BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH Penggunaan
internet menjadi meningkat sangat pesat di berbagai belahan dunia.
Satu studi menunjukkan
penggunaan internet secara
global pada tahun 2007 mencapai
1,35 miliar orang
(Hawkins, Mothersbaugh, &
Best, 2007).
Berdasarkan data dari Pew
Internet and American Life Project dalam
Hawkins et al (2007),
ada 10 aktivitas
yang sering digunakan
yaitu email, menggunakan search engine
untuk mendapatkan informasi, mencari peta atau arah, melakukan pencarian
internet untuk menjawab
pertanyaan spesifik, meneliti
sebuah produk sebelum membeli, mengecek cuaca, mencari
informasi tentang hobi, mendapatkan informasi
perjalanan, mendapatkan berita dan membeli sebuah produk (Hawkins et al, 2007).
Perkembangan yang
pesat dari internet
ini juga berdampak
dibidang transaksi bisnis.
Transaksi bisnis pada
zaman sekarang banyak
yang beralih ke internet. Di
Amerika sendiri, online
holiday sales untuk
tahun 2004 mencapai $23.2
miliar, naik 25%
dari tahun 2003
(Janssons-Boyd, 2010). Di
Indonesia sendiri, menurut
artikel Indonesia Finance
today, nilai transaksi
perdagangan yang dilakukan lewat
internet atau online pada tahun 2012 diperkirakan mencapai US$ 4,1 miliar atau tumbuh sekitar 20,5% dari
nilai transaksi online pada tahun lalu.
Penggunaan internet
yang meningkat diakibatkan
oleh keuntungan– keuntungan yang
didapatkan seperti kemudahan mengakses produk dan pelayanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365
setahun; kemudahan mengakses secara global
dengan cara yang efisien, meminimalkan uang yang harus dibayar sewaktu pergi
ke toko, meningkatkan
hubungan antara para
konsumen, dan internet digunakan
sebagai sumber eksternal
dalam pencarian mengenai
suatu produk (Peter & Olsen, 2010). Disamping keuntungan tersebut, pembelian
secara online memiliki beberapa
resiko seperti perhatian
terhadap keamanan kartu
kredit, produk tidak
bisa disentuh, ongkos
kirim terlalu mahal,
dan kebanyakan konsumen
mendengarkan pengalaman buruk
dari konsumen lainnya
dalam membeli online (Hawkins et
al, 2007).
Resiko dalam
pembelian ini membuat
konsumen seringnya konsumen tidak
merasa nyaman dengan
apa yang mereka
peroleh, konsumsi ataupun keputusan
yang mereka ambil.
Ketidaknyamanan ini akan
yang disebut dengan Post purchase dissonance. Secara lengkap post
purchase dissonance didefinisikan sebagai keraguan
atau kecemasan yang
dialami konsumen setelah
mengambil suatu keputusan sulit
dan relatif permanen (Hawkins et al., 2007).
Post purchase dissonance dapat
mempengaruhi perilaku konsumen karena menciptakan perasaan
cemas yang ingin
dikurangi oleh konsumen,
terutama apabila motivasi,
kemampuan, dan kesempatan tinggi (Hoyer, 2010).
Salah satu cara untuk
mengurangi dissonance yang
dirasakan konsumen adalah
dengan menambahkan kognisi
yang konsisten untuk
menghilangkan rasa tidak
nyaman.
Respon kognitif
untuk mengatasi ketidaknyamanan ini
dilakukan dengan keterlibatan konsumen pada produk tersebut
(Mittal, 1989).
Keterlibatan akan
produk merupakan tingkatan
perhatian pada proses pembelian yang diakibatkan oleh kebutuhan
untuk mempertimbangkan pembelian tertentu. Keterlibatan
akan produk merupakan
keadaan termotivasi yang disebabkan oleh
persepsi konsumen tentang
produk, merek, atau
iklan yang relevan
atau menarik. Keterlibatan
terhadap suatu produk
bisa didapatkan dari memori
akan penggunaan produk tersebut di waktu lampau dan karakteristik dari produk tersebut (Peter, 2010).
