BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Keputusan investasi merupakan pertimbangan
untuk harapan meningkatnya nilai dan
perhatian terhadap memperkecil resiko di masa mendatang. Proses penilaian investasi
memerlukan analisis kinerja yang tepat dengan
data yang akurat. Penilaian kinerja memberi pandangan tentang kondisi kesehatan yang diukur dengan menilai rasio
keuangan.
Analisis fundamental merupakan
metode analisis yang didasarkan pada fundamental
ekonomi suatu perusahaan. Investor dapat
melakukan analisis terhadap laporan
keuangan untuk menilai kinerja keuangan. Rasio keuangan merupakan alat analisis yang seringdigunakan
menggambarkan aspek – aspek fundamental
perusahaan bersifat kuantitatif. Analisis rasio keuangan terdiri dari analisis rasio likuiditas, rasio aktivitas,
rasio profitabilitas, rasio leverage dan analisis saham biasa.
Pasar modal sebagai suatu
instrumen ekonomi, tidak lepas dari berbagai pengaruh lingkungan. Pengaruh lingkungan
ekonomi mikro seperti kinerja perusahaan,
perubahan strategi perusahaan, pengumuman laporan keuangan atau deviden perusahaan, selalu mendapat tanggapan
dari para pelaku pasar di pasar modal.
Selain itu, perubahan lingkungan ekonomi makro yang terjadi, seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito,
kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai
regulasi dan deregulasi ekonomiyang dikeluarkan pemerintah turut berpengaruh pada fluktuasi harga dan volume
perdagangan di pasar modal.
Perkembangan industri manufaktur memicu
perkembangan sektor industri jasa dan
perdagangan. Menurut Faisal Basri (ekonom yang mewakili Kamar Dagang dan Industri), industri manufaktur
memiliki ruang gerak yang luas hingga tahun
2020. Industri tekstil dan produk tekstil yang dianggap sebagai industri yang tidak berprospektif (sunset industry) ternyata menjadi sektor
yang berpeluang mendorong pertumbuhan
industri manufaktur hingga ke level dua digit.
Empat sektor manufaktur dilkan dan layak mendapat intensif seperti diatur dalam revisi PP No. 1/ 2007 tentang
fasilitas PPhuntuk penanam modal di bidang
– bidang tertentu, yaitu serat rayon, industri pengolahan s, kertas berharga, serta sektor tekstil
(www.bisnisindonesia.co.id,2007).
Transformasi sektor pendorong
pertumbuhan perekonomian nasional dari pertanian
ke industri sebenarnya sudah terlihat pada kontribusisektor manufaktur dan jasa pada tahun 2005 yang sudah mencapai
28,1 % terhadap PDB yang meningkat jauh
dibanding 8,5 pada tahun 1968 dan 18,5 % pada tahun 1998 (www.bisnisindonesia.co.id,2007) Aktivitas investasi baik pada sektor industri
manufaktur dan sektor lainnya merupakan
kegiatan yang dihadapkan pada berbagai macam resiko yang sulit diprediksikan oleh investor. Untuk mengurangi
kemungkinan resiko dan ketidakpastian
yang terjadi, investor memerlukan berbagai macam informasi, baik informasi yang diperoleh dari kinerja
perusahaan maupun informasi lain yang relevan
seperti kondisi ekonomi, dan politik suatu negara. Investor penting menganalisis perkembangan kinerja perusahaan
dalam menempatkan pemilihan investasi.
Analisis fundamental merupakan alatyang dapat
membantu untuk menilai investasi.
Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya (Leverage Ratio) akan mempengaruhi besarnya
laba yang akan dibagikan sebagai dividen
kepada para pemegang saham.Semakin tinggi tingkat hutang yang dimiliki, maka beban bunga yang harus
ditanggung juga akan semakin besar. Hal ini
akan menyebabkan keuntungan yang diperoleh semakin kecil, sehingga berpengaruh pada rendahnya dividen yang mampu
dibayarkan kepada pemegang saham. Semakin kecil rasio ini berarti semakin kecil
jumlah pinjaman yang digunakan untuk
membiayai aktiva perusahaan.
