Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Persepsi Terhadap Pernikahan Pada Wanita Dewasa Dini Yang Berasal Dari Keluarga Bercerai



BAB I PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan kelompok primeryang
terpenting dalam masyarakat.
Hampir semua penduduk di dunia
ini hidup dalam unit-unit keluarga. Setiap individu yang menjalani kehidupan rumah tangga
tentunya mengharapkan rumah tangga yang
bahagia, namun tidak semua kehidupan keluarga berjalan seperti yang diharapkan. dalam masyarakat ditemui juga
rumah tangga yang diwarnai dengan
peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan oleh anggota keluarga. Salah satu contoh dari peristiwa yang tidak
diharapkan ini adalah perceraian (Yf, 2004).
Jumlah perceraian di dunia telah
meningkat selama beberapa dekade terakhir,
khsnya pada era industri yang berkembang. Hasil pengujian Hetherington (dalam Thomas & Grimes, 1994)
menunjukkan hampir 40% pernikahan akan
berakhir pada perceraian dan hampir 40-50% anak-anak akan tinggal dalam keluarga dengan orangtua tunggal.
Buletin The Economist(dalam
Khisbiyah, 1994) menunjukkan bahwa ratarata perceraian tertinggi di negara
industri terjadi di Amerika Serikat, dimana hampir separuh pernikahan berakhir dengan
perceraian. Adapun pada negaranegara Eropa, seperti Inggris, Denmark, dan
Swedia, dua dari lima pernikahan berakhir
pada perceraian, sedangkan di Jepang, satu dari lima pernikahan berakhir pada perceraian.

