BAB I PENDAHULUAN
I.A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan wahana yang sangat
penting dalam pengembangan sumber daya
manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Cremer dan Siregar (1993), bahwa pendidikan diperlukan untuk
mempersiapkan sumber daya manusia yang
berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta siap bersaing dalam era globalisasi.
Pendidikan adalah usaha sadar
yang dilakukan untuk mengembangkan potensi
peserta didik melalui kegiatanbelajar (dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional). Menurut Syah (1995)
belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap penyelenggaraan jenis
pendidikan. Selanjutnya Dalyono (1997)
mengatakan belajar adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri seseorang mencakup
perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan,
ilmu pengetahuan dan keterampilan. Untuk mengetahui apakah hal ini telah tercapai maka diperlukan penilaian yang
hasilnya disebut sebagai prestasi belajar
(Chaplin, 1997). Sudjana (dalamSuryabrata, 1995) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar atau
kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang
setelah menerima pengalaman belajar.
Fakultas Psikologi () sebagai salah satu wahana pendidikan yang turut serta dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia
juga mengadakan penilaian sebagai evaluasi keberhasilan belajar mahasiswa.
Adapun evaluasi yang dilakukan
berupa evaluasi perkuliahan dan evaluasi
praktikum. Evaluasi perkuliahan dilakukan melalui ujian tengah semester dan ujian akhir semester serta nilai tugas,
sedangkan evaluasi praktikum merupakan
gabungan nilai dari pelaksanaan praktikum, laporan praktikum, dan ujian praktikum. Hasil dari evaluasi
keberhasilan belajar mahasiswa tersebut dapat dilihat melalui Indeks Prestasi (IP) yang
diperoleh mahasiswa pada tiap semester (Yoel
dkk, 2002).
Berdasarkan data yang diperoleh
dari bagian pendidikan Fakultas Psikologi
mengenai keberhasilan belajar yang
dicapai oleh mahasiswa baru pada
semester A tahun ajaran 2007/2008 dapat diketahui bahwa mahasiswa yang memiliki IP≥3.00 ada sebanyak 62.1%, IP
2.5-2.99 sebanyak 29.84%, IP 2.00-2.49 sebanyak 5.64%, IP 1.50-1.99 sebanyak
0%, sementara yang memiliki IP< 1.50
sebanyak 2.42%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel 1. berikut ini: Tabel
1.
Keberhasilan Belajar Mahasiswa
Angkatan 2007 Pada Semester A Tahun
Ajaran 2007/2008 Indeks Prestasi Jumlah
% ≥3.00 77
62.1 2.5-2.99 37 29.84 2.00-2.49 7 5.64 1.50-1.99
- - < 1.50
3 2.42 Total 124 100 Sumber : Data IP dari Bagian Administrasi Fakultas Psikologi .
Tinggi rendahnya prestasi belajar
yang diperoleh mahasiswa Fakultas Psikologi
diatas dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor penyesuaian diri mahasiswa terhadap lingkungan
belajar. Sebagaimana yang dikatakan oleh
Hakim (2000) bahwa keadaan sekolah seperti kualitas pengajar, kurikulum yang digunakan, fasilitas
belajar,serta disiplin dan sebagainya turut mempengaruhi prestasi belajar seseorang. Oleh
karena itu mahasiswa dianggap perlu
untuk bisa menyesuaikan diridengan lingkungan belajarnya. Menurut Schneiders (dalam Ali & Asrori, 2004)
penyesuaian diri adalah proses yang melibatkan
respon-respon mental dan tingkah laku untuk menghadapi kebutuhan internal, konflik, ketegangan dan frustasi
serta untuk mernyelaraskan tuntutan dari dalam diri individu dengantuntutan dari
lingkungan tempat individu berada.
