Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan Emotion Coaching Dengan Kecerdasan Emosi



BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Pada umumnya yang dimaksud dengan anak cerdas
adalah anak yang memiliki kemampuan
intelektual di atas rata-rata atau anak yang memperoleh nilai
akademis yang memuaskan.
Sekarang ini banyak
ditemukan lembagalembaga bimbingan
atau les privat
yang diikuti para
pelajar untuk mengejar nilai-nilai
akademik dengan kategori
memuaskan agar dapat
diterima di sekolah-sekolah favorit. Mayoritas masyarakat
beranggapan bahwa anak yang diterima di
sekolah favorit adalah
anak yang cerdas
dan memenuhi standar sesuai dengan ketentuan lembaga sekolah.
Fenomena
yang ditemui sekarang ini yaitu
mayoritas sekolah favorit
di perkotaan baik
negeri maupun swasta mengadakan tes
untuk menyeleksi anak
cerdas sesuai dengan
ketentuan lembaga sekolah.
Melalui prasyarat-prasyarat itu,
seolah-olah diprediksikan bahwa
anak yang cerdas
akan berhasil baik
dalam studi maupun
karir di kemudian hari. Walaupun prediksi tersebut
dijadikan sebagai tolok ukur anak cerdas
namun pada kenyataannya ada juga pelajar yang gagal di tengah studi mereka.
Hal ini disebabkan
oleh potensi yang
diutamakan hanya potensi intelektual. Sampai saat ini, sekolah-sekolah
favorit masih tetap menggunakan pengukuran kecerdasan
intelektual untuk menyeleksi
anak-anak yang cerdas dan
masyarakat masih berpandangan
bahwa anak yang
diterima di sekolah favorit adalah anak yang cerdas (Zulfiah,
2009).Fenomena lain
misalnya ada mantan
mahasiswa yang selalu
masuk dalam peringkat 3 besar
sewaktu kuliah dan lulus dengan predikat
cum laude ternyata gagal dalam
karir pekerjaannya. Sebaliknya
seseorang yang bahkan berpendidikan SMP
saja tidak lulus
dapat menjadi seorang
pengusaha alat berat
yang berhasil. Dari
kedua fenomena di
atas dapat disimpulkan
bahwa kecerdasan otak atau
IQ (Intelligence Quotient)
bukanlah faktor utama yang menentukan
keberhasilan hidup seseorang
(Martin, 2003). IQ
hanya menyumbang paling
banyak 20% kesuksesan
dalam hidup seseorang sedangkan 80% ditentukan oleh faktor lain
(Goleman, 1995).
Selama ini
pandangan umum terhadap
kecerdasan manusia terlalu sempit yakni masyarakat
berpandangan bahwa IQ
merupakan potensi kecerdasan
manusia yang paling
penting dan mengabaikan
serangkaian potensi lain
yang berpengaruh dalam
menentukan keberhasilan hidup seseorang. Goleman
(1995) mengemukakan faktor-faktor
yang terkait mengapa orang yang memiliki IQ tinggi gagal
dan orang yang memiliki IQ rata-rata menjadi
sangat sukses. Faktor-faktor
ini mengacu pada
suatu cara lain untuk menjadi cerdas yang disebut dengan
“kecerdasan emosional” atau EI
(Emotional Intelligence) (Goleman, 1995).
Goleman (1995)
mendefinisikan kecerdasan emosi
(EI) sebagai kemampuan
individu untuk menyadari
emosinya, mengendalikan emosi, memotivasi
diri, memiliki perasaan
empati serta memiliki
kecakapan dalam bersosialisasi. Kecerdasan
emosi lebih dapat
dijadikan acuan untuk memprediksi apakah
seorang individu kelak
menjadi sukses atau
tidak.
Berbeda dengan IQ yang telah
ditentukan sejak lahir, kecerdasan emosi yang baik
dapat dipelajari dan
diraih sejalan dengan
pertumbuhan dan perkembangan individu (Goleman, 1995).
Kecerdasan emosi
penting untuk dikembangkan
dalam diri setiap individu terutama pada anak yang cerdas
(Zulfiah, 2009). Hal ini disebabkan oleh
adanya fenomena bahwa jika anak yang cerdas di sekolah dan memiliki prestasi akademik yang
bagus tidak dapat mengelola emosinya dengan baik, maka prestasi akademiknya
yang bagus tidak
akan banyak bermanfaat
bagi dirinya sendiri. Oleh sebab
itu kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak sejak usia dini
