Rabu, 17 September 2014

Skripsi Pertanian:Analisis ketahanan pangan pada rumah tangga petani rawan bencana banjir di Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro





   I.
PENDAHULUAN A.  Latar Belakang Pangan  telah 
menjadi  bagian  dari 
hak  asasi  manusia 
yang  penyelenggaraan  terkait 
pangan  telah  diatur 
dalam  Undang-Undang  Pangan  Nomor 
18  Tahun  2012. 
Undang-undang  tersebut  menekankan 
pada  keberagaman  pangan 
dalam  pemenuhan  kebutuhan 
pangan  tingkat  perorangan. 
Undang-Undang  Pangan  Nomor 
18  Tahun  2012 
Pasal  1  Ayat  2
 menjelaskan  tentang 
ketahanan  pangan  adalah 
kondisi  terpenuhinya  Pangan  bagi 
negara  sampai  dengan 
perseorangan,  yang  tercermin 
dari  tersedianya  Pangan 
yang  cukup,  baik 
jumlah  maupun  mutunya, 
aman,  beragam,  bergizi,  merata, dan terjangkau serta tidak
bertentangan dengan agama, keyakinan, dan  budaya 
masyarakat,  untuk  dapat  hidup  sehat, 
aktif,  dan  produktif 
secara  berkelanjutan.
(Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012) Kabupaten 
Bojonegoro  merupakan salah satu
kabupaten  penghasil  padi  di
Jawa Timur. Perkembangan produksi padi di Kabupaten  Bojonegoro 
dapat  dilihat pada Tabel 1.
berikut ini.



Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten
Bojonegoro  Berdasarkan Tabel 1. dapat
diketahui bahwa produksi padi di Kabupaten  Bojonegoro 
dalam  lima  tahun 
terakhir  mengalami  peningkatan 
yang  cukup  signifikan. 
Namun,  meningkatnya  produksi 
padi  di  Kabupaten 
Bojonegoro  belum tentu menjamin
ketersediaan pangan pokok secara umum pada tingkat  rumah 
tangga  petani.  Produksi 
padi  dipengaruhi  oleh 
beberapa  faktor  salah  satunya
dipengaruhi oleh ketersediaan air.      Sektor 
pertanian  di  Bojonegoro 
merupakan  penopang  utama  pertumbuhan  daerah 
karena  mempunyai  kontribusi 
terhadap  PDRB  sebesar  46,38% 
(www.bojonegoro.go.id). 
Komoditas  pertanian  khususnya 
tanaman  pangan yang diproduksi di
daerah tersebut antara lain padi, jagung, ubi kayu,  ubi 
rambat,  kedelai,  kacang 
tanah  dan  kacang 
hijau.  Kecamatan-kecamatan  yang berada di sepanjang daerah aliran sungai
Bengawan Solo, para petani di  daerah  tersebut 
setiap  tahunnya  menerapkan 
pola  tanam  padi 
–  padi  – 
padi,  padi - padi – jagung atau
padi – jagung – jagung. Berbagai potensi pertanian di  daerah ini terancam karena potensi banjir yang
hampir terjadi pada saat musim  hujan
tiba. Tanaman pangan banyak yang hanyut terbawa air, rusak dan mati  akibat 
banjir  serta  gagal 
panen  akibat  luapan 
Sungai  Bengawan  Solo.



Walaupun  kerugian 
yang  diderita  oleh 
petani  berulang  setiap 
kali  terjadi  banjir, 
para  petani  di 
daerah  ini  masih 
mengusahakan  tanaman  padi 
yang  rentan terhadap genangan air
atau banjir.



Menurut Nainggolan (2005), sisi
ketersediaan adalah tersedianya pangan  yang  cukup 
bagi  seluruh  penduduk 
dalam  jumlah,  mutu, 
keamanan,  dan  keterjangkauan.  Dari 
sisi  konsumsi  yaitu 
adanya  kemampuan  setiap 
rumah  tangga untuk mengakses
pangan yang cukup bagi masing-masing anggotanya  untuk tumbuh, sehat, dan produktif dari waktu
ke waktu. Kedua sisi tersebut  memerlukan  distribusi 
yang  efisien,  yang 
dapat  menjangkau  ke 
seluruh  wilayah dan seluruh
golongan masyarakat.



