Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Psychological Well-Being Pada Individu Dewasa Awal Yang Mengalami Kecacatan



BAB I PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang Masalah Kecacatan merupakan
suatu keadaan yang tidak diinginkan oleh setiap individu karena dengan kondisi cacat individu
mempunyai keterbatasan atau hambatan
untuk melakukan aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari. Akan tetapi, siapa yang dapat menolak kehendak Sang
Pencipta terhadap umatNya? Apabila Sang
Pencipta menghendakinya, apapun bisa terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk kecelakaan. Siapa yang
menyangka akan mendapat kecelakaan?
Kecelakaan bisa saja terjadi pada siapa saja dan kapan saja karena kecelakaan merupakan suatu peristiwa spesifik
yang terjadi secara tidak sengaja, tidak
biasa, dan tidak diharapkan yang terjadi pada tempat dan waktu yang tidak ditentukan tanpa penyebab yang disengaja tetapi
ditandai dengan suatu efek (http://en.wikipedia.org/wiki/Accident). Kecacatan yang terjadi secara tiba-tiba (karena kecelakaan) akan menyebabkan perubahan
besar bagi individu apalagi sebelum
mengalami kecacatan individu memiliki kelengkapan fisik yang membuat individu tersebut mampu melakukan
banyak kegiatan dan memiliki kehidupan
yang lebih baik dengan kelengkapan fisiknya serta mampu melakukan tugas-tugas perkembangannya dengan optimal
sebagaimana mestinya tanpa ada hambatan
fisik.
Terutama ketika individu memasuki
masa dewasa awal dengan berbagai tugas
perkembangannya, seperti mulai bekerja, memilih pasangan, membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah
tangga, mengambil tanggung jawab sebagai
warga negara serta mencari kelompok sosial yang menyenangkan (Hurlock, 2004). Individu pada awalnya dapat
memenuhi tugas-tugas perkembangannya ini
namun karena adanya suatu kecelakaan membuat individu tidak lagi mampu memenuhi tugas
perkembangannya dengan maksimal.
Perubahan drastis tersebut,
seperti kecelakaan yang mengakibatkan kecacatan,
terutama pada fisiknya, memberi tekanan psikologis yang sangat besar bagi individu yang mengalaminya. Hal ini
dikarenakan pada awalnya ia memiliki fisik
yang normal, mampu beraktivitas dengan baik, tidak ada hambatan fisik untuk melakukan sesuatu, bekerja, berolah
raga, berlari, dan lain-lain tiba-tiba dihadapkan
pada kondisi cacat yang membuat individu menjadi terbatas untuk melakukan aktivitas sehari-hari, mengurus diri
sendiri, bekerja, dan lain-lain (Burns,
2010).
Reaksi yang banyak timbul
terhadap perubahan drastis yang dialami individu
karena kecelakaan yang mengakibatkan kecacatan cenderung negatif.
Radler (2000) menyebutkan ada
beberapa tahapan yang dialami individu ketika ia mengalami kejadian traumatik yang
menyebabkannya mengalami hambatan fisik, yaitu: 1) shock, yang merupakan suatu keadaan
mati rasa terhadap kejadian; 2) cemas
dan panik terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya; 3) menyangkal (denial) pengalaman trauma yang dialaminya; 4)
depresi karena saat ini ia dihadapkan
pada suatu kejadian yang segala implikasinya; 5) marah dengan apa yang terjadi; 6) perasaan bersalah dan
menyalahkan diri sendiri dan bahkan mencoba
menyerang orang-orang yang berusaha untuk menolongnya; 7) rekognisi intelektual dan berupaya untuk menerima
situasi yang sedang dihadapinya saat ini dan belajar strategi yang dapat dilakukan
dengan perubahan yang dialaminya; 8) tidak
hanya menyadari strategi yang baik tetapi juga memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
UU No. 4/1997 tentang Penyandang
Cacat, Pasal. 1 menyebutkan bahwa penyandang cacat adalah setiap orang yang
mempunyai kelainan fisik dan atau mental,
yang dapat mengganggu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang
terdiri dari : penyandang cacat fisik, penyandang
