Di
Indonesia sejak dicanangkan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) pada tahun
1984, kayu akasia telah dipilih sebagai salah satu jenis unggulan untuk ditanam
di areal HTI. Pada mulanya jenis ini dikelompokkan ke dalam jenis-jenis kayu
HTI untuk memenuhi kebutuhan kayu serat terutama untuk bahan baku industri pulp
dan kertas. Dengan adanya perubahan-perubahan kondisional baik yang menyangkut
kapasitas industri maupun adanya desakan kebutuhan kayu untuk penggunaan lain,
tidak tertutup kemungkinan terjadi perluasan tujuan penggunaan akasia (Malik
dan Rahman, 2007).
Pemanfaatan
akasia hingga saat ini telah mengalami spektrum yang lebih luas, baik untuk
kayu serat, kayu pertukangan maupun kayu energi (bahan bakar dan arang).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menunjang perluasan pemanfaatan
akasia dalam bentuk kayu utuh, partikel, serat ataupun turunan kayu Pada
industri kertas, akasia memiliki serat yang lebih baik dibanding pohon-pohon
tropis lainnya, karena tingkat kekakuan yang dimiliki serat akasia tinggi.
Teknologi
pembuatan papan serat dikembangkan selain dalam rangka diversifikasi produk
hasil hutan, juga untuk menyempurnakan sifat kayu sehingga memenuhi persyaratan
teknis penggunaan tertentu. Papan serat secara garis besar dibuat dari serat
yang mengalami perlakuan kimiawi, fisis, dan mekanis. Papan serat yang
akhir-akhir ini dikembangkan adalah papan serat berkerapatan sedang (Medium
Density Fiberboard), pada pembuatan MDF dari akasia dengan proses asetilasi
telah memenuhi standar FAO dan Jepang (JIS) (Sushcland and Woodson,
1986).
MDF (papan serat berkerapatan
sedang), memiliki banyak keunggulan diantaranya yaitu dapat diatur
ketebalannya, dapat dibentuk, dapat bebas cacat (bebas mata kayu), permukaannya
licin dan cukup keras dan tidak ada keteguhan dalam arah panjang dan lebarnya. Secara
konvensional papan serat dapat diproduksi dengan proses kering yaitu dengan
serat-serat ditambahkan perekat, perekat yang digunakan selama ini berdasarkan
formaldehida adalah perekat Urea Formaldehide (UF) dan Phenol Formaldehide
(PF), yang berefek emisi formaldehida. Karena UF dan PF memiliki efek emisi
formaldehida. Kemudian dicoba dengan menggunakan perekat yang non-formaldehida
yang bertipe baru yaitu perekat isosianat. Isosianat yang dipasarkan memiliki
tipe dagang yaitu H3M dan H7.
Isosianat dikenal sebagai diphenylmethane di-isocyanate (MDI)
biasanya digunakan dalam pembuatan produk papan komposit. Perekat ini dipilih
berdasarkan pada kesesuaiannya untuk produk khusus dengan pertimbangan
bahan-bahan yang direkatkan, kadar air saat perekatan, sifat mekanis,
ketahanannya, serta biayanya Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu
dilakukan penelitian tentang kualitas papan serat berkerapatan sedang dari
akasia dan isosianat.
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi sifat fisis dan
mekanis papan serat dari serat akasia dan perekat isosianat dengan tipe yang
berbeda (H3M dan H7).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Memberikan alternatif penggunaan
bahan baku pengganti kayu yang semakin berkurang ketersediaannya.
2. Memberikan nilai tambah dalam
pemanfaatan papan serat dalam industri kayu di Indonesia.
3. Memberikan informasi bahwa pentingnya hasil papan serat
dari kayu jenis HTI.
Hipotesis penelitian ini adalah:
1. Jenis perekat mempengaruhi sifat
fisis (kerapatan, kadar air, daya serap air, pengembangan tebal, siklis) MDF
yang dihasilkan.
2. Jenis perekat mempengaruhi sifat mekanis (keteguhan rekat,
MOR, MOE, kuat pegang sekrup) MDF yang dihasilkan.
Download lengkap Versi Word
Artikel bagus, Pernahkah Anda mendengar LFDS (Le_Meridian Funding Service, Email: lfdsloans@outlook.com --WhatsApp Contact: +1-9893943740--lfdsloans@lemeridianfds.com) adalah ketika layanan pendanaan AS / Inggris mereka memberi saya pinjaman $ 95.000,00 untuk memulai bisnis saya dan saya telah membayar mereka setiap tahun selama dua tahun sekarang dan saya masih memiliki 2 tahun lagi walaupun saya senang bekerja dengan mereka karena mereka adalah Pemberi Pinjaman asli yang dapat memberi Anda segala jenis pinjaman.
BalasHapus