Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Perbedaan Self Confidence pada Siswa yang Aktif dan Tidak Aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa. Manusia mengalami pertumbuhan
secara fisik dan perkembangan menuju tingkatan yang lebih tinggi.
Menurut Hurlock (2002), terdapat
tahapan-tahapan dalam perkembangan manusia yaitu periode pranatal, masa neonatal, masa bayi,
masa kanak-kanak awal, masa kanak-kanak akhir,
masa remaja awal, masa remaja akhir,masa dewasa dini, masa dewasa madya dan masa lanjut usia. Setiap tahapan dalam
perkembangan manusia memiliki tugas perkembangan
pada masing-masing tahapan. Manusia dianggap berhasil dalam setiap tahapan perkembangan ketika individu mampu
melewati tugas perkembangan dalam tahapan
tersebut.
Salah satu tugas perkembangan
manusia berada pada tahapan remaja merupakan masa peralihan menuju kedewasaan, suatu usia dimana
anak tidak merasa bahwa dirinya berada
di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar dengan yang lainnya. Fase remaja
merupakan fase perkembangan yang tengah berada
pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi maupun fisik.
Remaja adalah masa yang penuh dengan
permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan
jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada
saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan
masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson (dalam
Santrock, 1995) masa remaja adalah masa 9
terjadinya krisis identitas atau
pencarian identitas diri, individu dihadapkan dengan temuan siapa mereka, bagaimana mereka
kira-kira nantinya, dan ke mana mereka menuju dalam kehidupannya. Gagasan Erickson ini
dikuatkan oleh Marcia yang menemukan bahwa
ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/
confussion, moratorium, foreclosure, dan
identity achieved(Papalia, 2001). Tahapan remaja terdiri dari remaja awal dan remaja akhir.
Remaja awal berada pada tahap
usia 12-15 tahun, pada usia ini biasanya remaja duduk di bangku SMP. Remaja berusaha untuk menemukan
jati dirinya dengan kata lain individu
mengalami krisis identitas, remaja membutuhkan interaksi dengan orang lain dalam proses pencarian jatidiri, yaitu teman
sebaya, sekolah, orang tua maupun masyarakat.
Bentuk interaksi remaja di sekolah salah satunya dengan mengikuti organisasi yang ada di sekolah. Dalam
kenyataannya untuk berinteraksi maka individu harus mempunyai keberanian atau percaya diri
(self confidence) untuk menjalin interaksi dengan orang lain (Putri & Hadi, 2005).
Self confidence atau percaya diri
itu sendiri menurut Lauster (dalam Sakinah, 2005) adalah sikap positif individu yang memampukan
dirinya untuk mengembangkan penilaian
positif baik terhadap diri sendirimaupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Menurut Afiatin dan Martaniah
(1998), kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian manusia yang berfungsi penting
untuk mengaktualisasikan potensi atau kemampuan
yang dimilikinya.
Self confidenceatau percaya diri
seseorang terkait dengan dua hal yang paling mendasar dalam praktek hidup kita. Pertama,
self confidenceterkait dengan bagaimana seseorang
memperjuangkan keinginannya untuk meraih
sesuatu (prestasi atau 10 performansi). Kedua, self confidenceterkait
dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi
masalah yang menghambat perjuangannya. Orang yang kepercayaan dirinya bagus akan cenderung berkesimpulan bahwa
dirinya “lebih besar” dari masalahnya.
Sebaliknya, orang yang memiliki
rasa percaya diri rendah akan cenderung berkesimpulan bahwa masalahnya jauh lebih besar dari
dirinya. Self confidencedapat dikembangkan melalui interaksi dengan lingkungan
(Iswidharmanjaya, 2004).
Melalui interaksi dengan
lingkungan dan orang di sekitarnya seseorang akan belajar mengenali diri sendiri. Individu akan
memperoleh informasi mengenai dirinya dari interaksi dengan lingkungan dan orang di
sekitarnya tetapi jika tidak ada interaksi dengan lingkungan maka individu tersebut tidak
mengenal dirinya lebih dalam. Penilaian baik
atau buruk yang diterima dari orang lain turut mempengaruhi self confidence seseorang.