(Goleman, 1999).
Kecerdasan emosi
dapat dipelajari dan
guru pertama yang
dapat mengajarkan mengenai
emosi kepada anak
adalah orangtua. Pola
asuh orangtua dalam keluarga
sangat penting bagi setiap anak karena pengaruhnya sangat
besar pada kehidupan
anak di kemudian
hari. Pola asuh
yang keliru dapat
menjadikan anak bermasalah
(Gottman & DeClaire,
1997). Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa pola asuh orangtua (parenting
style)memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak (Collins
& Kuczaj, 1991).
Selain itu ada
berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa
pola asuh yang
diterapkan oleh orangtua
yakni dengan disiplin
yang keras atau
pemahaman yang empatik,
dengan ketidakpedulian atau
kehangatan, dan sebagainya
dapat berakibat mendalam
dan permanen bagi kehidupan emosional anak (Goleman, 1995).
Gottman dan
DeClaire (1997) mengemukakan
bahwa orangtua dapat membantu mengembangkan
kecerdasan emosi anak
dengan memberikan pelatihan emosi pada anak yang disebut dengan istilah
“emotion coaching”.
Emotion coaching merupakan suatu
proses dimana orangtua
dengan aktif mendengarkan ungkapan perasaan anaknya,
menerima perasaan anaknya serta memberikan
bimbingan, batasan perilaku, dan membantu anak menyelesaikan permasalahannya agar anak dapat belajar
bagaimana mengendalikan perasaan atau
emosi yang dirasakannya dengan cara yang benar (Gottman & DeClaire, 1997).
Pembelajaran emosi
yang dapat diberikan
orangtua bukan hanya melalui
hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orangtua secara langsung kepada
anak-anaknya melainkan juga
melalui contoh-contoh yang
mereka berikan ketika
menangani perasaan mereka
sendiri atau perasaan
yang biasa muncul
antara suami dan
istri. Dewasa ini
hasil penelitian menunjukkan bahwa
mempunyai orangtua yang
cerdas secara emosional
merupakan keuntungan yang besar
sekali bagi anak. Cara-cara yang digunakan pasangan suami istri untuk menangani perasaan-perasaan
diantara mereka dan tindakantindakan
langsung mereka pada
anak memberikan pelajaran-pelajaran yang efektif
bagi anak-anak mereka sebab anak adalah murid yang pintar dan sangat peka
terhadap transisi emosi
yang paling halus
dalam keluarga (Goleman, 1995).
Banyak penelitian
yang menunjukkan bahwa
sikap, pengasuhan dan kondisi orangtua
baik secara langsung
maupun tidak langsung
akan mempengaruhi kemampuan
pengendalian emosi anak. Eisenberg dkk. (dalam Sarwono, 2007) menemukan bahwa perilaku
emosional orangtua berpengaruh pada
perilaku pengendalian diri anak (Sarwono, 2007).
Penelitian lain
yang dilakukan oleh
Shields (dalam Sarwono,
2007) menunjukkan bahwa
anak-anak yang diperlakukan
tidak baik (maltreated) lebih
menunjukkan perilaku sulit
menyesuaikan diri (maladaptive)
daripada anak-anak yang
diperlakukan dengan baik.
Perilaku maladaptive yang dimaksud
adalah ketidakmampuan mengendalikan
amarah dan tidak
mau berteman sedangkan
perilaku yang adaptive adalah perilaku
prososial dan suka berteman. Oleh sebab itu dapat
disimpulkan bahwa perlakuan orangtua pada
anak mempengaruhi perilaku adaptasi anak (Sarwono, 2007).
Penelitian yang dilakukan oleh
Chang di Cina (dalam Sarwono, 2007) menunjukkan bahwa
perlakuan kasar dari
orangtua berpengaruh secara langsung
atau tidak langsung
pada pengendalian emosi
anak dan mempengaruhi
agresivitas anak di
sekolah. Perlakuan kasar
dari ibu lebih mempengaruhi pengendalian
emosi anak sedangkan
perlakuan kasar ayah lebih mempengaruhi
agresivitas anak. Perlakuan
kasar ayah juga
lebih mempengaruhi anak laki-laki
daripada anak perempuan (Sarwono, 2007).


Skripsi Psikologi:Hubungan Emotion Coaching Dengan Kecerdasan Emosi

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.