Kamis, 25 September 2014

Skripsi Psikologi:Hubungan antara Kontrol Diri dengan Kecanduan Internet



BAB I PENDAHULUAN

A.
LATAR BELAKANG Internet
merupakan salah satu
media yang sekarang
ini diminati oleh banyak
orang. Internet yang semula dirancang untuk menjadi sistem komunikasi militer
telah berkembang menjadi
penghubung banyak komputer
sekaligus ke dalam sebuah jaringan. Perkembangan internet saat ini bukan hanya
sebagai alat pengiriman, pertukaran, dan
pengambilan data, melainkan juga memenuhi banyak fungsi lain, meliputi kemudahan berbisnis,
berkarir, berkomunikasi, menjalankan proses
belajar-mengajar, menjalin relasi, menyiarkan berita, hingga berkampanye.
Dapat dipastikan
bahwa jumlah pengguna
internet ini akan
terus bertambah seiring
dengan semakin mudahnya
koneksi internet, tersebarnya
jaringan, serta juga
semakin tersedianya peralatan
komputer, handphone, hingga
iPhone dan BlackBerry (Elia, 2009).
Semakin
tidak terhindarkannya internet
sebagai perlengkapan studi
dan alat bantu
pekerjaan membuat internet
turut berperan dalam
cara kita berpikir, berkomunikasi,
berelasi, berekreasi, bertingkah
laku, dan mengambil
keputusan.
Internet menjadi suatu kegemaran
tersendiri dalam mencari informasi terbaru dan menjalin
hubungan dengan orang
lain di beda
tempat. Internet juga
memiliki kelebihan karena
sifat yang tidak
terbatasnya waktu akses,
sehingga individu dapat
mengakses internet kapan
saja. Hal ini
membuat beberapa orang
terkena salah satu
dampak negatif dari
penggunaan internet. Tidak
sedikit orang yang sangat
bergantung pada internet sehingga individu mengalami kecanduan (Dyah, 2009).
Mark, Murray,
Evans, & Willig
(2004) menyatakan bahwa
kecanduan merupakan perilaku
ketergantungan baik secara
fisik maupun psikologis
dalam suatu aktivitas.
Individu biasanya secara
otomatis akan melakukan
apa yang disenangi pada kesempatan yang ada. Orang yang mengalami kecanduan internet akan merasa bahwa dunia maya di layar
komputernya lebih menarik dibandingkan dengan kehidupan
nyata sehari-hari (Orzack
dalam Mukodim, Ritandiyono
& Sita, 2004).
Secara patologi kecanduan
internet sangat mirip dengan kecanduan terhadap judi
(Essau, 2008). Seiring dengan
berkembangnya jaringan internet, saat ini jumlah penderita
kecanduan internet semakin
bertambah banyak. Kecanduan
jenis tersebut dapat
dialami anak-anak maupun
dewasa (Dyah, 2009).
Ada tiga hal
yang menyebabkan individu
mengalami kecanduan internet, yaitu terjerat
games, akses situs porno, dan
jejaring sosial (Elia, 2009). Salah satu jejaring sosial yang saat ini digemari masyarakat Indonesia adalah Facebook.
Saat ini
Indonesia telah menjadi
“the Republic of
the Facebook” (Putra, 2009). Ungkapan ini terinspirasi oleh
perkembangan penggunaan Facebook oleh masyarakat Indonesia
yang mencapai pertumbuhan
64,5% pada tahun
2008.
“Prestasi” ini menjadikan Indonesia
sebagai “the fastest
growing country on Facebook in
Southeast Asia”. Angka
ini bahkan mengalahkan
pertumbuhan pengguna Facebook
di China dan
India yang merupakan
peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008).
Demam
Facebook merupakan kelanjutan dari keberhasilan situs komunitas Friendster
yang berhasil menjaring
12 juta “registered
users” atau sekitar
60% pengguna internet
di Indonesia (Gunawan,
2009). Banyak pengguna
Friendster yang melakukan
migrasi ke Facebook
karena layanan yang
diberikan lebih lengkap,
mulai dari berikirim komentar, berbagi foto, video, dan catatan sehingga memenuhi
keinginan masyarakat. Dari
sekian banyak fitur
maupun fasilitas tersebut,
ada kemungkinan Facebook
menaruh harapan besar
