Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan Antara Persepsi Terhadap Iklim Kelas Dengan Stres Akademik








BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Pada tahun 1990,
banyak sekolah-sekolah yang
didirikan oleh suatu yayasan dengan
menggunakan identitas internasional
tetapi tidak jelas
kualitas dan standarnya.
Selain itu, payung
hukum yang mengatur
penyelenggaraan sekolah
internasional ini pada saat itu juga belum ada. Akan tetapi, membangun sekolah
berkualitas sebagai pusat
unggulan (center of
excellence) pendidikan dirasa
sangat perlu dan
sebagai bangsa yang
besar, Indonesia perlu
pengakuan secara internasional
terhadap kualitas proses, dan hasil pendidikannya. Atas dasar fenomena
ini, pemerintah mulai
mengatur dan merintis
sekolah bertaraf internasional (Ditjen Mandikdasmen, 2010). Selanjutnya, pada
tahun 2003 Indonesia
sudah memiliki dasar
hukum sekolah bertaraf
internasional, yaitu UU No. 20/2003
(Sistem Pendidikan Nasional) pasal 50 ayat 3 yang berbunyi
pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu
satuan pendidikan pada
semua jenjang pendidikan untuk
dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Purnama (2010)
menyatakan sekolah bertaraf
internasional adalah sekolah yang
telah memenuhi standar
nasional pendidikan dan
mulai mengacu pada standar pendidikan
salah satu negara
anggota Organization for
Economic Coorporation and
Development (OECD). OECD
merupakaan sebuah organisasi internasional
yang membantu negara-negara
anggotanya untuk menghadapi globalisasi
ekonomi. Organisasi ini
berpusat di kota
Paris, Perancis dan beranggotakan negara-negara
maju seperti Australia,
Jepang, Inggris, Amerika Serikat,
dan lain-lain. Menurut
Ditjen Mandikdasmen (2010)
hingga saat ini, mayoritas
sekolah bertaraf internasional di Indonesia masih berstatus rintisan Indonesia International Standard School (IISS) (2010) menyatakan bahwa rintisan
sekolah bertaraf internasional
(RSBI) adalah Sekolah
Standar Nasional (SSN)
yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Indonesia dan bertaraf
internasional sehingga diharapkan
lulusannya memiliki kemampuan
daya saing internasional. Saat ini di Medan baru ada satu sekolah
menengah pertama (SMP)
dengan status RSBI
yaitu SMPN 1
Medan (“RSBI”, 2010). Sebagai
sekolah yang berstatus RSBI, SMPN 1 Medan menerapkan konsep bilingual dalam kegiatan belajar mengajarnya.
Triyono (2009) menyatakan bahwa penerapan bahasa
Inggris dalam SBI
pada tahun pertama
guru menggunakan sekitar
75% bahasa Indonesia
25% bahasa Inggris,
tahun kedua 50%
bahasa Indonesia 50% bahasa
Inggris, dan tahun ke tiga 75% bahasa Inggris 25% bahasa Indonesia,
dari sini dapat
dibayangkan pada tahun
ketiga siswa yang
tingkat bahasa Inggrisnya
kurang akan mengalami
degradasi prestasi karena
sulit mencerna pembicaraan dari
guru. Hasil komunikasi personal
yang dilakukan oleh
peneliti dengan salah
satu siswa kelas
internasioanl di SMPN 1 Medan
yang berinisial BB
juga menunjukkan demikian,
permasalah yang sering
dihadapi oleh siswa
kelas internasional adalah bahasa
pengantar yang menggunakan bahasa Inggris: “....permasalah yang
sering dihadapi di
sekolah internasional itu
Kak, gurunya. Kamikan
Kak, pakai pengantar
bahasa Inggris kalau
di kelas, jadinya
kadang gurunya asyik
sendiri. Dia ngomong
terus pakai bahasa Inggris.
Apa lagi itu
fisika dan biologi,
itu asli full
bahasa Inggris, bukan bilingual lagi. Terus kalau pelajaran lain, juga pakai
bahasa Inggris, seperti agama, IPS,
Matematika itu juga
pakai bahasa Inggris.
Cuma bahasa Indonesia
aja yang pakai
bahasa Indonesia (BB,
komunikasi personal, 8/10/2010). Selain masalah
bahasa pengantar masalah
lain yang dihadapi
siswa kelas internasional
menurut BB adalah
kompetisi akademik diantara
siswa, yaitu sebagai berikut: “….kalau saingannnya
Kak, uuh……!, banyaklah
Kak. Apa lagi,
orang itukan pada les di rumah
lagi…, kamikan waktu itu diseleksi tes gitu, ada tes IPA,
bahasa Inggris, sama
tes IQ gitu”.
(BB, komunikasi personal, 8/10/2010). Moko (1997) mengemukakan bahwa untuk dapat masuk di
kelas unggulan peserta didik
harus melalui seleksi ketat dengan kriteria tertentu. Dalam konsep Depdikbud (1993), kriteria itu antara lain
