BAB I PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Kelapa sawit (elaisn guineesis
jacg) merupakan komoditi non migas yang telah ditetapkan sebagai salah satu komoditi yang
dikembangkan menjadi produk lain untuk
diekspor. Produksi kelapa sawit di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Asia Tenggara merupakan kawasan
pengembang kelapa sawit peringkat pertama dunia, baik dari segi luas areal maupun
produktivitasnya. Pada tahun 1995, Malaysia merupakan penghasil minyak sawit terbesar di
dunis (luas areal 4,5 juta hektar dengan
produksi 7,5 juta ton CPO per tahun) dan Indonesia menduduki peringkat kedua (luas areal 2,025 juta hektar dengan
produksi 4,48 juta ton CPO per tahun).
Indonesia diperkirakan akan
menduduki peringkat pertama menggantikan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di
dunia, karena pada tahun 2000 saja produksi
CPO Indonesia sudah mencapai 7.465 ribu ton (Mustafa Hadi, 2004).
Minyak kelapa sawit menjadi
komoditas andalan Indonesia dan merupakan sumber devisa negara yang tidak akan pernah
kalah bersaing di pasar bebas karena kelapa
sawit memiliki karakter yang khas yaitu hanya dapat dikembangkan di daerah beriklim tropis sehingga tidak semua negara
dapat mengembangkannya.
Gambaran tentang peningkatan luas
areal kelapa sawit di Indonesia dari tahun ke tahun ditunjukkan pada Tabel 1.1 di bawah ini
: Jual skripsi Tabel 1.1 Data perkembangan luas areal
perkebunan kelapa sawit dan produksinya
di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun.
Pengolahan minyak sawit baik
berupa minyak sawit mentah, maupun minyak inti sawit (PKO) juga mengalami peningkatan yang
cukup pesat. Salah satu jenis produk yang
dihasilkan dari pengolahan CPO ialah asam oleat. Kegunaan asam oleat adalah sebagai berikut : •
Industri minuman, seperti pembuatan sskripsi, •
Industri sabun dan deterjen, • Industri kosmetik, •
Industri minyak goreng, dan Jual skripsi •
Industri bahan makanan.
Kebutuhan asam oleat di Indonesia
dari tahun ke tahun terjadi peningkatan rincian
kebutuhannya seperti tabel 1.2 berikut ini
Untuk memenuhi kebutuhan asam
oleat dalam negeri Indonesia sampai sekarang masih mengimpor, karena di Indonesia tidak
terdapat pabrik pembuatan asam oleat.
Sumber impor asam oleat terutama
dari negara Jerman, Shanghai (Cina), dan Hongkong (http:// www. Chemicallan 21. Com).
Berdasarkan data kebutuhan asam oleat
diatas, maka di Indonesia sangat dibutuhkan pabrik asam oleat agar dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan
data yang ada, maka diperkirakaan kapasitas
produksi pabrik yang direncanakan sebesar 2000 ton/tahun.
Proses mendapatkan Asam Oleat
dari CPO, yaitu dimana trigliserida yang merupakan kandungan terbesar dari minyak sawit
mentah dipisahkan terlebih dahulu menjadi
asam lemak dan gliserol. Pemisahan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Menggunakan kaustik soda (NaOH) 2.
Menggunakan metode hidrolisa.
Jual skripsi Pemisahan dengan menggunakan kaustik soda, membutuhkan
waktu yang cukup lama dan kwalitas asam
lemak yang dihasilkan tidak baik, sedangkan pemisahan dengan menggunakan metode hidrolisa asam lemak
yang dihasilkan mempunyai kwalitas yang
baik dengan waktu yang singkat namun membutuhkan biaya yang cukup besar.
0 komentar:
Posting Komentar