agar dapat terus berada
di jajaran situs pertemanan di dunia maya.
Pengguna
Facebook di Indonesia
masih didominasi oleh
kaum kelas menengah ke atas yang memiliki akses internet (yang masih
tergolong mahal di Indonesia). Terhitung
sampai 22 Februari
2009, 1.333.649 user
Indonesia telah terdaftar di Facebook dan sekitar 73% (976.372
orang) di antaranya adalah user usia
produktif (18-34 tahun). Dilihat dari gender,
terdapat 688.306 user laki-laki dan 600.045 user perempuan (Gunawan, 2009).
Kebanyakan pengguna Facebook ini adalah
kalangan remaja yang
berusia 14-24 tahun
sebanyak 61,1% (Gen, 2009).
Facebook
telah membuat remaja
mengalami kecanduan. Hal
ini disebabkan oleh
dua hal, yaitu
pertama, karena senang
memperoleh teman dan mendapat perhatian
dari orang lain.
Kedua, senang menjadi
orang yang dikenal dan
diakui keberadaannya. Oleh
karena itu, akan
semakin mudah menjadi pecandu jejaring sosial di internet bila
seseorang memiliki kebutuhan besar akan perhatian,
penghargaan diri, dan pengakuan akan eksistensi dirinya (Elia, 2009).
Ada
banyak alasan remaja
memilih Facebook sebagai
bagian dari aktivitasnya. Beberapa di antaranya adalah
untuk memenuhi rasa ingin tahu agar dikatakan gaul
dan tidak ketinggalan
zaman. Melalui Facebook,
remaja lebih mudah menjalin hubungan pertemanan dari
berbagai belahan dunia dan juga dapat berbagi
cerita atau curhat dengan teman di dunia
maya untuk meringankan beban.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Donny (2010), kebanyakan
pengguna menggunakan Facebook
untuk curhat. Ketika
tidak ada kegiatan
lain yang penting,
remaja juga dapat
mengisi waktu luang
yang mereka miliki
untuk bermain Facebook. Hurlock
(1990) menyatakan bahwa remaja berada dalam fase pengembangan hubungan dengan
teman sebaya dan juga memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi, sehingga semua
alasan tersebut mewakili kebutuhan remaja.
Kecanduan
terhadap Facebook merupakan
topik yang mencemaskan
dan menarik perhatian para
orang tua. Remaja
yang sudah kecanduan jejaring sosial, seperti
Facebook, terlalu asyik
dengan dunianya sendiri
sehingga tidak perduli dengan
orang lain dan
lingkungan di sekitar
(Dyah, 2009). Remaja
yang kecanduan tampak
dari kegiatannya setiap
hari yang selalu
mencari-cari kesempatan agar
dapat memainkan Facebook
yang dimilikinya. Tidak
jarang ditemui bahwa
remaja banyak bermain
Facebook seteleh pulang
sekolah, waktu istirahat, bahkan ketika proses
belajar-mengajar terjadi. Remaja yang mengalami kecanduan Facebook akan
banyak menghabiskan waktu di
depan komputer atau
handphone. Berdasarkan hasil
survey yang dilakukan
Donny (2010) di
kota Sukabumi dan
Cilegon, 55% pengguna menggunakan Facebook dari warnet dan 22%
melalui handphone. Durasi waktu yang
digunakan juga semakin
lama akan semakin
bertambah agar individu mendapatkan efek perubahan dari perasaan,
dimana setelah bermain internet atau Facebook individu
merasakan kenyamanan dan
kesenangan (Dyah, 2009).
Sebaliknya, individu
biasanya akan merasa
cemas atau bosan
ketika bermain Facebook ditunda atau diberhentikan.
Masa remaja
adalah masa dimana
individu mulai melepaskan
diri dari ketergantungan terhadap orang tua dan lebih
banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya
(Hurlock, 1990). Tanpa
disadari, dengan menggunakan
Facebook remaja yang
seharusnya belajar bersosialisasi dengan
lingkungan di kehidupan nyata
justru lebih banyak
menghabiskan waktu bersama
teman di dunia
maya.

Skripsi Psikologi:Hubungan antara Kontrol Diri dengan Kecanduan Internet

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.