prestasi belajar yang superior dengan indikator rapor,
NEM, hasil tes
prestasi akademik, skor
psikotes yang meliputi inteligensi dan kreativitas, serta tes fisik. Pelaksanaan proses
belajar mengajar di
kelas internasional di
SMPN 1 Medan
berlangsung dari pagi
hingga sore pada
hari Senin sampai
Kamis, sedangkan pada
hari Jumat sampai
Sabtu siswa belajar
sampai siang. Hal
ini dapat dilihat dari komunikasi
personal antara peneliti dan BB. “….satu
hari itu sembilan
pelajaran, satu pelajaran
dua guru, ada
guru materi dan
guru soal, ya sesuai dengan
tugasnya Kak, guru
soal, datangdatang nyuruh
ngerjain soal. Satu
hari itu bisa
lima PRnya, kami
belajar kalau dari hari Senin-Kamis, sampai jam 4 kalau
hari Jumat sampai Sabtu, normal.” (BB,
komunikasi personal, 8/10/2010). Banyaknya
PR bukan hanya
dikeluhkan oleh BB,
tetapi juga NM
yang berbeda kelas dengan BB,
berikut pemaparan NM: “….PR kak, oww…, ya gitulah Kak, abangku yang kusuruh
ngerjain Kak! Aku pulang sekolah sore
terus ambil bimbel lagi jam lima sore. Kalau gak siap ku kerjain ntuh PR, aku suruh abangku.
PRnya itu Kak pertanyaannya cuma satu
tapi beranak-anak. (NM, komunikasi personal,21 Februari 2011). Hasil keseluruhan
komunikasi personal sebelumnya,
dapat diperoleh gambaran
mengenai tuntutan yang
harus dijalani oleh
siswa kelas internasional, mulai
dari kurikulum, bahasa
pengantar yang menggunakan
bahasa Inggris, kompetisi di dalam kelas, beban pelajaran yang
terlalu banyak dalam sehari, dan tugas
yang menumpuk. Kondisi ini dapat menimbulkan stres pada siswa apabila siswa
tidak mampu memenuhi
tuntutan yang diberikan
padanya. Lazarus dan Folkman
(dalam Morgan, 1986) menyatakan bahwa stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik
dari tubuh atau oleh kondisi lingkungan dan
sosial yang dinilai membahayakan tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu
untuk mengatasinya. Oon
(2007) mengemukakan bahwa
stres telah menjadi masalah nyata dalam kehidupan sekolah
anak. Kondisi tersebut juga
diperuncing dengan harapan
orang tua. Perioritas utama
orang tua pada
saat ini adalah
pendidikan anak. Hanya
sekedar lulus tidaklah
memuaskan, dan kegagalan
adalah sebuah duka
cita. Keunggulan akademik
anak-anaklah yang dikejar
oleh setiap orang
tua. Meningkatnya persaingan
akademik mengakibatkan para
orang tua menjadi
lebih terlibat agar dapat memastikan
anak-anak mereka patut
diperhitungkan. Sekarang ini,
para orang tua
menjejalkan jadwal anak-anak
mereka dengan segudang
kegiatan, bahkan setelah
jam sekolah biasa.
Mereka harus ikut
kelas bimbingan belajar, program
matematika, kelas seni,
pelajaran balet, dan
masih sederet daftar
lagi (Oon, 2007). Tekanan dan
tuntutan yang bersumber
dari kegiatan akademik
disebut dengan stres
akademik. Carveth, Gesse,
dan Moss (dalam
Misra & McKean, 2000)
menyatakan bahwa stres
akademik meliputi persepsi
siswa terhadap banyaknya
pengetahuan harus dikuasai
dan persepsi terhadap
ketidakcukupan waktu untuk
mengembangkan itu. Oon (2007) mengungkapkan stres akademik yang dialami siswa
secara terus menerus akan mengakibatkan
penurunan daya tahan tubuh siswa sehingga mudah mengalami
sakit dan apabila
ini tidak ditangani
dengan segera maka
dapat memicu penyakit
kardiovaskuler seperti tekanan
darah tinggi, kolesterol
dan serangan jantung. Stres
jangka panjang juga dapat mempengaruhi mental
siswa. Siswa menderita kelelahan mental dan patah semangat. Bagi siswa
yang memiliki kemampuan mengatasi
stres yang rendah
dapat merusak rasa
percaya diri. Kombinasi ketidakmampuan siswa
mengatasi stres dapat
menyebabkan siswa mengalami
masalah perilaku, seperti
berbuat onar di
dalam kelas, berperilaku aneh,
merusak diri sendiri,
pasif, emosi meledak-ledak, berperilaku
anti sosial, menyendiri, mengkonsumsi rokok, obat-obatan,
dan alkohol. Stres yang dialami
oleh individu yang
satu akan berbeda
dengan individu lainnya.
Hal ini karena
adanya faktor internal
seperti motivasi, kepribadian
dan intelektual (Sarafino,
2006)

Skripsi Psikologi:Hubungan Antara Persepsi Terhadap Iklim Kelas Dengan Stres Akademik

Download lengkap Versi PDF













Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.