BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah Pasar modal
adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara
memperjualbelikan sekuritas (Tandelilin,
2001:13). Di antara berbagai instrumen pasar modal, saham merupakan instrumen investasi yang memiliki
tingkat return dan risiko yang tinggi.
Saham merupakan salah satu instrumen yang menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya. Dalam proses investasi
dalam bentuk saham, penilaian atas saham
merupakan kegiatan yang sangat penting.
Penilaian saham yang dapat
digunakan olehpara analis dan investor dalam mengambil kebijakan untuk melakukan investasi
meliputi analisis teknikal dan analisis
fundamental. Alat analisis mengenai penilaian harga saham yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis
fundamental. Salah satu alat analisis fundamental
yang dapat dipergunakan untuk melakukan penilaian saham adalah pendekatan Price Earning Ratio (PER).
Price Earning Ratio menunjukkan
rasio dari harga saham terhadap earningperusahaan.
Rasio ini menunjukkan berapa besar investor menilai harga dari saham terhadap kelipatan dari
earning(Jogiyanto 2003:105). Price Earning Ratio digunakan untuk mengestimasi suatu saham
apakah underpriced atau overpriced.
Price Earning Ratio tersebut dihitung dengan cara membandingkan Price Earning Ratio saham yang sesungguhnya
dengan Price Earning Ratio saham yang
wajar. Jika Price Earning Ratio saham yang sesungguhnya lebih besar dari Price Earning Ratio saham yang
wajar maka disebut overpriced. Dan jika
Price Earning Ratio saham yang sesungguhnya lebih kecil dari Price Earning Ratio saham yang wajar maka disebut
underpriced.
Untuk mendapatkan informasi yang
aktual mengenai Price Earning Ratio diperlukan suatu analisis guna
mengetahuibeberapa variabel yang berpengaruh terhadap harga saham. Dalam menilai saham
dengan Price Earning Ratio, investor dan analis sekuritas diharapkan
memahami faktor fundamental perusahaan
sebagai pedoman untuk menilai Price Earning Ratiosehingga kewajaran harga saham dapat dinilai juga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Price
Earning Ratiodiantaranya adalah Dividend Payout Ratio, Earning Growth, Debt to Equity Ratiodan Return on Equity.
Dividend Payout Ratiomerupakan
proporsi labayang dibagikan dalam bentuk
dividen. Dividend Payout Ratioberpengaruh positif terhadap Price Earning Ratio, yang berarti semakin tinggi
Dividend Payout Ratiomaka akan semakin
tinggi nilai Price Earning Ratio-nya, apabila variabel yang lain konstan.
Earning Growthmenunjukkan prospek
earning perusahaan di masa depan yang bagus,
sehingga pemodal yakin untuk menanamkan modal, yang kemudian akan berpengaruh terhadap tingginya harga saham
perusahaan. Semakin tinggi Earning Growthmaka
nilai Price Earning Ratioperusahaan juga akan semakin tinggi.
Debt to Equity Ratiomerupakan
rasio yang menggambarkan perbandingan antara
total hutang terhadap ekuitas pemegang saham. Semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio, semakin rendah Price Earning
Ratioperusahaan, karena risiko perusahaan
itu akan semakin besar karena perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar beban tetap atas hutang. Demikian
juga dengan Return on Equity, semakin
tinggi Return on Equitymaka akan semakin
tinggi nilai Price Earning Ratio-nya.Return
on Equity yang tinggi mencerminkan peluang pertumbuhan yang baik bagi perusahaan. Ketika perusahaan
mempunyai peluang investasi yang baik,
maka pasar akan menghargainya dengan Price Earning Ratioyang lebih tinggi jika perusahaan mengeksploitasi peluang tersebut secara lebih agresif dengan memasukkan kembali laba dengan tingkat
lebih tinggi.
