Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Tahapan Pengambilan Keputusan Menjadi Pekerja Seks Komersial Pada Remaja Putri



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Prostitusi atau pelacuran merupakan profesi
yang sangat tua usianya, setua kehidupan
manusia itu sendiri. Pelacuran berasal dari bahasa latin pro-stituere atau pro-stauree, yang membiarkan diri berbuat
zina, melakukan persundalan, percabulan, dan pergendakan. Pelacuran atau prostitusi
merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat
yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikan. Pekerja seks
komersial (PSK) adalah bagian dari dunia pelacuran yang termasuk dengan istilah WTS
atau wanita tunasusila (Kartono, 2009).
Pekerja seks komersial merupakan
peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan
badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan
pembayaran (Kartono, 2009). Definisi tersebut sejalan dengan Koentjoro (2004)
yang menjelaskan bahwa pekerja seks komersial
merupakan bagian dari kegiatan seks di luar nikah yang ditandai oleh kepuasan
seks dari bermacam-macam orang yang melibatkan beberapa pria, dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai
sumber pendapatan.
Koentjoro (2004) mengatakan bahwa
secara umum terdapat lima alasan yang paling
mempengaruhi dalam menuntun seorang perempuan menjadi seorang pekerja seks komersial diantaranya adalah materialisme, modeling, dukungan orangtua, lingkungan yang permisif, dan faktor ekonomi.
Mereka yang hidupnya berorientasi pada materi akan menjadikan banyaknya jumlah
uang yang dikumpulkan dan kepemilikan
sebagai tolak ukur keberhasilan hidup. Banyaknya pekerja seks komersial yang berhasil mengumpulkan banyak
materi atau kekayaan akan menjadi model
pada orang lain sehingga dapat dengan mudah ditiru. Di sisi lain, seseorang menjadi pekerja seks komersial karena adanya
dukungan orangtua atau suami yang menggunakan
anak perempuan/istri mereka sebagai sarana untuk mencapai aspirasi mereka akan materi. Jika sebuah lingkungan
yang permisif memiliki kontrol yang lemah
dalam komunitasnya maka pelacuran akan berkembang di dalam komunitas tersebut. Selain karena alasan di atas,
terdapat juga orang yang memilih menjadi pekerja seks komersial karena faktor ekonomi, yang memiliki
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
dirinya dan keluarganya untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Seperti yang disampaikan oleh seorang
remaja yang bernama Tika (nama samaran)
yang berusia 18 tahun: “awak jadi kek gini karna buat biaya keluarga mbak buat
kebutuhan hidup. Mau nggak mau dengan
cara gini yang bisa. Dulu sempat juga sih kerja di pabrik roti tapi nggak cukup buat hidup sekarang ini.
Sekali kerja ginian lumayan yang didapat,
kerjanya juga nggak capek dan cepet dapatin duitnya.” (Komunikasi Personal, 10 Maret 2011) Hutabarat,dkk
(2004) dalam penelitiannya menambahkan dua faktor penyebab seseorang menjadi pekerja seks komersial
yaitu, faktor pendorong internal dan faktor pendorong eksternal. Faktor pendorong internal
berasal dari individu seperti, rasa sakit
hati, marah dan kecewa karena dikhianati pasangan. Sedangkan faktor pendorong ekternal berasal dari luar individu
yaitu tekanan ekonomi dan ajakan teman yang sudah lebih dahulu menjadi pekerja
seks komersial.
Pada umumnya pekerja seks
komersial rata-rata berasal dari kalangan remaja putri atau sering disebut Anak
Baru Gede (ABG) yang menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia prostitusi. Hal ini disebabkan
karena adanya faktor permintaan sebagai faktor
yang menarik dan faktor perantara sebagai faktor yang mendorong (Koentjoro, 2004). Banyaknya permintaan dari konsumen
terhadap jasa pelayanan kegiatan seksual
yang dilakukan pada remaja putri sehingga semakin banyak pula tingkat penawaran yang ditawarkan. Para perempuan
biasanya lebih mudah menjadi pekerja seks
komersial karena adanya motif berkuasa, budaya atau kepercayaan seperti hegomoni laki-laki diatas perempuan.
