Rabu, 17 September 2014

Skripsi Pertanian:Kajian sifat kimiawi dan sensori mi instan dengan substitusi tepung bekatul beras merah dan tepung ubi jalar kuning





  1  BAB I  PENDAHULUAN
 



A.  Latar Belakang  Mi merupakan salah satu produk pangan yang
cukup populer dan  disukai oleh berbagai
kalangan masyarakat. Mi dapat dikonsumsi sebagai  bahan pangan alternatif pengganti nasi karena
kandungan karbohidratnya  yang cukup
tinggi, lebih praktis dan lebih mudah. Menurut Astawan (2006),  berdasarkan kadar airnya midapat dikelompokkan
menjadi empat macam  yaitu mi mentah
dengan kadar air sekitar 35%, mi basah dengan kadar air  sekitar 52%, mi kering dengan kadar air 8-10%
dan mi instan dengan  kandungan airnya
yang sangat rendah, yaitu hanya 5-8%.



 Mi instan adalah mi yang sudah dimasak
terlebih dahulu dan dicampur  dengan
minyak, dan bisa dipersiapkan untuk dikonsumsi hanya dengan  menambahkan air panas. Hingga tahun 2002,
setidaknya ada 55 juta porsi mi  instan
dikonsumsi setiap tahunnya di seluruh dunia. Saat ini, Indonesia adalah  produsen mi instan yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2009 produksi mi  instan di
Indonesia mencapai 1.880.892ton. Indonesia merupakan konsumen  mi instan terbesar kedua didunia dengan 12,4
milyar bungkus setiap  tahunnya. Data
konsumsi mi kering, mi basah, mi 
instant, dan bihun  penduduk
Indonesia tahun 2002 – 2007 dapat dilihat pada Tabel 1.1.



 Masalah dalam industri mi saat ini yaitu penggunaan
tepung terigu  yang sangat tinggi
sehingga mengakibatkan tingginya impor gandum.



 Menurut Suhendra (2012), Indonesia tercatat
sebagai negara pengimpor  gandum terbesar
kedua di dunia. Setidaknya berdasarkan laporan United  States Department of Agriculture (USDA)Mei
2012, impor gandum  Indonesia diprediksi
menembus 7,1 juta ton, dibandingkan dengan tahun  sebelumnya yang hanya 6,7 juta ton. Sementara
itu, pembangunan pertanian  nasional
telah mampu menghasilkan beragam komoditas sumber karbohidrat  yang perlu ditingkatkan pemanfaatannya,
terutama dalam rangka penyediaan  1    2  pangan
alternatif bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pemikiran yang paling  sering muncul adalah perlunya pengembangan
teknologi mi berbahan baku  tepung selain
tepung terigu.



Untuk mengurangi ketergantungan
mi instan terhadap tepung terigu  maka
penggunaan tepung terigu dapat dikurangi dengan penggunaan bahan  lain yaitu tepung ubi jalar dan bekatul beras
merah. Substitusi tepung terigu  dengan
tepung ubi jalar dan bekatul beras merah dapat memberdayakan  potensi sumber daya lokal. Tepung terigu
memiliki kandungan gluten yang  tinggi.
Gluten berfungsi untuk menahan udara yang masuk ke dalam adonan  pada saat proses pengadukan. Akan tetapi tidak
semua orang dapat  mengkonsumsi terigu
karena alergi terhadap terigu, seperti penderita autis.



 Selain autis, dikenal pula penyakit seliak
atau sering disebut celiac disease,  nontropical
sprue, enteropati gluten, atauceliac sprue (Nursantiyah, 2010).



 Sehingga untuk mengurangi kandungan gluten
pada tepung terigu digunakan  tepung ubi
jalar kuning dan bekatul beras merah dalam pembuatan mi instan.



 Ubi jalar tidak mengandung gluten. Gluten
merupakan komponen  terpenting dalam
tepung terigu yang berupa protein glutenin dan gliadin yang  telah bereaksi dengan air sehingga membentuk
massa yang elastis dan  ekstensibel.
Protein gliadin merupakan fraksi massa yang dapat larut dalam  air sedangkan protein gluten bersifat lengket
dan tidak larut dalam air. Sifat    3  elastis gluten pada adonan menyebabkan mi
tidak mudah putus pada proses  pencetakan
dan gelatinisasi.



 Potensi ubi jalar sebagai bahan baku industri
pangan sangat besar,  mengingat sumber
daya bahan tersedia melimpah, karena budidaya yang  mudah dan masa panen yang singkat, selain itu
ubi jalar juga memiliki  fleksibilitas
yang tinggi dalam pengolahan, kandungan zat gizinya cukup  lengkap bahkan beberapa zat diantaranya sangat
penting bagi tubuh karena  berfungsi
fisiologis yaitu antosianin dan karotenoid sebagai antioksidan  (Rosidah, 2010). Untuk meningkatkan fungsional
mi, selain ubi jalar kuning  perlu
ditambahkan bekatul beras merah yang memiliki kandungan fungsional  yang cukup tinggi.



 Bekatul merupakan salah satu bahan makanan
serealia hasil  sampingan yang diperoleh
dari lapisan luar beras pecah (Lestari, 2004).