Keterlibatan akan
suatu produk dapat
terjadi karena karakteristik
produk tersebut (Peter,
2010). Karakteristik suatu
produk merupakan tampilan
yang melekat yang
ditawarkan suatu produk,
baik aktual ataupun
yang dipersepsikan konsumen.
Karakteristik produk dapat
berbentuk gambaran produk
misalnya warna, merek, bentuk
(Czinkota & Ronkainen, 2007).
Semakin baik
karakteristik produk dipersepsikan
oleh konsumen maka semakin
tinggi juga keterlibatan konsumen terhadap produk. Karakteristik produk ini dipengaruhi oleh persepsi kualitas dari
suatu produk. Persepsi kualitas adalah hasil
dari pengujian subjektif pembeli pada kualitas dari sebuah produk. Persepsi terhadap kualitas
menurut Garvin dalam
Foster (2010) merupakan
dimensi dari kualitas yang didasarkan pada opini konsumen.
Konsumen menginspirasikan produk
dan pelayanan dengan
pemahaman mereka tentang bagusnya
produk tersebut, sehingga yang mempengaruhi persepsi tentang kualitas adalah seperti brand image,
brand recognition, jumlah iklan, dan word
of mouth (Garvin dalam Foster, 2010). Persepsi terhadap kualitas memberi alasan
bagi konsumen untuk
menggunakan produk barang
atau jasa, karena
itu semakin baik
persepsi konsumen maka akan semakin
tinggi potensi konsumen untuk
menggunakan suatu produk
dan persepsi terhadap
kualitas ini akan membedakan
produk barang atau jasa dengan produk pesaing (Aaker, 2010).
Penjualan produk
baju menurut Hawkins
et al (2007)
mengalami peningkatan yang sangat pesat dibandingkan kategori
lainnya pada Internet. Hal ini menarik
untuk diteliti karena
penjualan produk baju
memiliki kelemahan seperti
produk tidak bisa
disentuh yang menjadi
masalah utama. Di
luar negri sendiri
hal ini diatasi
dengan penggunaan fitur
zoom untuk memungkinkan konsumen
melihat produk dengan
lebih jelas. Tetapi
hal ini belum
terjadi di Indonesia.
Di Indonesia sendiri,
dari berbagai situs
penjualan baju online
yang peneliti lihat,
kebanyakan penjual onlinenya
memberitahukan material dari produk tersebut
dalam spesifikasi produknya.
Walaupun spesifikasi produknya telah diberitahukan, sering produk yang
diikirimkan berbeda materialnya dengan yang
ada di foto seperti yang ditulis dalam Kompasiana.com. Selain material yang berbeda warna juga tidak sama dengan apa yang
terdapat di foto.
Situs-situs perbelanjaan
online seperti tokobagus.com, Gmarket.com
dan lainnya memiliki
banyak alternatif pilihan
produk yang ditawarkan.
Menurut kompasiana.com banyaknya
pilihan produk yang
ditawarkan memang memungkinkan
konsumen untuk memilih
yang terbaik tetapi
juga membingungkan konsumen
memilih diantara banyak alternatif. Produk yang tidak bisa disentuh, ukuran produk yang dipilih
konsumen, warna, material dari produk membuat konsumen
harus mengambil resiko
dengan keputusan yang
telah diambilnya.
Oleh karena
itu, dirasa perlu
untuk dilakukan penelitian
mengenai “Hubungan Persepsi
terhadap kualitas dan
Post Purchase Dissonance pada pembelian baju online” B. RUMUSAN MASALAH Bagaimana hubungan
antara persepsi terhadap
kualitas dengan post purchase
dissonance pada konsumen yang melakukan pembelian baju online? C. TUJUAN
PENELITIAN Adapun tujuan penelitian
ini untuk melihat
hubungan antara persepsi terhadap kualitas produk dengan post purchase
dissonance pada konsumen yang melakukan pembelian secara online.
0 komentar:
Posting Komentar