Minggu, 05 Oktober 2014

Skripsi Arsitektur:Public Library (Iconography)



BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Pada negara
yang sedang berkembang, salah satunya adalah negara Indonesia, kehidupan masyarakat akan mengalami perkembangan ke arah struktur
dan sistem masyarakat yang modern dan
demokratis. Medan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara yang juga merupakan kota terbesar ke-3 di
Indonesia juga mengalami perkembangan pembangunan
yang cukup pesat. Pesatnya perkembangan pembangunan di Kota Medan tidak terlepas dari berbagai masalah yang
membutuhkan penyelesaian secara optimal, salah satunya adalah masalah yang menyangkut masalah
pendidikan. Pendidikan dapat terealisasi jika ada dasar yang kuat untuk mendukung
pembangunan pendidikan kota Medan.
Pendidikan dibentuk dari pengenalan akan
tulisan, pendengaran akan pengajaran, pengajaran moral, pembacaan buku berkualitas dan
pengalaman. Dari kelima pembentukan pendidikan, tiga diantaranya : pengenalan tulisan,
pendengaran pengajaran, pengajaran moral dapat diperoleh dari sekolah. Pengalaman digapai
melalui kehidupan sehari-hari, pribadi lepas pribadi akan berbeda hasilnya. Sedangkan
pembacaan buku berkualitas dapat diperoleh melalui perpustakaan. Ilustrasi ini dibentuk
karena ilmu terbentuk dari pendidikan formal (TK, SD, SLTP, SMU), pendidikan non-formal
(pelatihan, kursus, magang), dan pendidikan informal (belajar, mandiri, membaca). Dan
sumber ilmu itu datangnya dari guru (pendidik, pengajar, instsuktur, penata, pelatih,
superviser, dan lain-lain), buku (buku, majalah, surat kabar, bahan pandang dengar, multimedia
seperti CD ROM, kaset, e-books, dan sebagainya) dan alam (pengalaman, pengamatan).
Kita semua menyadari bahwa kemajuan suatu
bangsa amat bergantung pada kualitas sumber
daya manusianya. Demikian pula dalam upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkualitas tinggi tidak bisa lepas dari
pendidikan. Kegiatan memajukan pendidikan di Indonesia telah dilakukan antara lain melalui
peningkatan pendidikan yang diwujudkan dalam
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pasal 1 menyebutkan, bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. ` Pendidikan di Indonesia masih sangat minim.
Tuna netra pun masih sangat banyak.
Kurangnya pengenalan akan tulisan dan
pendidikan mengakibatkan tidak adanya lapangan kerja dan negara yang miskin sebagai hasil
akhir. Negara yang miskin berpenduduk miskin pula. Penduduk yang miskin juga menghambat
pendidikan. Pendidikan yang berilmupengetahuan
membutuhkan biaya, karena ilmu pengetahuan itu mahal. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah sarana yang murah untuk
memperoleh ilmu pengetahuan tersebut.
Perpustakaan adalah salah satu alternatif
untuk mengatasi masalah tersebut. Perpustakaan dan bahan bacaan adalah dua kata yang saling
bertautan. Karena di perpustakaanlah bahan
pustaka dikumpulkan, diproses, dan disebarluaskan (didistribusikan) kepada para
pembaca/pemakai perpustakaan.
Perpustakaan dewasa ini bukan hanya merupakan
unit kerja yang menyediakan bacaan guna