 Kandungan vitamin dan mineral beras merah 2-3
kali beras putih  (Kridatmaja, 2011).
Menurut Juliano (1985) yang dikutip oleh Kim et al (2001) bahwa bekatul kaya
akan  lipid, protein, vitamin B, dan  fiber.



 Ardiansyah (2004) menambahkan bekatul juga
mengandung vitamin E, asam  lemak
esensial, dan  oryzanol. Komponen vitamin
E yang berada dalam  bekatul yaitu
tokoferol dan tokotrienol. Tokoferol adalah vitamin E yang  bersifat antioksidan yang kuat sehingga
penting dalam menjaga kesehatan  manusia.
Heli dan Lundry (2005) menyebutkan bahwa oryzanol merupakan  suatu komponen kompleks yang dapat berperan
sebagai antioksidan.



 Struktur fisik dan kimia pati dalam granula
pati berpengaruh terhadap  sifat-sifatnya
dalam makanan. Granula pati tepung terigu rapat, berbentuk  elips, dan memiliki ukuran granula 2-35 µm,
selain itu, rasio amilosa 25 %  dan rasio
amilopektinnya 75%. Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai  bahan dalam pembuatan mi instan, sebagai bahan
pengisi, pengikat dan  penstabil karena
dayamengikat airnya tinggi. Tepung ubi jalar mempunyai  kadar protein yang rendah, tetapi presentase
lysinnya lebih tinggi dan baik  digunakan
sebagai substitusi tepung terigu. Menurut Honestin (2007), granula  pati tepung ubi jalar memiliki bentuk
poligonal, bulat, hingga lonjong dengan    4  ukuran
granula tidak seragam. Ukuran granula pati ubi jalar yang belum  tergelatinisasi berkisar antara 2-10  µm. Untuk bekatul, bekatul memiliki  ukuran granula yang lebih besar dibandingkan
ukuran granula tepung terigu  dan tepung
ubi jalar, sehingga dalam pembuatan mie instan presentase  bekatul juga lebih sedikit dibandingkan
presentase tepung ubi jalar dan  tepung
terigu.



 Kandungan kimia masing-masing bahan juga dapat
mempengaruhi  sifat fisikokimia bahan
makanan. Kandungan karbohidrat dan protein bersifat  hidrofilik, sedangkan kandungan lemak bersifat
hidrofobik. Dengan sifat  yang demikian,
maka lemak dapat menghambat pengikatan air oleh granula  sehingga mengurangi daya kembang. Ubi jalar
kuning memiliki kandungan  karbohidrat
(32,3%) dan protein (1,1%), lebih tinggi bila dibandingkan  kandungan lemaknya (0,4%), sehingga tepung ubi
jalar dapat digunakan  sebagai substitusi
tepung terigu karena memiliki fraksi hidrofilik yang lebih  besar. Bekatul beras merah juga memiliki
kandungan karbohidrat (51-55%) dan protein (14,5%) yang cukup tinggi, akan
tetapi bekatul beras merah juga  memiliki
kandungan lemak 7,4%, sehingga penggunaannya masih dibatasi  agar hasil adonan yang didapatkan memiliki
homogenitas yang baik dan lebih  mudah
meyerap air.



 Oleh karena itu, dengan ditambahkannya ubi
jalar kuning dan bekatul  beras merah
diharapkan dapat meningkatkan kandungan gizi mi instan seperti  kandungan protein, serat dan antioksidan dalam
mi instan akan menjadi lebih  tinggi.
Antioksidan sangat penting ditambahkan dalam bahan pangan,  antioksidan dapat menetralkan radikal-radikal
bebas yang masuk ke dalam  tubuh. Ubi
jalar kuning mengandung betakaroten, sedangkan bekatul beras  merah mengandung antosianin, yang selanjutnya
dari kedua kandungan gizi  tersebut
diharapkan dapat berfungsi sebagai antioksidan di dalam mi instan  ubi jalar kuning dan bekatul beras merah.



 Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu
dilakukan penelitian  mengenai kajian
sifat kimiawi dan sensori mi instan berbahan baku tepung  terigu dengan substitusi tepung ubi jalar
kuning dan tepung bekatul beras    5  merah yang mengandung antioksidan sebagai
senyawa fungsional dalam mi  instan.



 B. 
Perumusan Masalah  Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah  yang dapat diambil adalah:  1. 
Bagaimana sifat sensori mi instan yang disubstitusi dengan tepung ubi  jalar kuning dan tepung bekatul beras merah
yang paling disukai  panelis?  2. 
Bagaimanakah sifat kimiawi, aktivitas antioksidan, dan waktu rehidrasi  mi instan yang dibuat dengan substitusi tepung
ubi jalar kuning dan  tepung bekatul
beras merah?  C.  Tujuan Penelitian  Tujuan dari penelitian ini antara lain:  1. 
Menentukan formula mi instan yang dibuat dengan substitusi tepung ubi  jalar kuning dan tepung bekatul beras merah
yang paling disukai panelis.



 2. 
Mengetahui sifat kimiawi (kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar  lemak, dan kadar karbohidrat) dan aktivitas
antioksidan, serta waktu  rehidrasi mi
instan yang dibuat dengan substitusi tepung ubi jalar kuning  dan tepung bekatul beras merah.


Download lengkap Versi PDF








Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.