Beberapa kota di Indonesia
memiliki banyak panggilan khs untuk pekerja seks perempuan ABG, seperti di Taksimalaya
dikenal dengan sebutan “anyanyah”, di Yogyakarta
dikenal dengan ciblek atau cilikan betah melek sedangkan di dikenal
dengan istilah bronces atau onces. Di kalangan pekerja seks remaja sendiri, dikenal istilah ‘tubang’ (tua bangka) atau ‘om
senang’ yaitu laki-laki yang umumnya memiliki uang dan mencari jasa palayanan atau service dari
pekerja seks (Radar berita, 2011). Di para pekerja seks komersial biasanya dapat
dijumpain di sejumlah diskotik, karaoke,
tepi-tepi jalan yang menjadi tempat lokalisasai serta di pusat perbelanjaan (Sumut Pos, 2011).
Kajian cepat yang dilakukan
ILO-IPEC pada tahun 2007 memperkirakan jumlah
pekerja seks komersial di bawah 18 tahun sekitar 1.244 anak di Jakarta, Bandung 2.511, Yogyakarta 520, Surabaya
4.990, dan Semarang 1.623. Namun jumlah
ini dapat menjadi beberapa kali lipat lebih besar mengingat banyaknya pekerja seks komersial bekerja di tempat-tempat
tersembunyi, ilegal dan tidak terdata (Topix news, 2008). Berdasarkan hasil survey di
Sumatera Utara ditemukan sebanyak 2.000 anak
yang mengalami eksploitasi seksual sejak 2008 hingga 2010. Jumlah anak-anak yang terjun dalam bisnis pelacuran, semakin
lama terus mengalami peningkatan.
Bahkan, yang terjun dalam praktik
pelacuran, 30 persen di antaranya pelajar SLTP dan 45 persen SLTA (Waspada Online, 2011).
Masa remaja berada pada rentang
usia 13-18 tahun dengan pembagian 13 hingga
16 atau 17 tahun masa remaja awal dan16 atau 17 sampai 18 tahun masa remaja akhir (Hurlock, 2004). Masa remaja
adalah masa peralihan dari masa kanakkanak ke masa dewasa. Peralihan tidak
berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan
lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya.
Pada masa remaja terjadi
perubahan yang besar baik secara fisik, kognitif, emosi maupun sosial (Hurlock, 2004). Rangkaian
perubahan fisik yang dialami remaja
nampak jelas pada perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada masa awal remaja.
Seperti pertumbuhan yang pesat pada anggota
tubuh untuk mencapai proporsi seperti orang dewasa, dimana perubahan yang terjadi pada masa remaja terjadi pada
tinggi, berat badan serta organ seksual (Hurlock,
2004). Pada remaja putri ditandai dengan
menstruasi yang pertama, sedangkan pada
remaja pria ditandai dengan mimpi basah (Santrock, 2002).
Organ-organ seksual yang matang pada remaja
akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan
seksual (Santrock, 2002). Dorongan seksual dimulai dari adanya rasa ketertarikan, berkencan, bercumbu dan
bersenggama (Sarwono, 2010). Remaja mulai
tertarik terhadap lawan jenis yang sifatnya kodrat dialami oleh remaja. Remaja pun mulai ingin berkenalan, bergaul dengan
teman-temannya dari jenis kelamin lain dan
mengenal pacaran. Dalam kondisi demikian, remaja merupakan sosok yang mudah untuk terjerumus kedalam situasi yang
kurang menguntungkan bagi remaja sendiri.
Salah satunya adalah ketika remaja terjebak dunia seks bebas.
Berdasarkan data dari Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
menunjukkan bahwa dari 100 remaja terdapat 51 remaja telah melakukan hubungan seksual dilakukan di Jakarta, Bogor,
Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Selain di Jabotabek, data yang
sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia seperti, di Surabaya remaja yang melakukan
hubungan seks mencapai 54 persen, Bandung
47 persen, dan Yogyakarta 37 persen (Kompas, 2010). Dari hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKN) tahun
2010 menunjukkan bahwa 52 persen remaja
di sudah tidak perawan. Itu artinya,
lebih separuh remaja di ibukota Propinsi
Sumatera ini melakukan seks bebas sebelum menikah (Waspada Online, 16 Februari 2011).

Skripsi Psikologi:Tahapan Pengambilan Keputusan Menjadi Pekerja Seks Komersial Pada Remaja Putri

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.