Investasi pada sekuritas juga
bersifat liquid (mudahdirubah). Para pemilik modal harus diperhatikan dengan cara
memaksimalkan nilai perusahaan tersebut, nilai perusahaan merupakan ukuran keberhasilan
atas pelaksanaan fungsi –fungsi keuangan.
Penilaian prestasi suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan itu untuk menghasilkan laba. Laba
perusahaan selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi
kewajiban bagi para penyandang dananya
juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan dimasa yang
akan datang. Tingkat profitabilitas perusahaan
dapat diukur dari beberapa aspek, yaitu berdasarkan ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity) dan EPS
(Earning Per Share). Investor juga harus
mencermati rasio nilai buku per saham atau book value per share(BV).
Nilai buku per saham (BV) dapat
mengukur apakah suatu saham sudah kemahalan (overvalued) atau justru terlalu murah
(undervalued).
Nilai pasar saham merupakan harga saham pada
saat penutupan akhir bulan. Nilai pasar
saham sebagai indikator nilai perusahaan dipengaruhi oleh beberapa variabel fundamental yang secara
bersama – sama akan membentuk kekuatan
pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham. Fluktuasi harga pasar saham dapat dipengaruhi faktor seperti faktor
finansial yang meliputi kebijakan perusahaan,
kinerja perusahaan dan lain – lain. Faktor lainnya adalah faktor pasar seperti keadaan ekonomi, variabel mikro dan
makro serta keinginan investor yang melakukan
pembelian ataupun penjualan saham. Harga pasar saham yang dicatat di pasar modal penting dianalisis, sehingga
investor harus mampu menganalisis setiap
faktor yang mempengaruhi perubahan nilai pasar saham. Secara umum ada banyak teknik analisis dalam melakukan
penilaian investasi, tetapi secara umum yang
sering digunakan adalah analisis bersifat fundamental. Analisis teknikal, analisis ekonomi dan analisis rasio keuangan
(Anoraga dan Pakarti, 2006:108).
Tabel 1.1 menyajikan perkembangan
DER, ROA, ROE, BV dan harga saham
perusahaan manufaktur yang go public pada tahun 2005-2008 (dalam rata – rata).
Tabel 1.1 Perkembangan DER, ROA, ROE, BV dan Harga Saham
Perusahaan Manufaktur yang go publicpada
tahun 2005-2008 (dalam rata – rata) Keterangan 2005
2006 2007 2008 DER 2,35x
7,3x 3,86x 3,33x ROA 3,79%
3,76% 4,05% 2,50% ROE 14,72%
4,39% 11,36% 20,90% BV Rp
1.647,89 Rp 1.743,19 Rp 1.726,50
Rp 2.040,92 Harga Saham Rp
2.737,44 Rp 3.177,27 Rp 4.115,13
Rp 4.015,39 Sumber :
www.idx.co.iddan PT. VALBURY (diolah) Tabel
1.1 menunjukkan Debt to Equity(DER) pada tahun 2006 mengalami peningkatan dari 2,35x menjadi 7,3x dengan
harga saham yang mengalami peningkatan
dari Rp 2.737,44 menjadi Rp 3.177,27. Peningkatan Debt to Equity (DER)
menunjukkan kewajiban yang lebih besar,
biasanya diikuti dengan penurunan harga
saham. Kinerja dapat dinilai dari rasio profitabilitas perusahaan, bagaimana tingkat pengembalian yang akan
diperoleh dari aktivitas investasinya.
Return on Assets(ROA) tahun 2006
mengalami penurunan dari 3,79% menjadi 3,76
% serta Return on Equity (ROE) penurunan dari 14,72% menjadi 4,39%.
Penurunan profitabilitas biasanya
berdampak pada penurunan harga saham,
namun tahun 2006, harga saham mengalami peningkatan sekitar 16,07% dari Rp 2.737,44 tahun 2005. Book Value(BV)
mengalami penurunan tahun 2007 sekitar
0,96% dari tahun 2006, harga saham mengalami peningkatan sebesar 29,52% serta peningkatan Book Value(BV) tahun
2008 sebesar 18,21% dari tahun 2007,
namun penurunan pada harga saham sebesar 2,42%.
0 komentar:
Posting Komentar