Penilaian yang baik oleh orang lain akan menimbulkan self confidencedalam diri seseorang, sebaliknya penilaian yang
buruk oleh orang lain akan menurunkan self confidenceseseorang. Peningkatan self
confidencejuga dapat diperoleh dari sekolah sehingga sekolah turut mempengaruhi self
confidenceatau percaya diri seseorang (Iswidharmanjaya,
2004).
Sekolah memiliki organisasi yang
dapat berpengaruh terhadap peningkatan self confidencesiswa. Menurut Kurnia (2005)
mengikuti Organisasi merupakan salah satu upaya untuk pengembangan diri, melatih
keterampilan berbicara di depan umum. Remaja dapat mengembangkan diri dengan menyalurkan
bakat serta kreativitas yang telah dimilikinya.
Terlibat dalam organisasi jugamerupakan satu upaya yang cukup baik untuk mengasah self confidence, dan mengenali diri
sendiri melalui pergaulan dengan teman sebaya.
Mengasah self confidencedengan berbicara di depan umum juga tidaklah mudah, 11 seseorang
harus mampu menguasai keadaan sehingga tidak terlihat cemas ataupun gugup ketika sedang berbicara di depan orang banyak.
Mengenali diri sendiri dapat dilakukan di sekolah melalui pergaulan dengan teman sebaya.
Menurut Iswidharmanjaya (2004)
mengenali diri sendiri dapat dilakukan di sekolah melalui pergaulan dengan teman sebaya ketika
bergabung dalam organisasi yang ada di sekolah.
Individu berusaha saling mengenali anggota satu sama lain ketika tergabung dalam organisasi di sekolah. Penerimaan dan
perlakuan yang baik oleh teman sebaya akan
menimbulkan rasa percaya diri dalam diri seseorang, sebaliknya penolakan oleh teman sebaya menyebabkan seseorang akan
menarik diri dan merasa bahwa dirinya memiliki
banyak kekurangan sehingga tidak pantas untuk bergaul dengan teman-teman yang lain. Selain pergaulan dengan teman
sebaya, pengalaman juga berpengaruh terhadap self confidence.
Pengalaman merupakan salah
satufaktor yang mempengaruhiself confidence, baik pengalaman berupa keberhasilan maupun
kegagalan. Dari berbagai pengalaman, pengalaman
seseorang dalam berorganisasi dapat membuat seseorang lebih percaya diri untuk mengikuti organisasi. Seseorang yang
telah memiliki pengalaman mengikuti organisasi
cenderung tidak ragu untuk tergabung dalam organisasi di kemudian hari.
Keberhasilan yang didapatkan dari
pengalaman dalam berorganisasi akan memudahkan seseorang untuk mengembangkan self confidencesedangkan kegagalan dalam berorganisasi dapat menghambat pengembangan
self confidencedalam mengikuti organisasi
di sekolah (Iswidharmanjaya, 2004).
Organisasi di sekolah memiliki
beragam kegiatan yang berhubungan dengan orang banyak. Seseorang yang aktif berorganisasi di
sekolah cenderung mempunyai self-12 confidenceyang tinggi. Berdasarkan
faktor-faktor yang mempengaruhi self-confidence adalah orang tua, saudara
sekandung, sekolah, teman sebaya, masyarakat, dan pengalaman. Sekolah memiliki organisasi yang
biasa disebut OSIS (Organisasi Siswa Intra
Sekolah). Siswa melakukan interaksi dengan teman sebaya dalam mengikuti organisasi dimana hubungan dengan teman sebaya
ikut menentukan pembentukan self confidenceseseorang
(Iswidharmanjaya, 2004).

Skripsi Psikologi:Perbedaan Self Confidence pada Siswa yang Aktif dan Tidak Aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.