Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Proses Pengambilan Keputusan Pembuatan Mini Video Pornografi Pada Remaja Yang Berpacaran



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masa
remaja dianggap sebagai
periode “badai dan tekanan”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari
perubahan fisik dan kelenjar, adapun meningginya emosi terutama karena remaja berada di bawah
tekanan sosial dan kondisi baru (Hurlock, 1998).
Sebagian besar remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru
dan harapan sosialyang baru, misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan yang
merupakan masalah pelik pada periode yang berada pada usia 15-18 tahun (Monks, 1996).
Ma`shum &
Wahyurini (2004) menyatakan remaja mengalami suatu perubahan
dalam perkembangan sosialnya, menjalin
hubungan dengan orang lain, seperti berteman, bersahabat, pacaran, yang merupakan perwujudan bahwa
manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Hurlock (1998) menambahkan
membentuk hubungan baru dan lebih matang dengan lawan jenis merupakan tugas perkembangan
pertama yang berhubungan dengan seks dan harus dikuasai oleh remaja. Perkembangan minat
terhadaplawan jenis ini lebih dikenal dengan istilah pacaran dalam masyarakat. Biasanya pacaran
dimulai dari rasa saling tertarikdan sayang antara dua manusia yang kemudian memilih untuk
mengikatkan rasa tersebut secara resmi (persetujuan untuk mejadi pasangan kekasih) diantara pasangan
tersebut atas nama pacaran (Ma’shum & Wahyurini, 2004).
Pacaran merupakan
kelanjutan dari perkenalan
dan diteruskan dengan
hubungan individu terhadap lawan jenis. Jadi di dalam pacaran
ini laki-laki dan wanita saling menjajaki seberapa cocok atau tidaknya mereka berdua, termasuk latar
belakang watak, sifat, pendidikan, dan lain-lainnya.
Pacaran ini melebihi hubungan
sekadar teman, atau teman dekat, namun ini adalah teman paling dekat (Saumiman, 2005).
Pacaran juga seringkali dianggap
sebagai pintu masuk hubungan yang lebih dalam lagi, yaitu melakukan berbagai aktivitas perilaku seksual
seperti touching, kissing, necking, petting hingga sexual intercourse sebagai wujud kedekatan
antara dua orang yang sedang jatuh cinta (De Guzman & Diaz, 1999). Hal ini terungkap dari
komunikasi personal penulis dengan salah seorang pelajar yang masih duduk di kelas 2 SMA yang bernama
Gigo (nama samaran) yang berusia 17 tahun : ”Buatku...yang namanya pacaran itu harus
seneng-seneng...banyak yang bisa dilakuin barengbareng...kan udah suntuk tu
dirumah..jadi ya...bisa lah cium-cium bibir dikit ngobatin suntuk kak...
(Komunikasi Personal, Medan, 03
April 2008) Hanifah (2002) menyatakan
bahwa berbagai banyak aktivitas seksual terjadi tanpa disadari atau direncanakan, hal ini disebabkan oleh tidak
terdapatnya komitmen yang jelas mengenai batasan pacaran yang mendorong individu untuk
melakukan berbagai aktivitas seksual seperti touching, kissing, necking, petting hingga pada
puncaknya melakukan hubungan seksual dengan pacarnya.
Lebih lanjut Hurlock (1998)
memaparkan berbagai alasan melakukan hubungan seksual dalam berpacaran, salah satunya keyakinan bahwa
hubungan seksual dalam pacaran adalah hal yang “harus dilakukan” karena semua orang
melakukannya, bahwa laki-laki dan perempuan yang masih berstatus perawan berarti “berbeda” dan hal
ini menimbulkan rasa rendah diri pada individu tersebut serta perilaku seksual yang seperti
ini merupakan ungkapan dari hubungan yang bermakna memenuhi kebutuhan untuk mengadakan hubungan
yang intim dengan orang lain, sebagai bukti cinta, sayang, dan pengikat hubungan.
Pernyataan ini didukung oleh dua penelitian yang dilakukan Damayanti (2008) yang melibatkan 8.941 pelajar