Umumnya permasalahan penyesuaian
diri di sekolah timbul ketika seseorang
memasuki jenjang sekolah yang baru, seperti Perguruan Tinggi. Secara umum permasalahan penyesuaian diri yang
dialami oleh mahasiswa di Perguruan Tinggi
seringkali dikaitkan dengan adanyaperbedaan sifat pendidikan antara Sekolah Menengah Umum dengan Perguruan Tinggi,
hubungan sosial, masalah ekonomi, dan
pemilihan bidang jurusan (Gunarsa, 2000). Oleh karena itu mahasiswa dituntut untuk mampu menyesuaikan
diri dengan perubahan tersebut.
Jika mahasiswa tidak mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan belajarnya
maka mahasiswa akan mengalami berbagai masalah penyesuaian, baik terhadap pengajar, teman kuliah, dan mata kuliah sehingga prestasi
belajar mahasiswa akan menurun bila
dibandingkan dengan prestasi belajar di tingkat pendidikan sebelumnya (Hartono & Sunarto,
2006). Pendapat ini didukung oleh hasil
penelitian yang dilakukan Julianti (dalam Sukadji dkk, 2001) yang menyatakan bahwa kesulitan mahasiswa dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan
kampus terutama terhadap iklim belajar dapat menghambat prestasi belajar mereka, sebaliknya mahasiswa yang
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
kampus terutama terhadap iklim belajar memiliki kemampuan untuk mengikuti proses perkuliahan dengan lancar dan
mampu meraih prestasi dengan baik.
Mampu tidaknya seorang mahasiswa
menyesuaikan diri dengan lingkungan
kampus terutama terhadap iklimbelajarnya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kondisi fisik, kepribadian,
pendidikan, lingkungan, agama, dan budaya
(Schneiders dalam Ali & Asrori, 2004). Salah satu unsur dalam kepribadian yang ada kaitannya dengan
penyesuaian diri adalah konsep diri.
Konsep diri adalah gambaran
mental individu terhadap dirinya sendiri yang meliputi pengetahuan, penilaian, dan harapan
individu tentang dirinya sendiri yang
akan mempengaruhi perilaku individu dalam lingkungannya (Calhoun & Acocella, 1990). Individu yang memiliki
konsep diri positif dapat menilai hubungannya
dengan orang lain secara tepat sehingga menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Sementara
individu yang memiliki konsep diri negatif
biasanya memiliki sikap ragu dan kurang percaya diri yang akhirnya akan menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial
yang buruk (Hurlock, 1996).
Gage & Berliner (1984)
menambahkan bahwa konsep diri turut mempengaruhi
prestasi belajar seseorang. Bila seseorang memandang positif terhadap kemampuan yang dimilikinya maka orang
tersebut akan memiliki keyakinan untuk
meraih prestasi, sebaliknya jika seseorang memandang negatif terhadap kemampuan yang dimilikinya maka akan
timbul perasaan tidak mampu dalam
dirinya untuk memperoleh prestasi yang tinggi. Hal ini juga didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang menunjukkan
adanya hubungan antara konsep diri
dengan prestasi akademik. Dikatakan dalam penelitian sebelumnya bahwa konsep diri yang tinggi berkorelasi dengan
kemampuan berprestasi, sedangkan konsep
diri yang rendah berkaitan dengan kecemasanyang tinggi dan motivasi berprestasi yang rendah (Purkes, 1970;Van
Bxtel dan Monks, 1992; dalam Partosuwido,
1993).
Berdasarkan penjelasan diatas,
peneliti merasa tertarik untuk meneliti hubungan
antara konsep diri dan penyesuaiandiri dengan prestasi belajar pada mahasiswa baru Fakultas Psikologi .
I.B. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan
data mengenai konsep diri, penyesuaian
diri, dan prestasi belajar pada mahasiswa. Data yang diperoleh nantinya akan diolah untuk melihat hubungan
antara ketiga variabel. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsep diri dan penyesuaian diri secara bersama-sama terhadap
prestasi belajar mahasiswa.
0 komentar:
Posting Komentar