Hasil studi Dewan Ketahanan
Pangan Republik Indonesia dan Program  Pangan  Dunia 
Perserikatan  Bangsa-Bangsa  (PBB) 
menunjukkan  bahwa  dari  29
kabupaten di Jawa Timur, 40 persen atau sebanyak 12 kabupaten termasuk  rawan pangan. Hal tersebut seperti yang
digambarkan dalam Peta Kerawanan  Pangan  Indonesia 
Tahap  Satu  Propinsi 
Jawa  Timur  (Jatim) 
Tahun  2003.



Kedua  belas 
kabupaten  di  Jatim 
yang  dinyatakan  rawan 
pangan  adalah  Bangkalan, 
Sampang,  Sumenep,  Pamekasan, 
Tuban,  Bojonegoro,  Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang,
Malang, dan Pacitan. (Badan  Ketahanan
Pangan Nasional, 2006).



  
Widyakarya  Nasional  Pangan 
dan  Gizi  VIII 
pada  tahun  2004  merumuskan  bahwa 
Angka  Kecukupan  Energi 
(AKE)  rata-rata  orang  Indonesia
pada tingkat konsumsi sebesar 2.000  kkal
per orang per hari maka  Angka  Kecukupan 
Protein  (AKP)  sebesar 
52  gram  per 
kapita  per  hari.



Sedangkan  pada 
tingkat  ketersediaan  energi 
sebesar  2.200  kkal 
maka  AKP  adalah sebesar 57 gram per kapita per hari.
Apabila angka tersebut tidak dapat  dicapai  oleh 
suatu  rumah  tangga, 
maka  rumah  tangga 
tersebut  berpotensi  mengalami rawan pangan.



B.  Perumusan Masalah Kecamatan  Trucuk 
merupakan  salah  satu 
Kecamatan  di  Kabupaten  Bojonegoro. 
Mayoritas  penduduknya  bermata 
pencaharian  sebagai  petani.



Wilayah  ini 
termasuk  kedalam  kategori 
wilayah  yang  rawan 
banjir  karena  terletak di 
pinggiran sungai  Bengawan
Solo.  Banjir yang melanda Kabupaten  Bojonegoro 
dalam  kurun  waktu 
6  tahun  terakhir 
mengakibatkan  gangguan  kesehatan 
masyarakat,  aktivitas  perekonomian 
terganggu  dan  merusak infrastruktur.  Selain 
itu,  banjir  juga 
menyebabkan  beberapa  kerugian 
harta,  benda,  dan 
kerusakan  lingkungan.  Setiap 
musim  penghujan  pada 
Bulan  Desember  sampai 
Bulan  Maret  air 
sungai  Bengawan  Solo 
meluap  dan  menggenangi   
lahan  pertanian  rumah 
tangga  petani  di 
Kecamatan  Trucuk.



Lama genangan yang terjadi antara
7 sampai 10 hari, sehingga  menyebabkan tanaman  padi membusuk. Rumah tangga petani tidak
dapat melakukan panen  karena seluruh
tanaman padi terbenam dan rusak.  Petani
tidak dapat menjual  hasil  panen 
maupun  mengkonsumsi  sendiri 
hasil  panen.  Kehilangan 
hasil  produksi  pertanian 
maupun  cadangan  pangan 
rumah  tangga  menyebabkan  rumah tangga petani mengalami resiko rawan
pangan.



Proporsi  pengeluaran konsumsi pangan merupakan salah
satu indikator  ketahanan  pangan, 
makin  besar  proporsi 
pengeluran  untuk  pangan 
berarti  ketahanan pangan
semakin  berkurang.  Pendapatan rumah tangga dialokasikan  untuk 
memenuhi  kebutuhan  pangan 
maupun  non  pangan. 
Tingginya  pendapatan  suatu 
rumah  tangga  berarti 
semakin  besar  tingkat 
aksesibilitas  dalam mendapatkan
pangan baik. Rendahnya pendapatan rumah tangga petani     akan 
berdampak  pada  berkurangnya 
kesempatan  untuk  mendapatkan 
pangan  dengan kualitas baik.  Pendapatan yang rendah akan mengakibatkan
buruknya  kondisi pangan rumah tangga.