dari 119 SMU di Jakarta. Hasil yang didapat, 5% pelajar telah melakukan hubungan seksual
pranikah, lebih lanjut penelitian yang dilakukan di Yogyakarta mendapatkan hasil 88,9% responden
di kota pelajar tersebut mengaku pernah melakukan
hubungan seksual pranikah dan 75% diantaranya telah melakukannya lebih dari
sekali.
Hurlock (1998) menyatakan
mempunyai pasangan tetap tidak berarti harus melibatkan rencana untuk masa depan atau berjanji untuk menikah
akan tetapi hal itu sering kali menyebabkan timbulnya alasan untuk melonggarkan
nilai-nilai dengan diperbolehkannyadilakukan bentukbentuk perilaku seksual yang
lebih lanjut. Sebagai buktinya, terdapat salah satu bentuk perilaku seksual yang diterima misalnya, berciuman pada
kencan pertama dan mulai bercumbu pada kencankencan berikutnya. Bagi remaja
masa kini, berkencan dan mempunyai pasangan tetap, prosesnya dianggap terjadi lebih awal dibandingkan
dengan remaja di masa lampau, mereka terlibat dalam keakraban seksual pada usia yang lebih muda
dan bersenggama sudah biasa bagi remaja yang mempunyai pasangan tetap.
Bersenggama atau
melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya, tidak selalu
diawali dengan permintaan lisan tetapi
dengan stimulasi atau rangsangan langsung yang merupakan bagian dari perilaku seksual terhadap pasangan.
Pasangan yang awalnya menolak pada akhirnya bersedia dan menjadi mau melakukannya karena berada
dalam keadaan terangsang. (Hanifah, 2002).
Sebagaimana yang diungkap oleh
Prily (nama samaran) yang berusia 16 tahun berikut ini : ”Ya... mau gimana lagi yah... soalnya kemaren
tulagi sepi dirumahnya... trus... bisa dibilang kebawa sikon (situasi kondisi)... duduknya
deket-deket... trus... mulai dipegang-pegang...
sampe-sampe aku gak kuat lagi
kak...ya udah... mau ajalah aku nge-seks sama pacarku itu...” (Komunikasi Personal, Medan, 05 April 2008) Hanifah (2002) memaparkan alasan mengapa
individu mau menuruti keinginan pacarnya untuk berhubungan seksual, antara lain sebagai bukti
cinta dan sangat mencintai pacar, agar menjadi miliknya sepenuhnya, dorongan seks, ingin
mencoba, takut mengecewakan, takut diputuskan, terbuai rayuan pacar, butuh kasih sayang,
terpengaruh budaya atau gayahidup bebas, takut kehilangan pacar, terlanjur sayang dengan
pacar, dan tidak sadar sepenuhnya. Sebagaimana yang diungkap oleh Prily (nama samaran) yang
berusia 16 tahun berikut ini : ”Sebenernya...Prily
agak-agak takut sih kak awal-awalnya...cuman karena dibujuk-bujuk sama pacar Prily..katanya dia...gak sayang...gak
cinta kalogak buat kayak gitu...jadi ya Prily takut aja pacar Prily putusin Prily kalo Prily gak
turutin maunya dia buat ML (Making Love)...” (Komunikasi Personal, Medan, 04 April 2008) Pada
masa pacaran terdapat
berbagai perilaku yang ditampilkan oleh para remaja untuk menunjukkan rasa cinta masing-masing, baik
dalam tingkah laku yang sangat banyak berkorban dalam hal apapun untuk memenuhi keinginan
pasangan mereka dalam perkataan maupun tindakan, termasuk didalamnya melakukan aktivitas
seksual (Saumiman, 2005).
Fenomena melakukan
berbagai aktivitas seksual dalam
pacaran ini semakin marak, hal ini disebabkan
oleh globalisasi informasi, salah satunya terlihat dari semakin berkembangnya
teknologi di bidang komunikasi dan
informasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran nilai-nilai dari berbagai budaya serta gaya hidupdari berbagai
tempat di dunia. Termasuk kebiasaan dan batasbatas dalam menjalin hubungan
dengan pacar yang tidak sesuai dengan budaya timur yang identik dengan kesopanan(Yuliandini, 2006).

Skripsi Psikologi:Proses Pengambilan Keputusan Pembuatan Mini Video Pornografi Pada Remaja Yang Berpacaran

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.