menambah pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat, tapi juga merupakan bagian yang integral pembelajaran. Artinya,
penyelenggaraan perpustakaan harus sejalan dengan visi dan misi pergerakan kemajuan
negara dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai kurikulum sekolah misalnya, menyelenggarakan kegiatan
yang berkaitan dengan bidang studi,
dan kegiatan penunjang lain, misalnya
berkaitan dengan exhibition langsung
dari buku dalam perpustakaan tersebut Perpustakaan dalam kalangan masyarakat
masih terkesan asing. Masyarakat belum berpendapat
bahwa perpustakaan merupakan gudangnya
ilmu pengetahuan. Mungkin dikarenakan
perpustakaan itu terkesan terlalu formal, buku-buku di dalamnya hanya berisi tentang buku-buku pelajaran sekolah, buku-buku
lama, buku-buku sejarah yang sangat tidak diminati masyarakat khususnya kalangan
anak-anak, remaja dan mahasiswa.
Anak-anak, mahasiswa dan masyarakat umum lebih
senang membaca di toko buku yang maju,
bersih dan mudah diakses transpotasi misalnya toko buku Gramedia walaupun harus membeli buku tetapi masih sangat
diminati kalangan masyarakat. Kegiatan berkunjung ke toko buku juga dijadikan suatu acara rekreasi.
Toko buku dapat dijadikan ajang rekreasi, maka terlebih lagi perpustakaan. Dan dari ini
dapat ditarik kesimpulan sebuah perpustakaan selain kualitas interior, berisi buku-buku
berkualitas, fasilitas-fasilitas dan mendukung jalannya perpustakaan dan ruang-ruangan yang
melengkapi fasilitas tersebut butuh juga kualitas ekstersior. Suatu kualitas eksterior
yang menarik masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan.
Suatu perpustakaan yang dapat menarik semua
lapisan dan golongan masyarakat untuk
dapat menikmati perpustakaan perlu campur tangan arsitek dan insinyur-insiyur lainnya dalam proses pembangunan. Suatu
perpustakaan yang bisa dijadikan sebagai suatu tempat rekreasi. Maka asumsinya dapat berupa
façade yang dapat menarik ketertarikan anak-anak, remaja bahkan mahasiswa butuh
suatu bentuk yang unik, karena itu salah satu daya tarik bagi kalangan muda. Bagi yang masyarakat
umum seperti orang-orang yang sudah bekerja
juga butuh perpustakaan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka juga. Oleh
sebab itu terpikirlah ide tentang ikon
buku yang terbuka. Dan pada zaman global warming ini, sangat diharapkan setiap gedung-gedung
publik/umum memenuhi kriteria ramah lingkungan dan penerapan green building dalam
pengaplikasian teknis dalam gedung rancangannya.
Karena perpustakaan juga harus mewujudkan
misinya dalam membuat kehidupan maunsia menjadi
lebih baik, maka teknis perpustakaan green merupakan alasan yang tepat dan
masuk akal Medan Public Library ini
dibangun. Maka terbentuklah tema bagi perpustakaan yang akan dirancang bertema iconography, dengan
teknis bangunannya yang berkaidah ramah lingkungan.
I.2. Maksud dan Tujuan Maksud :  Menumbuhkan minat membaca
kepada semua kalangan dan lapisan masyarakat.
 Menjadikan perpustakaan yang membudaya di
masyarakat bukan hanya sekedar membaca tetapi juga sebagai sesuatu kebutuhan akan
informasi dan edukasi.


