BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Bekerja bagi manusia sudah menjadi suatu
kebutuhan, baik bagi pria maupun bagi
wanita. Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya yang dapat
dinikmati oleh manusia yang bersangkutan (As’ad, 1990). Menurut Davis (1991) faktor
yang mendorong manusia bekerja adalah
adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aktivitas dalam kerja mengandung unsur kegiatan social, menghasilkan sesuatu,
dan pada akhirnya bertujuan untuk kebutuhan
hidup manusia.
Keterlibatan wanita yang sudah
kentara membawa dampak terhadap peran wanita
dalam kehidupan keluarga. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat adalah semakin banyaknya wanita membantu suami
mencari tambahan penghasilan, selain
karena didorong oleh kebutuhan ekonomi keluarga, juga wanita semakin dapat mengekspresikan dirinya
di tengah-tengah keluarga dan masyarakat.
Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi kecenderungan wanita untuk berpartisipasi di luar rumah, agar dapat
membantu meningkatkan perekonomian
keluarga (Wolfman, 1994).
Motivasi untuk bekerja dengan
mendapat penghasilan khsnya untuk wanita
golongan menengah tidak lagi hanya untuk ikut memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, melainkan juga untuk
menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang telah mereka peroleh serta
untuk mengembangkan dan mengaktulisasikan
diri (Ihromi, 1990).
Di kehidupan keluarga, suami dan
istri umumnya memegang peranan dalam
pembinaan kesejahteraan bersama, secara fisik, materi maupun spiritual, juga dalam meningkatkan kedudukan keluarga
dalam masyarakat untuk memperoleh
penghasilan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga (Ihromi, 1990).
Tugas untuk memperoleh
penghasilan keluarga secara tradisional terutama dibebankan kepada suami sebagai kepala
keluarga, sedangkan peran istri dalam hal
ini dianggap sebagai penambah penghasilan keluarga. Dalam golongan berpernghasilan rendah, istri lebih berperan
serta dalam memperoleh penghasilan untuk
keluarga (Ihromi, 1990).
Seringkali kebutuhan rumah tangga
yang begitu besar dan mendesak, membuat
suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan seharihari.
Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut mencari pekerjaan di luar rumah. Ada pula
ibu-ibu yang tetap memilih untuk bekerja,
karena mempunyai kebutuhan social yang tinggi dan tempat kerja mereka sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut.
Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan
akan penerimaan social, akan adanya identitas social yang diperoleh melalui komunitas kerja. Bergaul dengan
rekan-rekan di kantor, menjadi agenda yang
lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah. Factor psikologis seseorang serta keadaan internal keluarga, turut
mempengaruhi seorang ibu untuk tetap mempertahankan
pekerjaannya (Yulia, 2007).
Hasil survey AC. Nelson (dalam Ubaydillah,
2003) menunjukkan adanya kebangkitan
kaum wanita di Asia Tenggara dalam hal jabatan bisnis, politik, budaya, dan lain-lain. Hal tersebut dapat
dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari pun kita juga bisa membuktikan bahwa jumlah
kaum wanita yang keluar dari rumah untuk
mengisi jabatan di organisasi tertentu semakin hari semakin meningkat. Bahkan Indonesia dan Philifina
mengangkat wanita menduduki jabatan
eksekutif tertinggi.
Banyak persoalan yang dialami
oleh para wanita ibu rumah tangga yang bekerja
di luar rumah, seperti bagaimana mengatur waktu dengan suami dan anak hingga mengurus tugas-tugas rumah tangga
dengan baik. Ada yang bisa menikmati
peran gandanya, namun ada yang merasa kesulitan hingga akhirnya persoalan-persoalan rumit semakin berkembang
dala hidup sehari-hari (Yulia, 2007).
Pada umumnya, wanita banyak
menghadapi masalah psikologis karena adanya
berbagai perubahan yang dialami saat menikah, antara lain perubahan peran sebagai istri dan ibu rumah tangga,
bahkan juga sebagai ibu bekerja.
(Pujiastuti dan Retnowati, 2000).
Wanita yang menjadi istri dan
yang bekerja sering hidup dalam pertentangan
yang tajam antara perannya di dalam dan di luar rumah. Banyak wanita yang bekerja full-time melaporkan bahwa
mereka merasa bersalah karena sepanjang
hari meninggalkan rumah. Namun, setibanya di rumah mereka merasa tertekan karena tuntutan anak-anak dan suami.
Sering sekali timbul perselisihan antara
suami-istir yang terus-menerus tentang pekerjaan atau gaji siapa yang lebih penting bagi kelangsungan hidup maupun hal
lainnya misalnya masalah tanggung jawab
dalam mendidik dan merawat anak-anak (Ubaydillah, 2003).
Berdasarkan Penelitian Moen dan
McClain (1990) terbukti bahwa dimana wanita
yang bekerja full-time lebih ingin mempersingkat jam kerjanya untuk mengurangi ketegangan akibat peran pekerjaan
dan keluarga dibandingkan dengan wanita
yang bekerja part-time.
Meningkatnya peran wanita sebagai
pencari nafkah keluarga dan kenyataan
bahwa mereka juga berperan untuk meningkatkan kedudukan keluarga, maka bertambahlah pula masalah-masalah yang
timbul. Kedua peran tersebut sama-sama
membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian, sehingga jika peran yang satu dilakukan dengan baik, yang lain
terabaikan sehingga timbullah konflik peran.
Masalah ini timbul apabila yang bekerja adalah ibu rumah tangga yang mempunyai anak-anak dan masih membutuhkan
pengasuhan fisik maupun rohaniah
(Ihromi, 1990).
Masalah lain yang timbul adalah
akibat perubahan pola hubungan suami istri.
Seorang istri yang menjadi ibu rumah tangga dan menjadi pencari nafkah (berperan ganda) harus memenuhi tugas sebagai
ibu rumah tangga dan diharapkan dapat
menjalankan perannya sebagai seorang istri dan sekaligus pencari nafkah.
Dalam hal ini dapat dibayangkan
konflik peran dapat terjadi (Ihromi, 1990).
Menurut Munandar (2001) konflik
peran muncul jika seorang pekerja mengalami
pertentangan antara tangggung jawab yang dia miliki dengan tugastugas yang
harus dilakukannya.
House dan Rizzo (dalam Lui & Steven, 2000)
mengatakan bahwa konflik peran secara
umum didefinisikan kemunculan yang simultan dari dua atau lebih tekanan peran. Kehadiran salah satu peran akan
menyebabkan kesulitan dalam memenuhi
tuntutan peran yang lain. Kahn dkk. (Hardyastuti, 2001) mengatakan bahwa harapan orang lain terhadap berbagai
peran yang harus dilakukan seseorang
dapat menimbulkan konflik. Konflik terjadi apabila harapan peran mengakibatkan seseorang sulit membagi waktu
dan sulit untuk melaksanakan salah satu
peran karena hadirnya peran yang lain.
Penelitian mengenai konflik peran
kebanyakan difokuskan pada ketidaksesuaian
yang terjadi antara peran pekerjaan dan peran dalam keluarga, terutama pada wanita (Settles, Seller &
Robert, 2002). Hal ini dikarenakan wanita yang bekerja akan memegang dua peranan yang
penting, yaitu sebagai pekerja dan
perannya di rumah tangga.
0 komentar:
Posting Komentar