BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Partisipasi wanita
saat ini bukan
sekedar menuntut persamaan
hak tetapi juga menyatakan fungsinya mempunyai arti bagi
pembangunan dalam masyarakat Indonesia. Melihat
potensi wanita sebagai
sumber daya manusia
maka upaya menyertakan
wanita dalam proses
pembangunan bukan hanya
merupakan perikemanusiaan belaka,
tetapi merupakan tindakan
efisien karena tanpa mengikutsertakan wanita
dalam proses pembangunan
berarti pemborosan dan memberi
pengaruh negatif terhadap lajunya pertumbuhan ekonomi (Yf, 2006). Dunia pekerjaan
yang profesional bisa
menambahkan banyak wawasan berharga dan lingkup pergaulan yang lebih luas. Hal ini sangat bermanfaat
bagi pengembangan diri,
ajang memperluas wawasan
dan pengaktualisasian diri wanita. Setiap
manusia pasti mempunyai
kebutuhan akan aktualisasi
diri dan menemukan
makna hidupnya melalui aktivitas
yang dijalaninya. Bekerja
adalah salah satu sarana yang
dapat digunakan oleh manusia dalam menemukan makna hidupnya.
Kebutuhan akan aktualisasi
diri melalui karir
dalam pekerjaan merupakan
salah satu pilihan
yang banyak diambil
oleh para wanita
jaman sekarang, terutama
dengan makin terbukanya
kesempatan untuk meraih
jenjang karir yang
lebih tinggi sebagai
bagian dari proses
pencapaian kepuasan diri (Dirgantari,
2007). Saat ini wanita yang sukses atau seorang wanita yang memegang jabatan yang
tinggi merupakan suatu
hal yang wajar,
bahkan beberapa negara
pernah 11 memiliki presiden dan menteri seorang wanita,
termasuk Indonesia (Kiong, 2008). Dengan perkembangan zaman dan pendidikan yang
semakin tinggi, maka wanita yang berminat
untuk memasuki dunia
kerja untuk menunjukkan
eksistensi dan keberadaannya
makin meningkat. Sejalan
dengan pernyataan sebelumnya berdasarkan
data Badan Pusat
Statistik (BPS), selama
Agustus 2006 hingga Agustus
2007 jumlah pekerja
perempuan bertambah 3,3
juta orang sedangkan pekerja
pria hanya mengalami
peningkatan sebesar 1,1
juta orang. Di
Sumatera Utara khsnya
pada tahun 1999,
jumlah angkatan kerja
wanita sebanyak 701.964, tahun 2002 angkatan kerja wanita
menurun menjadi 636.701, lalu pada tahun
2005 mengalami peningkatan kembali menjadi 743.927. Jumlah wanita pencari kerja
akan semakin meningkat di sebagian wilayah dunia.
Peningkatan keterlibatan wanita
di dalam kegiatan
ekonomi ditandai dengan
dua proses, yaitu:
Pertama, peningkatan dalam
jumlah perempuan yang terlibat
dalam pekerjaan di luar rumah tangga. Kedua, peningkatan dalam jumlah bidang pekerjaan yang
dapat dimasuki oleh
perempuan. Bidang–bidang yang sebelumnya didominasi
oleh pria mulai
dimasuki bahkan didominasi
oleh perempuan. Gejala ini
memperlihatkan semakin terbukanya bagi perempuan untuk keluar dari
arena domestik dan
bekerja di luar
rumah (Aji, Romadoni,
dan Wibowo, 2009).
Tren wanita bekerja
dari jaman dulu
sudah ada tetapi
karena tingkat pendidikan
saat ini lebih
tinggi, maka variasi
pekerjaan yang dapat dilakukan kaum
wanita itu pun
lebih banyak. Variasi
pekerjaan wanita bisa terlihat
dengan banyaknya bidang pekerjaan yang dulunya hanya dikerjakan laki laki
sekarang juga dikerjakan oleh wanita (Chaerunnisa, 2008). 12 Hasil
penelitian Poerwandari menyebutkan wanita (responden) ingin tetap bekerja, karena pekerjaan memberikan banyak
arti bagi diri: mulai dari dukungan finansial,
mengembangkan pengetahuan dan wawasan, memungkinkan aktualisasi kemampuan,
memberikan kebanggaan diri
dan kemandirian (meskipun penghasilan suami mencukupi), serta
memungkinkan subyek mengaktualisasikan aspirasi pribadi
lain yang mendasar
(seperti) memberi rasa
’berarti” sebagai pribadi,
memberikan manfaat untuk
lingkungan/orang lain, maupun
memenuhi esensi hidup sebagai
manusia (Yf, 2006). Kesadaran untuk lebih
maju dan mengaktualisasikan diri
juga timbul dalam diri wanita, dimana pada “Era of change”
ini mereka terdorong untuk dapat menunjukkan
diri mereka seutuhnya sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang
mereka miliki. Dengan
adanya kemampuan yang
dimiliki oleh wanita, mereka
berusaha menampilkan performansi
kerja yang baik
sehingga dapat berprestasi pada pekerjaannya (Chaerunnisa,
2008). Dorongan untuk berprestasi dikenal
sebagai motivasi berprestasi.