Fenomena perceraian tidak hanya berlangsung di negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti
Indonesia. Menurut Singarimbun dan
Permore (dalam Khisbiyah, 1994), rata-rataperceraian di Indonesia lebih tinggi dari negara manapun di
Asia. Persentase pasangan bercerai di
Indonesia meningkat setiap tahunnya.
Tahun 2000 persentase perceraian
mencapai 6,9% dari pasangan yang menikah, sedangkan pada tahun 2005 perceraian telah meningkat hingga
mencapai 8,5% (Ditjen PPA, 2008).
Perceraian sendiri dapat
disebabkan olehberbagai hal, salah satunya dapat disebabkan oleh ketidaksetujuan orangtua,
seperti yang dituturkan oleh K berikut ini:
“Mungkin karena latar belakang keluarga bapak, kalo.... Istilahnya kan mamak
itu anak yang paling kecil di keluarga, anak perempuan, jadi udah kek
dijodoh-jodohin gitu. Ya tahulah kalozaman dulu itu enggaknyabisa, kayak zaman sekarang pun enggaknyabisa
dipaksakan kali sebenarnya keinginan
orangtua kan. Jadi karena dariawalnya pun mulanya udahsalah gitu, kedepannya pun udahtetap itu jadi
masalah. Istilahnya karena tidak sesuai
dengan pilihan orangtua, bapak itu jadi bulan-bulanan keluarga mamak gitu. Yang dibilang enggakbecus
kerjalah, bukan orang satu suku lah,
gitu. Lagiandia bukan orang berada gitu”, (Komunikasi personal, 20 April 2008).
Peristiwa perceraian dalam keluargasenantiasa
memberikan dampak yang mendalam baik
kepada pasangan maupun bagianak. Perceraian dapat berdampak positif bagi pasangan dan anak jika perceraian
merupakan satu-satunya jalan untuk
memperoleh ketentraman diri, dengan berlangsungnya perceraian maka situasi konflik, rasa tidak puas dan perbedaan
paham dapat dihindari. Bagi beberapa
keluarga, perceraian dianggap keputusan yang paling baik untuk mengakhiri rasa tertekan, rasa takut, rasa
cemas, dan ketidaktenteraman (Dagun, 2002).
Mead (dalam Dagun, 2002) menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengakhiri suatu pernikahan bila
pernikahan tersebut hanya mendatangkan bencana
dan ketidaktenteraman.
Hampir setengah dari orang yang bercerai
merasa bahwa mereka telah mengakhiri
hubungan yang sulit (Chiriboga & Cutler; Wallerstein & Kelly, dalam Santrock, 1997). Menurut Wallerstein dan Kelly
(dalam Santrock, 1997), banyak orang
yang merasa lega setelah perceraian dan beberapa orang lainnya menganggap perceraian sebagai sebuah
kesempatan untuk pembaharuan atau untuk
berkembang. Menurut Clarke-Stewart & Brentano (2007) perceraian sendiri akan mengakhiri hubungan yang tidak baik antar
pasangan dan memberikan kesempatan untuk
mencari hubungan yang lebih baik lagi.
Sama halnya bagi anak, anak yang di asuh oleh
orangtua tunggal akan lebih baik
daripada anak yang diasuh keluarga utuh namun selalu diliputi rasa tertekan. Hal yang senada juga diungkapkan
oleh Bram (dalam Republika Online, 2006):
“Hidup saya mungkin jauh lebih baik dari
anak-anak lain yang masih ada ayah-ibunya
di rumah, tetapi mereka setiap hari berantem.” Terdapat juga dampak negatif dariperceraian
terhadap pasangan maupun anak. Bagi
pasangan yang bercerai, perceraian menimbulkan ketegangan, karena merupakan salah satu perubahan yang paling
sulit (stressfull) yang dialami seseorang
(Kitzman & Gayord, 2001). Reaksi emosi yang muncul pada orang yang mengalami perceraian adalah depresi,
kehilangan harga diri, marah dan bingung
(Kelly, dalam Santrock, 1997). Reaksi emosi lainnya yang biasanya muncul pada perceraian adalah depresi, yang
termanifestasi dalam berbagai cara, seperti
kurang tidur, fatigue(lelah), kehilangan harga diri, atau peningkatan atau penurunan berat badan (Herman, Kelly, dalam
Santrock, 1997).
Bagi anak, perceraian
memberikanpengaruh yang cukup besar dalam kehidupan mereka. Amato dan Keith(dalam Kail
& Cavanaugh, 2000) menyatakan anak
yang orangtuanya bercerai sering kurang sukses dalam sekolah dan memiliki masalah perilaku dan konsep diri.
Wallerstein & Sara McLanahan dan
Kiernan (dalam Khisbiyah, 1994) menemukan anak dari perceraian sering terlibat dalam kekerasan, penggunaan
obat-obatan dan bunuh diri di usia muda, dan sering keluar dari sekolah, menganggur,
menikah di usia belasan, memiliki anak
sebelum menikah dan akhirnya kembali mengalami kehancuran rumah tangga.
Perceraian juga dapat menimbulkan
perasaan bersalah pada anak. Anak merasa
bahwa perpisahan kedua orangtuanya disebabkan oleh dirinya. Anak juga dapat menjadi bingung dengan
perpisahanorangtuanya, seperti yang diungkapkan oleh Anin (dalam Republika Online, 2006): “Guekadang juga masih suka merasa bingung dan
kehilangan. Guejuga pernah merasa
bersalah apa ini semua karena gue.” Dampak dari perceraian sendiri tidak begitu
saja berakhir pada saat anak sudah
mencapai masa keseimbangan (duatahun setelah perceraian), tetapi perceraian orangtua tetap menorehkan luka
batin yang menyakitkan bagi mereka (Dagun,
2002). Beberapa kasus yang terjadi menunjukkan anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut
untuk menikah. Manda (2007), mengungkapkan
perasaannya mengenai ketakutannya terhadap pernikahan akibat perceraian orangtua: “For me, pernikahan terlihat menakutkan,
karena bagaimana mungkin dua insan yang
saling cinta bisa saling mengkhianati dan rebut-rebutan harta nantinya, padahal dulu paspacaran, pengorbanan
dan kasih sayang jadi momok utama.
Gue tauini rambu-rambu bahaya, karena menikah itu sangat dianjurkan oleh agama yang gueanut,
tapi guejuga gakbisa apaapa, ini dampak dari masa kecil gueyang amburadul.
Jadi, yang bisa gue lakukan cuma berdoa, semoga ada orang baik yang bisa bareng
gue mewujudkan keluarga yang bahagia, dan kalopunorang itu gakbisa, ya gak papa,
at leastbercerailah dengan baik-baik dan sebisa mungkin membahagiakan anak-anak gue, dan kalopun gue gakakan menikah sampai kapan pun, gueudah punya alternatif
lain untuk menyikapinya.” Perceraian juga memiliki dampak yang berbeda
pada anak laki-laki dan anak perempuan.
Dampak perceraian padaanak laki-laki akan tampak pada kehidupan sosialnya. Anak lebih senang
menyendiri dalam bermain, kurang ingin bekerja
sama, kurang teratur, kurang kreatif. Mereka lebih senang mengamati permainan dari pada ikut terlibat dalam
permainan. Anak lelaki juga lebih cenderung
untuk memilih teman yang lebih kecil usianya atau lebih cenderung memilih teman perempuan dari pada teman pria
yang sebaya (Dagun, 2002).

Skripsi Psikologi:Persepsi Terhadap Pernikahan Pada Wanita Dewasa Dini Yang Berasal Dari Keluarga Bercerai

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.