam
sehitam-hitamnya di tangan sama di telapak kaki. Emang ya ada lemahnya badan kita, tergantung obatnya
juga, tergantung daya tahan tubuh juga.
(Komunikasi Personal, Agustus
2010) Bagi banyak pasien, adanya dua
efek samping dari pengobatan kanker terasa menyulitkan. Pertama, banyak pasien yang
menjalani radiasi dan kemoterapi secara
berulang mengalami kelelahan yang berkepanjangan dan parah yang sering semakin memburuk sesudah pengobatan berakhir
(Cella dkk., 1998; Jacobsen & Thors,
2003 dalam Sarafino, 2006). Kedua, kemoterapi sering menghasilkan periode mual dan muntah selama dan setelah
pengobatan dilakukan; periode ini dapat
menjadi sangat tidak menyenangkan dan memakan waktu yang panjang dimana pasien akhirnya tidak melanjutkan
pengobatan, karena mereka beranggapan
bahwa menjalani pengobatan tersebut dapat memperpendek kehidupan mereka (Carey & Burish, dalam
Sarafino, 2006).
Rasa mual dan muntah sering
menghasilkan dua efek: anticipatory nauseadan learned food aversion. Pada anticipatory
nausea, pasien yang telah menerima sedikit
pengobatan dan obat-obatan akan muntah bahkan sebelum pengobatan dilakukan. Anticipatory nausea dialami sekitar
25 sampai 50% pasien kemoterapi yang
menerima pengobatan secara berulang-ulang (Andrykowski; Carey & Burish, dalam Sarafino, 2006). Pasien kanker
yang menerima kemoterapi atau terapi
radiasi sering melaporkan bahwa mereka tidak dapat merasakan kelezatan makanan yang mereka sukai, karena disertai
dengan gejala mual dan muntahmuntah yang disebut learn food aversion (dalam
Sarafino, 2006).

Skripsi Psikologi:Resiliensi Pada Penderita Kanker Payudara

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.