BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pengelolaan bahan
buangan (limbah) adalah
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang
meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan dan pengendalian
lingkungan hidup (UU.
RI No.23/1997). Dengan
adanya kegiatan peningkatan
produksi pertanian, mengandung
resiko pencemaran limbah
padat berupa bahan
buangan (limbah) tandan
kosong kelapa sawit.
Minimalisasi limbah tandan
kosong kelapa sawit
dengan pemanfaatan menjadi
suatu produk dapat mengurangi
beban pencemaran lingkungan.
Secara nasional terdapat sekitar
205 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di
Indonesia dimana sekitar
86 persen berada
di luar Jawa.
Produksi tandan buah
segar (TBS) tahun
2004 diperkirakan mencapai
53,8 juta ton
dan limbah padat
organik berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebesar 12,4
juta(Dirattanhun, 2008).
Seperti halnya
biomassa pada umumnya,
tandan kelapa sawit
memiliki kandungan polisakarida
yang dapat dikonversi menjadi produk atau senyawa kimia yang dapat digunakan
untuk mendukung proses
produksi sektor industri
lainnya. Salah satu polisakarida yang
terdapat dalam tandan
kosong kelapa sawit
adalah pentosan, dengan
persentase sebesar 25,90%
(Purwito dan Firmanti,
2005). Kandungan pentosan
yang cukup tinggi
tersebut memungkinkan tandan
kosong kelapa sawit untuk
diolah menjadi furfural. Selain tandan kosong kelapa sawit , bahan baku lain yang dapat digunakan untuk memproduksi furfural
adalah : tongkol jagung, sekam padi, kayu, rami dan sumber lainnya yang
mengandung pentosan.
Furfural memiliki aplikasi yang
cukup luas dalam beberapa industri dan juga dapat
disintesis menjadi turunan-turunannya seperti
: Furfuril Alkohol, Furan,
dan lain-lain. Kebutuhan
(demand) furfural dan
turunannya di dalam negeri
meski tidak terlalu besar namun jumlahnya terus meningkat. Hingga saat ini
seluruh kebutuhan furfural
dalam negeri diperoleh
melalui impor. Impor terbesar diperoleh
dari Cina yang
saat ini menguasai
72% pasar furfural
dunia Jual skripsi (Wijanarko,
dkk, 2006). Data kebutuhan
furfural di Indonesia
dari tahun 1997-2010 dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Pengembangan industri
yang memproduksi furfural
dan turunannya diharapkan
dapat memenuhi kebutuhan
dalam negeri sehingga
mengurangi angka impor
dan meningkatkan nilai
investasi di Indonesia.
Diharapkan pengembangan industri
ini dapat memberi
nilai tambah bagi
hasil-hasil samping pengolahan
hasil pertanian yang tersedia
dalam jumlah banyak di Indonesia.
Jual skripsi 1.2 Rumusan Masalah Furfural masih
merupakan produk yang
diimpor di Indonesia
dan pabrik pembuatan
furfural dari tandan
kosong kelapa sawit
belum ada, sehingga
perlu adanya studi pra
perancangan pabrik pembuatan furfural dari tandan kosong kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan industri di
Indonesia.
1.3 Tujuan Pra Rancangan Pabrik Tujuan pembuatan
suatu pra rancangan
pabrik pembuatan furfural
dari tandan kosong kelapa sawit adalah untuk menerapkan
disiplin ilmu teknik kimia khskripsisnya dibidang
perancangan, proses dan operasi
teknik kimia sehingga
akan memberikan gambaran kelayakan pra perancangan pabrik
pembuatan furfural dari tandan kosong kelapa
sawit.
Jual skripsi
0 komentar:
Posting Komentar