Rumah  tangga 
petani  di  daerah 
rawan  banjir  yang 
kerap  mengalami  gagal 
panen  setiap  tahunnya 
tidak  mampu  memaksimalkan 
pendapatan  dari  usaha taninya. 
Besarnya pendapatan petani 
akan  mempengaruhi  pengeluaran  konsumsi 
pangan  dan  konsumsi 
energi  petani  di 
Kecamatan  Trucuk  Kabupaten Bojonegoro.  Pendapatan yang rendah pada petani di daerah
rawan banjir menentukan jenis  dan
kualitas bahan pangan  yang
dikonsumsi.    Daya  beli 
yang  rendah  menyebabkan 
bahan  pangan  yang 
mampu  dibeli  petani  menjadi 
terbatas.  Proporsi  pengeluaran 
pangan  dan  konsumsi 
energi  dapat  dijadikan acuan untuk melihat kondisi
ketahanan pangan rumah tangga petani  tersebut  dalam 
kategori  tahan  pangan, 
rentan  pangan,  kurang 
pangan,  atau  rawan 
pangan  sehingga  ketahanan 
pangan  rumah  tangga 
petani  dapat  diketahui.



Berdasarkan uraian diatas,  Permasalahan 
yang dapat dirumuskan adalah  sebagai
berikut : 1.  Berapa  besarnya 
proporsi  pengeluaran  konsumsi 
pangan  terhadap  total  pengeluaran  Rumah 
Tangga  Petani  rawan 
bencana  banjir  di 
Kecamatan  Trucuk Kabupaten
Bojonegoro? 2.  Berapa  besarnya 
tingkat  konsumsi  energi 
dan  protein  Rumah  Tangga
Petani  rawan  bencana 
banjir  di  Kecamatan 
Trucuk  Kabupaten  Bojonegoro? 3. 
Bagaimana  kondisi  ketahanan 
pangan  Rumah  Tangga 
Petani  rawan  bencana banjir di Kecamatan Trucuk Kabupaten
Bojonegoro  berdasarkan  proporsi pengeluaran pangan dan tingkat
konsumsi energi? C.  Tujuan Penelitian 1.  Untuk menganalisis proporsi pengeluaran
konsumsi pangan terhadap total  pengeluaran  Rumah 
Tangga  Petani  rawan 
bencana  banjir  di 
Kecamatan  Trucuk Kabupaten
Bojonegoro.



  
2.  Untuk menganalisis  besarnya tingkat konsumsi energi  dan protein Rumah  Tangga 
Petani  rawan  bencana 
banjir  di  Kecamatan 
Trucuk  Kabupaten  Bojonegoro.



3.  Untuk 
menganalisis  kondisi  ketahanan 
pangan  Rumah  Tangga 
Petani  rawan  bencana 
banjir  di  Kecamatan 
Trucuk  Kabupaten  Bojonegoro  berdasarkan proporsi pengeluaran pangan dan
tingkat konsumsi energi.



D.  Kegunaan Penelitian 1.  Bagi 
peneliti,  hasil  penelitian 
ini  bermanfaat  untuk 
menambah  wawasan  dan 
pengetahuan  yang  lebih 
luas  dan  sebagai 
salah  satu  syarat 
guna  memperoleh  gelar 
sarjana  dari  Fakultas 
Universitas  Sebelas  Maret  Surakarta.



2.  Bagi 
pemerintah Kabupaten Bojonegoro, penelitian ini sebagai sumbangan  pemikiran 
dan  bahan  pertimbangan 
dalam  pengambilan  kebijakan  khususnya 
terkait  dengan  pemantapan 
ketahanan  pangan  daerah 
di  Kabupaten Bojonegoro.


Download lengkap Versi PDF








Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.