cacat mental, serta penyandang cacat fisik dan mental (ganda) (http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/uu/1997/04-97.pdf).
Sementara itu, Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO) memberikan definisi kecacatan ke dalam 3 kategori, yaitu:
impairment, disability, dan handicap.
Impairment disebutkan sebagai
kondisi ketidaknormalan atau hilangnya struktur atau fungsi psikologis atau anatomis,
contohnya kelumpuhan dibagian bawah tubuh
yang disertai ketidakmampuan untuk berjalan dengan kedua kaki, sedangkan disability adalah ketidakmampuan atau keterbatasan
sebagai akibat adanya impairment untuk
melakukan aktivitas dengan cara yang dianggap normal bagi manusia, dan dikatakan handicap merupakan
keadaan yang merugikan bagi seseorang
akibat adanya impairment,
disability yang mencegahnya dari pemenuhan peranan yang normal (dalam konteks
usia, jenis kelamin, serta faktor budaya)
bagi orang yang bersangkutan (http://evakasim.multiply.com/journal/item /12/tinjauan_terhadap_kebijakan_integrasi_sosial_penyandang_cacat_ke_dalam_
mainstream_masyarakat_) Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata cacat dapat
diartikan dalam berbagai makna, seperti:
1) Kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang baik atau kurang sempurna (yang
terdapat pada badan, benda, batin atau akhlak);
2) Lecet (kerusakan, noda) yang menyebabkan keadaannya menjadi kurang baik (kurang sempurna); 3) Cela; aib;
4) Tidak (kurang) sempurna (Alwi, 2005.
Dari beberapa pengertian tersebut
di atas, cacat seringkali dikonotasikan dengan
kemalangan, penderitaan atau hal yang patut disesali/dikasihani sehingga seringnya orang-orang yang mengalami kecacatan
dianggap sebagai orang yang lemah, tidak
berdaya, dan membutuhkan pertolongan orang lain. Hal ini dialami oleh Rizky, 25 tahun, yang mengalami kecacatan
akibat penyakit kelainan darah yang
dideritanya: “Yah...ada perasaan gak mampu dan gak bisa ngerjain apa-apa lah
dengan kondisi ku yang kayak gini ini.
Aku kan bisanya di kursi roda aja, gak bisa
kemana-mana, gak bisa ngapa-ngapain...orang-orang itu lah (menunjuk ibu dan saudara sepupunya) yang
ngurus-ngurusin aku semuanya, kayak
mandi, makan, minum obat...semua-semuanya lah...buang air aja aku diurusin karna aku pun
pake kateter ini kan...” (Komunikasi Personal, 5 Maret 2011) Kondisi individu
yang merasa tidak berdaya seperti itu
seringkali mempengaruhi psikologis para
penyandang cacat dan membuat seseorang merasa rendah diri dan tidak mampu lagi melakukan
tugas atau aktivitas mereka seperti dulu
sebelum mereka mengalami kecacatan, merasa tertolak oleh lingkungan karena keterbatasannya untuk melakukan
aktivitas seperti orang yang normal. Hal ini dialami oleh Tony, 53 tahun yang mengalami
kecacatan akibat tergilas dua set roda
kereta yang sedang membawa buldozer: “Sebenarnya, selalu ada orang lain yang
biasanya meragukan kehadiran saya.
Sebelum meninggalkan Selandia Baru untuk melakukan pendakian, banyak orang yang mengatakan saya tidak waras
bahkan untuk memikirkannya saja. Orang
lain mengatakan saya tidak mungkin berhasil melakukannya dan bahkan menyarankan agar saya
tidak usah mencoba.
Para sahabat mengatakan saya
“sangat gila.”” (Dikutip dari Attitude Plus!) Hal ini juga terlihat dari
pernyataan yang diungkapkan oleh Desy (bukan nama sebenarnya), 27 tahun yang mengalami
kecacatan akibat terjatuh pada waktu
balita yang membuatnya harus duduk diatas kursi roda hingga saat ini: ”Sebenarnya
aku malu sama kawan-kawanku karena aku kayak
gini.
Orang itu kan bisa jalan, padahal
aku...aku di kursi roda. Ada pun yang ngejek karena aku kayak gini dan ’ga
bisa kayak kawan-kawanku.

Skripsi Psikologi:Psychological Well-Being Pada Individu Dewasa Awal Yang Mengalami Kecacatan

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.