Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Proses Pencapaian Makna Hidup Pada Individu Dewasa Awal Yang Mengalami Kebutaan



BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian
diri terhadap pola-pola kehidupan baru
dan harapan-harapan sosial baru. Penyesuaian diri ini menjadikan periode khs dan sulit dari rentang hidup
seseorang (Hurlock, 1980).
Menurut Hurlock (1980) harapan
masyarakat untuk orang-orang dewasa awal cukup jelas digariskan dan telah diketahui
oleh mereka bahkan sebelum mereka mencapai
kedewasaan secara hukum. Tugas-tugas perkembangan masa dewasa awal dipusatkan pada harapan-harapan
masyarakat dan mencakup mendapatkan suatu
pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar hidup bersama suami atau isteri membentuk suatu keluarga, membesarkan
anak-anak, mengelola sebuah rumah
tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok.
Menguasai tugas-tugas pada masa
perkembangan selalu sulit, dan kesulitan ini meningkat apabila ada rintangan yang
menghambat perkembangan seseorang.
Salah satu rintangan yang
menghambat penguasaan tugas-tugas perkembangan individu dewasa awal diantaranya adalah
hambatan fisik. Hambatan fisik menghalangi
seseorang mengerjakan apa yang dilakukan oleh orang lain pada usia yang sama, sehingga dapat menggagalkan
penguasaan tugas-tugas perkembangan sebagian
atau seluruhnya ( Hurlock, 1980) Salah
satu hambatan fisik yang dialami oleh seseorang dapat berupa ketunaan.
Individu yang mengalami
tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa maupun tunalaras semuanya memiliki hambatan dan
kelainan dalam kondisi fisik dan psikisnya
sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perilaku dan kehidupannya (Carolina,Spd , 2006).
Individu yang mengalami tunanetra
adalah individu yang indera penglihatannya
(kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai
saluran penerima informasi dalam
kegiatan sehari-hari seperti halnya orang yang punya penglihatan yang baik. Berdasarkan pada tingkat ketajaman
penglihatan, tunanetra terbagi atas dua
macam yaitu buta dan low vision. Dikatakan buta jika individu sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari
luar. Sementara individu yang low vision
masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21 yang artinya berdasarkan tes
hanya mampu membaca huruf pada jarak 6
meter yang oleh orang berpenglihatan normal dapat membaca pada jarak 21 meter, atau jika hanya mampu membaca
’headline’ pada surat kabar (Somantri, 2005).
Secara ilmiah ketunanetraan dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, apakah itu faktor dalam diri (internal) ataupun faktor
dari luar (eksternal). Hal-hal yang termasuk
faktor internalyaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan,
kemungkinan karena faktor gen (sifat
pembawa keturunan), kondisi psikisibu, kekurangan gizi, keracunan obat, dan sebagainya. Sedangkan hal-hal yang
termasuk faktor eksternal diantaranya faktor-faktor
yang terjadi padasaat atau sesudah bayi dilahirkan. Berbagai faktor eksternal tersebut adalah kecelakaan, terkena
penyakit siphilisyang mengenai matanya
saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga sistem persyarattannya rusak, kurang
gizi atau vitamin, terkena racun, virus
trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, serta peradangan mata karena penyakit, bakteri ataupun virus (Somantri,
2005) Perkembangan fisik yang tidak
normal tentu akan menghambat penyesuaian diri seseorang. Cutsforth (dalam Tarsidi,
2007) mengatakan bahwa ketidakmampuan
menyesuaikan diri pada seorang tunanetra lebih diakibatkan oleh cara masyarakat memperlakukan orang
tunanetra tersebut. Beberapa kesimpulan
yang dapat ditarik dari hasil penelitian mengenai pandangan orang berpenglihatan normal terhadap penyandang
tunanetra adalah bahwa penyandang tunanetra
memiliki beberapa karakteristik, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Beberapa penilaian yang termasuk
negatif memandang bahwa penyandang
tunanetra sebagai suatu ketidakberdayaan, suka tergantung pada orang lain (Somantri, 2005) dan mereka
mengidentikkan kehilangan penglihatan itu
dengan kehilangan segala-galanya (Tarsidi, 2005).
Perasaan dilihat tidak berdaya
dan tidak mampu oleh orang berpenglihatan normal juga diungkapkan oleh kakak perempuan
peneliti yang juga seorang tunanetra.
Ketika di bangku sekolah maupun di perkuliahan, dia dianggap tidak berdaya dan tidak mampu untuk mengikuti
pelajaran yang diberikan. Guru maupun
teman-temannya, walaupun tidak semuanya, menganggap dirinya sebagai sebuah beban. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Murphy (dalam
