Jumat, 24 Oktober 2014

Skripsi Psikologi:Perbedaan Self-Directed Learning Ditinjau dari Pola Pembelajaran E-learning



BAB I PENDAHULUAN

A.
Latar Belakang Pada paradigma
lama proses belajar mengajar pada umumnya berlangsung di ruang kelas dan ditandai dengan kehadiran
pendidik di muka kelas. Pendidik memiliki tanggung
jawab penuh terhadap
jalannya proses belajar
mengajar dan bisa dianggap sebagai salah satu sumber daya
paling penting dari sebuah proses belajar mengajar. Sebaliknya pada paradigma baru proses belajar
mengajar harus berfokus pada aktifitas
“belajar” dan bukan pada aktifitas “mengajar” seperti pada paradigma
lama. Para paradigma
baru mahasiswa menjadi
active learner. Oleh karena itu,
mahasiswa harus difasilitasi
sesuai kebutuhannya masing-masing.(Widhiartha, 2008).
Perubahan paradigma
untuk perguruan tinggi
berkaitan dengan konsep pembelajaran,
peran dosen, delivery
system, dan sarana pendukung.
Sementara bagi mahasiswa
perubahan paradigma berkaitan
dengan pembentukan persepsi dan
kebiasaan belajar. Mahasiswa
dituntut untuk bisa
mengontrol, membimbing pembelajarannya secara
sendiri (otonom dan
independent, serta mahasiswa mampu
untuk belajar secara
mandiri (Hardianto, 2007).
Hal ini bisa
dilakukan salah satunya
dengan mengasah kemampuan
self directed learning secara baik agar memungkinkan
mahasiswa untuk menyesuaikan
dan mengontrol cara-cara mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas,
mengembangan keterampilan dengan pengembangan
karakter, serta menyiapkan
mahasiswa untuk bisa
belajar selama seumur hidup mereka (Gibbons, 2002).
Dalam hal ini yang dimaksud
dengan self directed learning adalah suatu peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian
atau pengembangan diri yang dipilih individu dan membuat usaha mereka
sendiri dengan mengunakan metode dan situasi
apapun pada setiap
waktu. Selain itu,
mahasiswa mengontrol atas pengalaman belajarnya,
mampu mengembangkan ketrampilannya dalam pembelajaran, mahasiswa
juga mengubah diri
pada kinerja yang
paling baik, mampu
untuk manajemen diri
dan yang terakhir
adalah motivasi diri
serta penilaian diri (Gibson,
2002).
Self-directed learning
memberikan kesempatan kepada
mahasiwa untuk menentukan tujuan belajar, merencanakan proses
belajar, menggunakan sumbersumber
belajar yang dipilih,
membuat keputusan-keputusan akademis,
dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk
mencapai tujuan belajar.
Self-directed learning merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa pendidikan
jarak jauh atau
pengguna e-learning. Karena
pada pendidikan jarak jauh
atau e-learning merupakan suatu bentuk penyelenggaraan
pendidikan untuk mengatasi keterpisahan
yang hampir permanen
dalam jarak ruang
dan waktu antara
mahasiswa dan dosen.
Penyelenggaraan pendidikan e-learning
ini lebih menitikberatkan pada
penggunaan media dan
sistem belajar yang
lebih banyak menyerahkan kendali pembelajaran kepada
mahasiswa (Seamolec, 2008).
Pendidikan jarak
jauh atau e-learning ini memiliki
definisi yang sangat luas dan cukup banyak dikemukakan dalam
berbagai sudut pandang, namun pada dasarnya
mengarah pada pengertian yang sama. Huruf “e” pada e-learningberarti elektronik,
sedangkan kata learning
sering diartikan dengan
belajar pendidikan (education) atau pelatihan (training).
Jadi, e-learning bisa diartikan pembelajaran dengan
menggunakan media atau
jasa bantuan perangkat
elektronika. Dalam pelaksanakannya, e-learningmenggunakan jasa
audio, video, perangkat komputer atau kombinasi
dari ketiganya yang
dilakukan melalui network (jaringan). Ini berarti dengan
e-learning memungkinkan
tersampainya bahan ajar
kepada mahasiswa menggunakan
media teknologi informasi
dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet atau intranet
(Munir, 2008).
Pembelajaran melalui
e-learning sudah mulai
diterapkan di universitasuniversitas yang
ada di Indonesia,
salah satunya di
Universitas Sumatera Utara (). Kepala
Pusat Sistem Informasi
(PSI) menjelaskan
bahwa konsep pembelajaran
e-learning sudah dijalankan
sejak tahun ajaran
2009/2010, hanya saja
masih banyak dosen
yang belum memanfaatkan fasilitas
e-learning ini.
Beliau juga
menyatakan bahwa hanya
sekitar 10 persen
dosen yang memakai
e-learning (dalam Muslim, 2010).
Salah satu
bentuk e-learning yang dijalankan
di antara
lain adalah pola-pola pembelajaran via e-learningpada program pendidikan strata satu
(S1).
Romiszowski (dalam Naidu, 2006)
menyatakan bahwa e-learningmemiliki empat pola dari e-learningyang digunakan untuk
keperluan pembelajaran. Pertama yaitu individualized self-paced
e-learning online yang
mengacu pada situasi
di mana seorang individu belajar dengan
mengakses sumber belajar melalui
database atau course content online via intranet atau internet.
Kedua adalah individualized self paced
e-learning offline yang mengacu
pada situasi di
mana seorang individu belajar dengan bantuan media
elektonik secara offline. Ketiga
adalah group-based e-learning synchronously
mengacu pada situasi
di mana sekelompok
pelajar bekerja sama
melalui intranet atau
internet. Terakhir group-based
e-learning asynchronously mengacu
pada situasi di mana sekelompok pelajar bekerja melalui intranet
atau internet dan
dalam pertukaran atau
proses pembelajaran antara peserta terjadi dengan adanya jeda waktu
(dalam Naidu, 2006).
Selaras dengan ini
penelitian oleh Duma (2009) terhadap mahasiswa yang
meneliti tentang sikap mahasiswa terhadap pola-pola e-learning. Hasil dari
penelitian ini bahwa
sampel berada di
kategori netral pada
setiap pola pembelajaran
e-learning, yaitu pada pola
pembelajaran individualized self-paced e-learning
online, individualized self-paced
e-learning offline, group-based
elearning synchronously dan
group-based e-learning asynchronously. Sampel berada
dikategori netral dapat
diartikan bahwa mahasiswa
yang tidak memiliki kepercayaan,
perasaan ataupun kecenderungan
perilaku yang terlalu
positif maupun negatif
terhadap pola pembelajaran
e-learning. Hal ini
terjadi karena kurangnya pengalaman para mahasiswa dengan
dunia teknologi sehingga mereka tidak mengemukakan
sikap yang positif
maupun negatif pada
e-learning yang digunakan.
Pada proses
pembelajaran e-learning ini, self-directed
learning sangat bermanfaat
karena dianggap luwes,
tidak mengikat, serta
melatih kemandirian mahasiswa agar tidak tergantung atas kehadiran
atau uraian materi ajar dari dosen (Rusman,
2010).Selain itu, Wedemeyer (dalam Rusman, 2010) menyatakan self directed
learning bisa membantu para
mahasiswa supaya mereka
dapat mengontrol diri
mereka sendiri dalam
pembelajaran dan mempunyai
tanggung jawab dalam
mengatur dan mendisiplinkan dirinya
untuk mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri.
Self-directed learning dapat mengontrol
mahasiswa dalam melakukan pembelajaran dengan menggunakan e-learningsecara mandiri. Mahasiswa dapat mengakses
berbagai referensi dan
bahan belajar yang
disediakan. Tidak ada instruktur ataupun
waktu khs untuk
berdiskusi dengan sesama
peserta didik.
Masing-masing peserta
didik melakukan proses
belajar sesuai dengan kebutuhannya. Pada pembelajaran e-learning sebenarnya
menuntut para mahasiswa untuk
bisa mengontrol, merencanakan
pembelajarannya, memonitor dirinya sendiri serta mengevaluasi dan menilai
dirinya sendiri (Widhiartha, 2008).

Skripsi Psikologi:Perbedaan Self-Directed Learning Ditinjau dari Pola Pembelajaran E-learning

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.