Kamis, 20 November 2014

Download Skripsi Kedokteran:Tingkat Pengetahuan Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten Klaten



BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, terjadi
pula peningkatan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang besar.Namun, pengetahuan yang lama yang mendasar seperti pengetahuan tentang pemberian
ASI dan manfaat menyusui justru
terlupakan. Padahal kehilangan pengetahuan tentang menyusui berarti kehilangan besar, karena menyusui adalah suatu
pengetahuan yang selama berjuta – juta
tahun mempunyai peran penting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Sebenarnya menyusui,
khususnya yang secara eksklusif merupakan
cara pemberian makanan bayiyang alamiah. Namun, seringkali ibu – ibu kurang mendapat informasi tentang
ASI eksklusif. Menyusui tidak saja
memberikan kesempatan yang baik pada bayi untuk tumbuh menjadi manusia yang sehat secara fisik, tetapi juga
lebih cerdas, mempunyai emosional yang
lebih stabil, perkembangan spiritual yang positif dan sosial yang lebih baik (Roesli, 2009).
Pada waktu lahir sampai bayi
berusia beberapa bulan, bayi belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna
sehingga paling tepat diberikan air susu
ibu (ASI). ASI mampu memberikan perlindungan baik secara aktif maupun pasif. Dengan adanya zat
kekebalan ini, bayi ASI eksklusif akan
terhindar dari berbagai macam infeksi atau penyakit (Widodo,2010).
Pemberian ASI secara eksklusif
adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan
cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang,
pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi,
dan tim serta dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan (
Roesli,2009).
Berdasarkan deklarasi Innocenti,
Italia tahun 1990 oleh WHO/UNICEF yang
juga ditandatangani oleh Indonesia memuat tujuan global untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi
secara optimal maka, semua ibu dapat
memberikan ASI eksklusif dan semua bayi diberi ASI eksklusif sejak lahir sampai berusia 4-6 bulan. Pada
tahun 1999, rekomendasi terbaru dari
UNICEF bersama World Health Assembly (WHA) dan banyak negara lainnya menetapkan jangka waktu pemberian ASI
eksklusif menjadi selama 6 bulan
(Roesli, 2009).
Pemberian ASI eksklusif merupakan
salah satu upaya untuk meningkatkan status
gizi balita sekaligus mempercepat penurunan angka kematian bayi sehingga Indonesia dapat mencapai target
Millenium Development Goals 4 (MDGs
4)yaitu, menurunkan angka kematian bayi dan balita menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015. Selain itu, ASI
eksklusif juga dapat mencegah penyakit
seperti diare dan pneumonia, yang menyebabkan 40% kematian balita di Indonesia. Pemberian ASI eksklusif
pada 6 bulan pertama di Indonesia
menurun 40% di tahun 2002 dan 32% pada tahun 2007 (UNICEF,2012) Di Indonesia, terjadi penurunan pemberian air
susu ibu khususnya daerah pedesaan
karena kecendrungan dari masyarakat untuk meniru sesuatu yang dianggap modern dari negara yang telah maju
atau dari kota besar (Suraatmaja, 1997).
Berdasarkan hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2006-2007, data jumlah pemberian ASI
eksklusif pada bayi dibawah usia dua
bulan hanya mencakup 67% daritotal bayi yang ada. Persentase tersebut semakin menurun seiring dengan
bertambahnya usia 2-3 bulan dan pada
bayi usia 7-9 bulan sebanyak 19%. Tahun 2007, angka cakupan ASI eksklusif pada usia 6 bulan di Indonesia hanya
32,3% yang jauh dari rata – rata dunia
yaitu 38% (Roesli,2010).
Kabupaten Klaten adalah kabupaten
pertama di Indonesia sebagai kabupaten
pionir yang memiliki Perda tentang Inisiasi Menyusu Dini dan ASI eksklusif yaitu Perda Nomor 7 tahun 2008.
Kabupaten Klaten merupakan kabupaten
sebagai tempat rujukan dan studi banding bagi daerah lainnya dalam meluncurkan Perda mengenai IMD dan ASI
eksklusif (Pratiwi,2011) Perda Nomor 7 tahun
2008 muncul dengan pertimbangan bahwa air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik dan paling
sempurna bagi bayi karena mengandung zat
gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam pasal 3 dijelaskan tentang maksud
dan tujuan Inisiasi Menyusu ini (IMD)
dan ASI Eksklusif. Serta dalam pasal 5 disebutkan bahwa ASI Eksklusif diberikan kepada bayi sejak bayi
lahir sampai usia 6 (enam) bulan dan
dilanjutkan pemberian ASI sampai anak berusia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai
(Perda,2008).
Berdasarkan data yang diperoleh
dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Provinsi
Jateng tahun 2009, cakupan pemberian ASI Eksklusif hanya sekitar 40,21% sedangkan tahun 2008 sebesar 28,96% dan
2007 sebesar 27,35% (Pratiwi,2011).
Sedangkan berdasarkan data Dari Profil Kesehatan Kabupaten Klaten diketahui bahwa cakupan pemberian ASI
Eksklusif pada tahun 2005 adalah 3,17%,
tahun 2006 adalah 12,3%, tahun 2007 adalah 22,7%, tahun 2008 sebesar 43,4%, tahun 2009 sebesar 60,21%
dan pada tahun 2010 sebesar 76,13%.
Target nasional pencapaian ASI Eksklusif tahun 2010 adalah sebesar 80% (Asriani,2012).
Berdasarkan latar belakang yang
telah penulis uraikan di atas serta menyadari
pentingnya pemberian ASI secaraeksklusif bagi bayi pada umur 0-6 bulan, maka
peneliti tertarik untuk mengetahui
bagaimana tingkat pengetahuan ibu
terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas
kabupaten Klaten.
1.2 Rumusan Masalah 1.
Bagaimana tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di
Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas
Kabupaten Klaten ? 1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum Untuk mengetahui
tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di
Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas
Kabupaten Klaten.
1.3.2 Tujuan Khusus 1.
Untuk mengetahui apakah pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pegetahuan tentang ASI
eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Puskesmas
Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten
Klaten.
2. Untuk mengetahui apakah usiaibu berpengaruh
terhadap tingkat pengetahuan tentang ASI
eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di
Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten
Klaten.
3. Untuk mengetahui apakah Peraturan Daerah
nomor 7 tahun 2008 berpengaruh terhadap
tingkat pengetahuan ibu tentang ASI
eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten Klaten.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1
Bagi Peneliti 1. Melatih penulis mengadakan penelitian
langsung kemasyarakat sehingga penulis
memiliki pengetahuan tentang pentingnya
ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan.
2. Mengetahui bahwa pendidikan ibu berpengaruh
terhadap tingkat pengetahuan tentang ASI
eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di
Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten
Klaten.
3. Mengetahui bahwa usia ibu berpengaruh
terhadap tingkat pengetahuan tentang ASI
eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di
Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten Klaten.
1.4.2 Bagi Ibu Sebagai suatu masukan dan bahan penambahan
wawasan serta pengetahuan bagi para ibu
tentang pentingnya ASI eksklusif pada bayi
usia 0-6 bulan.


Contoh Skripsi Kedokteran:Tingkat Pengetahuan Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Puskesmas Wonosari 1, Desa Wadungetas Kabupaten Klaten

Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.