Somantri, 2005) menunjukkan bahwa pada umumnya para guru (guru umum) cenderung mengesampingkan anak tunanetra.
Sesungguhnya keberadaan dan
kehidupan seorang tunanetra tidak jauh berbeda
dengan anggota masyarakat lain yang berpenglihatan normal (Tarsidi, 2005). Di dalam kesehariannya kakak peneliti
dapat mengurus diri sendiri (seperti makan,
mandi) , mengerjakan pekerjaan rumah tangga (seperti memasak nasi, mencuci piring, memasak sayur), dan dalam
bidang pendidikan dapat mengetik, mengopersikan
komputer sendiri. Ia jugatelah menyelesaikan pendidikan S1 pendidikan bahasa Ingggris dan berharap
melanjutkan pendidikan S2, mendapatkan
pekerjaan yang baik, menemukan pasangan, menikah dan membina keluarga.
Berdasarkan pengamatan
sehari-hari diketahui bahwa individu tunanetra sering menunjukkan karakteristik perilaku
tersendiri yang berbeda dengan orang normal.
Salah satu perilaku yang khas adalah menunjukkan adanya perasaan rendah diri (inferior). Menurut Adler
(Schultz, 1994) perasaan inferiorini selanjutnya akan mendorong seseorang
bertingkah laku mencapai rasa superior.
Perilaku-perilaku khas dan
sifatnya kompensatoris pada individu tunanetra yang sering dijumpai terutama pada usia dewasa
diantaranya ialah pertahanan dirinya yang
kuat. Individu tunanetra cenderung bertahan dengan ide atau pendapatnya yang belum tentu benar menurut penilaian umum
(Somantri, 2005) Perasaan inferior bagi Adler diartikan sebagai perasaan lemah
dan tidak mampu dalam menghadapi tugas
yang harus diselesaikan. Seperti yang terungkap pada wawancara dengan Bunga (bukan nama
sebenarnya), 27 tahun seorang tunanetra
yang buta total: “ saya merasa takut
untuk membantu orang-orang di sekeliling saya yang sedang sibuk ketika mereka meminta saya untuk
membantu mereka... saya takut kalau-kalau
saya malah merepotkan mereka karna buat kesalahan..” (Komunikasi Personal, 18 November 2009) Menurut Hurlock (1980), individu dewasa yang
mempunyai hambatan fisik karena
kesehatannya buruk tidak dapat mencapai keberhasilan maksimum mereka dalam pekerjaan atau pergaulan. Somantri
(2005) mengatakan bahwa tunanetra cenderung
memiliki berbagai kendala baik yang berhubungan dengan masalah pendidikan, sosial, emosi, kesehatan,
pengisian waktu luang, maupun pekerjaan.
Fenomena mengenai kendala sosial
pada individu dewasa yang mengalami tunanetra
adalah kurangnya fasilitas pendidikan seperti sekolah SMU atupun perguruan tinggi khs tunanetra, sehingga
mereka harus berbaur dengan siswa normal
di sekolah atau perguruan tinggi reguler. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan yang terungkap pada wawancara
dengan Tuti (bukan nama sebenarnya), 26
tahun seorang tunanetra yang buta total sejak lahir : ”Sebenarnya salah satu kesulitan terbesar
adalah mengenai interaksi dengan
orang-orang awas....terkadang mereka sering salah paham dan tidak mengerti dengan kebutuhan kami, selain
itu, para guru yang tidak terbiasa
mengajar tunanetra juga menjadi hambatan tersendiri...” (Komunikasi Personal, 31 Oktober2009) Kendala emosi yang sering muncul pada individu
tunanetra adalah perasaan khawatir dan
cemas, sebagai akibat dari ketidakmampuan atau keterbatasan dalam memprediksikan dan mengantisipasi
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lingkungannya.
Sedangkan perasaan iri hati biasanya muncul karena kurang atau hilangnya kasih sayang dari lingkungannya.
Biasanya tunanetra tumbuh dan berkembang
dari reaksi lingkungan terhadap dirinya yang ternyata diperlakukan secara berbeda karena kecacatannya (Somantri,
2005). Seperti yang dikatakan oleh
seorang tunanetra yang mengalami kebutaan sejak lahir dengan nama Lilis (bukan nama sebenarnya), 24 tahun : ”......saya sering merasa cemas, khawatir pada
kemampuan saya dalam mengatasi
permasalahan yang akan muncul dalam dunia kerja...terkadang saya juga sering merasa iri pada teman-teman yang
berpenglihatan...mereka dapat melakukan
segala sesuatu dengan mudah sedangkan saya harus melakukannya dua kali lebih sulit dari mereka...” (Komunikasi Personal, 5 November 2009) Pekerjaan juga merupakan salah satu kendala
yang dihadapi oleh para tunanetra.
Seperti yang terungkap pada wawancara dengan salah seorang tunanetra yang buta total sejak lahir. Bunga
(bukan nama sebenarnya), 26 tahun lulusan
salah satu perguruan tinggi negeri medan: ”sangat sedikit lapangan pekerjaan yang
tersedia bagi tunanetra seperti saya...

Skripsi Psikologi:Proses Pencapaian Makna Hidup Pada Individu Dewasa Awal Yang Mengalami Kebutaan

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.