Indeks LQ45 merupakan indeks yang
terdiri dari 45 saham yang telah terpilih
melalui berbagai kriteria pemilihan, sehingga akan terdiri dari sahamsaham
dengan likuiditas (jumlah hari perdagangan dan frekuensi transaksi) dan kapitalisasi pasar (volume transaksi) yang
tinggi. Saham-saham yang termasuk di dalam
Indeks LQ45 terus dipantau dan setiap enam bulan akan diadakan review (awal Februari dan Agustus). Apabila ada saham
yang sudah tidak masuk kriteria maka
akan diganti dengan saham lain yang memenuhi syarat. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.1 berikut ini: Tabel 1.1 Pergerakan Nilai Indeks dan Volume Perdagangan
Saham Perusahaan LQ45 di Indonesia (Januari 2005 - Juli 2008) Periode
Nilai Indeks LQ45 Volume Perdagangan (dalam lembar saham) Jan-05
227,7236 858.970.096.590 Jul-05 260,8671 3.906.528.214.000 Jan-06
271,6323 486.393.984.104 Jul-06 299,0738 1.097.512.286.277 Jan-07
377,0967 1.750.285.166.000 Jul-07 487,5901 2.983.800.278.200 Jan-08
564,3183 4.682.120.041.270 Jul-08 481,3035 4.003.163.226.743 Sumber: www.duniainvestasi.com (27 Januari
2010, diolah) Sumber : www.duniainvestasi.com (27 Januari 2010,
diolah) Gambar 1.1 : Pergerakan Volume
Perdagangan Saham pada Perusahaan LQ45
di Indonesia (Januari 2005 – Juli 2008) Perusahaan
yang terdaftar dalamIndeks LQ45 mencatat pertumbuhan yang mengesankan dari segi volume perdagangan saham, yaitu dari 858.970.096.590 lembar saham pada Januari 2005
menjadi 4.682.120.041.270 lembar saham
pada Januari 2008. Akan tetapi, volume perdagangan saham Indeks LQ45 mengalami penurunan pada saat terjadi krisis
ekonomi global sepanjang tahun 2008. Hal
ini dapat dilihat dari turunnya indeks LQ45 mencapai posisi 481,3035 dengan volume perdagangan saham yang
mengalami penurunan juga menjadi sebesar
4.003.163.226.743 pada Juli tahun 2008. Pada tahun 2008, sejumlah perusahaan memiliki Price Earning
Ratioyang rendah seperti, AALI (Astra
Agro Lestari Tbk) 5,87 kali, ASII (Astra International Tbk) 4,65 kali, BUMI (Bumi Resources Tbk) 2,50 kali, INCO
(International Nickel Indonesia Tbk)
4,87 kali, UNSP (Bakrie Sumatra Plantations Tbk) 5,67 kali, dan UNTR (United Tractors Tbk) 5,50 kali. Namun, minat
investor untuk melakukan investasi
semakin tinggi terlihat dari volume perdagangan yang terjadi pada saham Indeks LQ45 semakin meningkat dari tahun
ke tahun.
Volume perdagangan diartikan sebagai jumlah lembar saham yang
diperdagangkan pada hari tertentu. Volume perdagangan saham mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan harga saham. Pergerakan
harga saham cenderung naik dan
memberikan return yang besar sehingga
menyebabkan saham tersebut digemari oleh
para investor, dan dengan sendirinya permintaan akan saham tersebut akan tinggi, sehingga menghasilkan
volume perdagangan saham yang aktif.
Berdasarkan Tabel 1.1 dan Gambar 1.1 tersebut dapat dilihat bahwa Perusahaan LQ45 memiliki volume perdagangan
yang fluktuatif (naik atau turun), yang
mengindikasikan bahwa harga sahamnya juga fluktuatif (naik atau turun). Ini berarti, ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi
investor dalam membeli, menjual atau
mempertahankan saham suatu perusahaan.
Harga saham mencerminkan harapan
parainvestor atau pasar terhadap masa
depan suatu perusahaan, maka faktor-faktor yang mempengaruhi harga pasar saham, juga akan berpengaruh terhadap
Price Earning Ratio. Pendekatan lain
dalam menilai harga saham adalahdengan mencari faktor-faktor yang mempengaruhi Price Earning Ratiosecara nyata,
kemudian dibuat suatu model untuk
menilai Price Earning Ratioperusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat dinilai pula kewajaran harga suatu saham
perusahaan (Husnan, 2001:279).
n>z � a g `3 �2 langgan dapat diukur dari
nilai produk, nilai pelayanan dan nilai emosional
(Kotler & Amstrong, 2009: 296).Nilai Produk merupakan perkiraan
konsumen atas seluruh kemampuan produk
untuk memuaskan kebutuhannya sehingga dapat menimbulkan loyalitas konsumen (Kotler & Amstrong, 2009: 297).
Nilai Pelayanan dapat
didefenisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan yang merupakan suatu upaya pemenuhan kebutuhan
dan keinginan konsumen (Kotler &
Amstrong, 2009: 297).
Nilai emosional merupakan
perkiraan yang timbul dari dalam diri konsumen
setelah menggunakan produk atau jasa suatu perusahaan yang dapat berupa perasaan senang ataupun kecewa(Kotler
& Amstrong, 2009: 298).
0 komentar:
Posting Komentar