BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Diabetes
Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon
insulin atau karena penggunaan yang
tidak efektif dari produksi insulin. Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Pada saat sekarang
ini, penyakit DM mengalami peningkatan
prevalensi di seluruh dunia. DM terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunandan
tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80%
prevalensi diabetes melitus adalah DM
tipe 2, ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama
meningkatnya prevalensi DM
(Depkes,2009). World Health Organization (WHO) memperkirakan saat ini lebih dari 220 juta
orang di seluruh dunia menderita diabetes.
Pada tahun 2004, sekitar 3,4 juta orang meninggal dunia akibat tingginya kadar gula darah. Lebih dari 80% kematian
akibat diabetes terjadi di negara dengan
pendapatan rendah sampai menengah (WHO, 2011). WHO juga memprediksi penderita diabetes akan menjadi
sekitar 366 juta orang di seluruh dunia
pada tahun 2030 (Depkes, 2009).
Dari beberapa data hasil
penelitian, tidak ada perbedaan antara negara maju dan negara berkembang dalam peningkatan
prevalensi DM. Dari data yang diperoleh
di Amerika Serikat, sebanyak 10,9 juta orang (26,9%) yang berumur ≥ 65 tahun mengalami DM pada tahun 2010 (CDC,
2011). Badan kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan, tahun 2003 194 juta atau 5,1% dari 3,8 milyar penduduk dunia menyandang diabetes. Jumlah itu bakal
meningkat menjadi 333 juta di tahun 2025
nanti, dan 60% dari jumlah itu berada di Asia. Kemajuan pembangunan ekonomi di Asia mendatangkan
kemakmuran, membuat orang Asia mengalami
perubahan pola makan aktifitas. Hidup jadi lebih mudah dan praktis.
Sehari-hari tidak perlu lagi
berkeringat, sementara makanan melimpah.
Indonesia menempati urutan ke
empat jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika
Serikat (Sam, 2007). Berdasarkan data dari
Depkes yang berasal dari Diabetes Care (2004), pada tahun 2030 diperkirakan akan ada sekitar 21,3 juta pasien
DM di Indonesia (Depkes, 2009).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) nasional tahun 2007, prevalensi
nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi
nasional Obesitas umum pada penduduk usia
>= 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas
sentral pada penduduk Usia ≥ 15 tahun
sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi
memiliki prevalensi diatas nasional.
Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia > 15 tahun di perkotaan
adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai
prevalensi diatas prevalensi nasional. Tiga daerah di Indonesia memiliki tingkat prevalensi diabetes diatas
1,5 persen yaitu Aceh, Jawa Timur, dan
Sulawesi Utara (Riskesdas, 2007).
Peningkatan kasus DM menimbulkan
masalah baru dalam bidang kesehatan. DM
yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya komplikasi dengan penyakit serius lainnya,
diantaranya : jantung, stroke, disfungsi
ereksi, gagal ginjal, dan kerusakan sistem syaraf. Penelitian yang dilakukan oleh Gofur (2007) di unit Diabetes
RSU Dr. Soetomo Surabaya , menemukan
sebanyak 51% penderita DM mengalami komplikasi Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 49% mengalami
komplikasi non PJK. Data dari National
Diabetes Information Clearinghouse (2011) memberikan penjelasan tentang komplikasi DM yang terjadi di Amerika
yaitu: 68% penyebab kematian penderita
DM pada orang berusia ≥ 65 tahun adalah penyakit jantung (2004), 67% penderita DM yang berusia ≥ 20 tahun juga
mempunyai tekanan darah yang lebih dari
normal (2005-2008), dari 28,5% penderita DM yang berusia ≥
40 tahun mengalami diabetik retinopathy (2005-2008),
44% penderita DM mengalami gagal ginjal
(2008), 60%-70% penderita DM mengalami kerusakan sistem syaraf, lebih dari 60% amputasi kaki nontraumatik
dialami oleh penderita DM, 1 dari 3 penderita
DM mengalami penyakit periodontal.
Penderita DM yang mengalami komplikasi tentu
akan membutuhkan pembiayaan yang lebih
besar. Sebuah survei yang dilakukan di Amerika pada tahun 2011 (National Diabetes Information
Clearinghouse, 2011) menyatakan bahwa
biaya jumlah biaya pemeliharaan kesehatan yang dihabiskan oleh penderita DM dua kali lebih besar dibandingkan bagi yang
tidak menderita DM. Selain pembiayaan
yang banyak, kualitas hidup penderita DM tentu akan mengalami gangguan, sehingga ini menimbulkan dampak
terhadap kehidupan para penderita DM.
Untuk mengantisipasi dampak yang
timbul, maka perlu dilakukan pencegahan
terhadap DM. Perubahan gaya hidup dan screening DM yang dilakukan diharapkan dapat mengurangi
prevalensi DM. Rumah Sakit Sri Pamela di
Tebing Tinggi merupakan salah satu Rumah Sakit yang melayani pasien DM.
Dari hasil survei awal yang
dilakukan diperoleh data tentang jumlah kasus DM dalam tiga tahun terakhir. Data berupa jumlah
DM yang menjalani rawat inap di RS Sri
Pamela. Pada tahun 2010 terdapat 106 pasien, pada tahun 2011 terdapat 112 pasien dan pada tahun 2012 terdapat 78
orang pasien. Dari data yang ada dapat
menjadi dasar untuk dapat melakukan pencegahan sehingga tidak terjadi komplikasi.
1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan
masalah penelitian Bagaimanakah profil
penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi tahun 2011-2012? 1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.
Tujuan Umum 1. Untuk mengetahui profil penderita DM tipe 2 di Rumah
Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi tahun
2011- 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui data
karakteristik penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi tahun 2011- 2. Untuk
mengetahui lamanya menderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi tahun 2011- 3. Untuk mengetahui komplikasi penyakit DM tipe
2 di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing
Tinggi tahun 2011- 4. Untuk mengetahui
jenis pengobatan penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Sri Pamela Tebing Tinggi tahun 2011- 1.4.
Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Sebagai kesempatan untuk mengintegrasikan ilmu
yang telah didapat di bangku kuliah
dalam bentuk melakukan penelitian ilmiah secara mandiri 2. Bagi Rumah Sakit Sri
Pamela Tebing Tinggi Menambah informasi kepada RS Sri Pamela tentang profil
penderita DM tipe 2 yang akan menjadi
acuan untuk pencegahan.
0 komentar:
Posting Komentar