Mc.Clleland (dalam Robins & Judge, 2007) menyatakan individu dengan motivasi
berprestasi tinggi membedakan diri mereka dari
individu lain menurut
keinginan mereka untuk
melakukan hal-hal dengan lebih baik. Motivasi berprestasi menjadi
komponen penting dalam dunia bekerja, ditambah
lagi semakin terbukanya kesempatan wanita untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi (Devianty, 2007). Peran
transisi wanita sebagai tenaga kerja yang turut aktif dalam kegiatan ekonomis
(mencari nafkah) sering
berseberangan dengan pandangan
sebagian besar masyarakat yang
masih beranggapan bahwa tempat wanita adalah di rumah 13 tangga,
atau meskipun ia bekerja diluar rumah, ia harus mengutamakan perannya dirumah
(Yf, 2006). Hal
ini sejalan dengan
pendapat Petri (1991)
yang menyatakan bahwa
sebenarnya wanita memiliki
kemampuan untuk berprestasi, namun
kemauan berprestasi mereka
dikurangi oleh pandangan
masyarakat yang negatif
tentang kesuksesan bagi
wanita. Menurut Sihite
(2007) seorang wanita diharapkan untuk tampil dan bertingkah laku
feminim, antara lain hangat, lembut, dan peka
terhadap perasaan orang
lain, berorientasi pada
keluarga dan anak, submisif, mengalah
dan tergantung pada
orang lain. Sebaliknya
seorang pria diharapkan
bertingkah laku maskulin
seperti tidak kompetitif,
berorientasi pada pekerjaan, ambisius, dan sebagainya. Keadaan wanita
harus pandai-pandai membagi
dirinya antara bekerja
di luar rumah
dan dipekerjaannya dikenal
dengan sebutan peran
ganda wanita. Peran ganda
wanita justru menempatkannya pada
posisi yang tertekan
karena beban tugas
yang ditanggungnya semakin
berat. Walaupun mereka
sekarang diterima keberadannya
di tempat kerja,
wanita sering mengalami
konflik antara perannya sebagai pekerja dan peran sebagai
orang tua dan istri, karena persepsi bahwa
mereka seharusnya berpartisipasi lebih
banyak dirumah dan
keluarga daripada pekerjaan
(Desmita, 2005). Menurut Budiman (dalam
Nauly, 2003), konsep
peran ganda wanita
ini merupakan pandangan
yang dominan dikalangan
pejuang emansipasi wanita
di Indonesia. Jika
wanita harus membagi
hidupnya menjadi dua,
satu disektor domestik
(urusan rumah tangga)
dan satu lagi
disektor publik (bekerja)
maka menurut beliau
laki-laki yang mencurahkan
perhatian sepenuhnya pada
sektor 14 publik
akan selalu memenangkan
persaingan di dunia
kerja. Seseorang yang memiliki motivasi
berprestasi yang tinggi,
di satu sisi
mereka akan terdorong untuk menetapkan tujuan yang penuh tantangan
serta menggunakan ketrampilan dan
kemampuan yang diperlukan untuk mencapainya, namun di sisi lain mereka harus
menerima konsekuensi negatif
dari kesuksesan yang
dicapainya. Konsekuensi
negatif yang mereka
terima akan memunculkan
konflik dan kecemasan
pada diri mereka
sehingga timbul keinginan
untuk menghindari sukses. Menurut Lida
(dalam Nauly, 2003),
para wanita dewasa
muda yang memiliki
pendidikan tinggi mengalami
konflik antara gambaran
diri mereka sebagai
individu yang mampu
berkarya dengan harapan
masyarakat terhadap mereka.
Orientasi berprestasi pada
diri mereka dipandang
masyarakat sebagai suatu
hal yang bersifat
kelaki-lakian (maskulin). Keadaan
ini menyebabkan mereka sepertinya terjebak antara usaha untuk
berprestasi dengan bayangan diri mereka
sebagai wanita. Apabila mereka mengikuti keinginan untuk terus berkarir dan
berprestasi, akan timbul
kecemasan terhadap penilaian
masyarakat dan kecemasan akan kehilangan sifat kewanitaanya. Di samping
kendala yang diberikan
masyarakat, ada hal
lain yang juga menjadi
hambatan dalam diri wanita bekerja berdasarkan angket majalah Femina (dalam Nauly, 2003)
yaitu merupakan kecemasan
bahwa keluarganya akan terlantar
jika ia sukses dalam berkarir. Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli bahwa
hambatan wanita untuk
mencapai jenjang karir
ini disebabkan karena aspirasi dan motivasi kerja wanita yang masih
sering diwarnai faktor-faktor sosial 15
budaya (Sadli dalam Nauly, 2003), karena
di dalam masyarakat masih ada suatu paradoks
antara de yuredan de factotentang kedudukan wanita (Suratijah
dalam Nauly, 2003).
0 komentar:
Posting Komentar