 Memberikan suatu wadah rekreasi dan edukasi
yang positif bagi masyarakat.


Tujuan :  Menciptakan suatu bangunan
rekreasi edukatif yang berwawasan lingkungan, berfungsi sebagaimana mestinya dengan
pertimbangan untuk menarik minat masyarakat
dan mengubah pola pikir masyarakat bahwa perpustakaan itu penting.


 Menambah sarana edukasi masyarakat dan
memasyarakatkan perpustakaan.


I.3. Perumusan Masalah Masalah yang
timbul dari perancangan perpustakaan ini sebagai berikut : a) Permasalahan yang
melekat pada desain seperti sirkulasi, aktifitas, fungsi, kenyamanan, utilitas, keamanan, lighting,
akustik, dan dimensi ruang.
b) Permasalahan fasilitas perpustakaan,
bagaimana mengaplikasikan fasilitas media baru ke dalam perpustakaan seperti mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD,
LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum
untuk mengakses gudang data CDROMdan internet.
c)
Permasalahan facade, bagaimana facade terbaik untuk menarik minat kalangan muda
juga tidak terlepas juga terhadap
kalangan dewasa agar menjadi perhatian publik.
Butuh penggabungan yang seimbang agar tidak
berat sebelah sehingga menjadi penolakan
bagi salah satu kalangan yang seharusnya menjadi sarana umum.
d) Permasalahan lansekap yang connect dengan
tema.
e) Permasalahan penggabungan, bagaimana
penggabungan antara eksterior dan interior yang sejalan agar konsep konsisten terhadap
eksterior maupun interior.
f) Permasalahan tema, bagaimana meletakkan
iconography sebagai ikon dari suatu sarana edukasi layaknya suatu ikon
perpustakaan, dan bagaimana menerapkan kriteria green building ke dalam bangunan yang
bertemaiconography.
I.4. Pendekatan Pendekatan perancangan
dilakukan dengan mempertimbangkan item-item perancangan Medan Public Library
antara lain: a) Ruang dalam b) Ruang luar c) Style bangunan yang berikon
perpustakaan d) Struktur e) Utilitas
(elektrikal, plumbing, akustik, dll) f) Vegetasi Pendekatan diatas harus
mempertimbangkan kaidah ramah lingkungan, dimana sebuah bangunan perpustakaan harus bisa berbicara
kuat untuk membuktikan bangunan tersebut turut menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan yang tercatat
dalam buku-buku di dalamnya.
Pendekatan-pendekatan dalam penyelesain
masalah pada perancangan dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:  Studi literatur dengan
mempelajari permasalahan tentang perpustakaan dan masalah tentang utilitas ramah lingkungan yang ada
serta pemecahan masalah berdasarkan referensi-referensi
yang dianggap relevan dan mendukung dalam proses perancangan seperti buku panduan, standar bangunan maupun
standar keselamatan pada bangunan sesuai
dengan fungsi proyek dan kelayakannya.
 Studi banding tentang perpustakaan yang ramah lingkungan dengan
melakukan pendekatan permasalah
dan fungsi bangunan yang memiliki kesamaan dalam proyek sejenis maupun tema dalam judul proyek ini
yang diambil dari berbagai sumber seperti
buku, internet, media cetak lainnya, dan sumber-sumber yang dianggap penting.
 Survey lapangan dalam pemilihan lokasi
dengan menganalisa potensi-potensi yang ada
pada lingkungan sekitar.
 Mendapatkan informasi dari instansi-instansi
terkait untuk memperoleh data yang dibutuhkan untuk mendukung kelayakan studi
proyek, baik dengan instansi pemerintah
maupun swasta.
I.5. Lingkupan Bahasan Masalah perancangan
yang timbul dibatasi pada:  Kompleksitas
bangunan yang membutuhkan analisa yang mendalam tentang tema, kenyamanan tiap ruangan, pembagian ruangan,
sirkulasi, program ruang, dan aktifitas terpadu.


 Pengorganisasian
ruang berdasarkan kegiatan, fungsi, dan pemakai.


 Perancangan sistemakustik ruang dan lighting
yang baik dalam penerapan material dan desain ruangan.
 Pemilihan sistem
struktur ramah lingkungan yang efisien yang dapat menahan beban sekaligus menghasilkan bentukan desain yang
berikon perpustakaan.
I.6. Asumsi – Asumsi  Perpustakaan diasumsikan dapat menarik minat
membaca semua kalangan maupun lapisan masyarakat agar mereka tahu betapa pentingnya
pendidikan itu, dan betapa sudah majunya dunia.


 Kendalaan pembebasan penggunaan lahan tidak
menjadi kendala.



Perpustakaan diasumsikan dapat membuka wawasan anak bangsa dan
meningkatkan kualitas bagi mereka
yang sudah bekerja maupun yang sudah berkeluarga.


 Pengetahuan tentang ramah lingkungan nyata
dapat dirasakan masyarakat.




Masyarakat diasumsikan dapat mendapat suatu sarana rekreasi yang
edukatif.




Skripsi Arsitektur:Public Library (Iconography)

Download lengkap Versi PDF >>>>>>>KLIK DISINI







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.