Rabu, 24 September 2014

Skripsi Keperawatan:Persepsi Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini



BAB PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Air S Ibu
(ASI) adalah makanan satu-satunya yang paling sempurna untuk menjamin tumbuh kembang bayi pada enam
bulan pertama. Selain itu, dalam proses
menyi yang benar, bayi akan mendapatkan perkembangan jasmani, emosi, maupun spiritual yang baik
dalam kehidupannya (Saleha, 2009).
Banyak ibu-ibu yang mengalami kesulitan untuk menyi bayinya.
Hal ini disebabkan kemampuan bayi
untuk mengisap ASI kurang sempurna sehingga
secara keseluruhan proses meny terganggu. Keadaan ini ternyata disebabkan terganggunya proses alami dari bayi
untuk meny sejak dilahirkan. Selama ini,
penolong persalinan selalu memisahkan bayi dari ibunya segera setelah lahir, untuk
dibersihkan, ditimbang, ditandai, dan diberi pakaian. Ternyata proses ini sangat menganggu
proses alami bayi untuk meny (Roesli,
2008).
Inisiasi menyi dini adalah proses
alami mengembalikan bayi manusia untuk
meny, yaitu dengan memberi kesempatan pada bayi untuk mencari dan mengisap ASI sendiri dalam satu jam
pertama pada awal kehidupannya.
Hal itu terjadi, jika segera
setelah lahir, bayi dibiarkan kontak kulit dengan kulit ibu nya, setidaknya selama satu jam
untuk menjamin berlangsungnya proses
menyi yang benar (Roesli, 2008).
Biarkan bayi meny sesegera mungkin setelah
bayi lahir terutama dalam satu jam
pertama, karena bayi baru lahir sangat aktif dan tanggap dalam satu jam pertama dan setelah itu akan mengantuk dan
tertidur. Bayi mempunyai refleks
menghisap (sucking refleks) sangat kuat
pada saat itu. Proses menyi dilakukan
dengan membiarkan bayi diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit ke kulit antara
ibu dengan bayi. Bayi akan mulai bergerak
mencari puting s ibu dan menghisapnya. Kontak kulit dengan kulit ini akan merangsang aliran ASI, membantu
ikatan batin (bonding) ibu dan bayi
serta perkembangan bayi (IDAI, 2008).
Sentuhan tangan bayi di puting s
dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi
pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin. Hormon yang penting agar menyebabkan rahim ibu
berkontraksi sehingga membantu pengeluaran
plasenta dan mengurangi pendarahan. Hal ini dapat menurunkan angka kematian ibu pasca persalinan. Inisiasi
meny dini tidak hanya menyukseskan
pemberian ASI eksklusif tetapi juga menyelamatkan nyawa bayi. Resiko kematian bayi meningkat dengan di
tundanya inisiasi meny dini. Oleh karena
itu meny di satu jam pertama bayi baru lahir sangat berperan dalam menurunkan angka kematian bayi
(Roesli, 2008).
ASI dalam satu jam pertama adalah
harta yang tidak ternilai untuk bayi.
Inilah hak pertama seorang bayi
setelah ia dilahirkan. Ibu bisa membiarkan bayinya belajar meny sendiri begitu bayi
dilahirkan. Keberhasilan IMD ini telah
dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap 10.947 bayi baru lahir antara bukan juli 2003 dan juni
2004 di Ghana, ternyata bila bayi dapat
meny 1 jam pertama dapat menyelamatkan 22% bayi dari kematian saat usia bayi sebelum 28 hari (Roesli, 2008).
Sesuai dengan (SDKI) 2007 Angka
Kematian Bayi (AKB) masih berada pada
kisaran 34 per 1.000 kelahiran hidup. Upaya untuk mencegah kematian bayi baru lahir yang baru disosialisasikan di
Indonesia sejak agustus 2007 adalah
melalui Inisiasi Meny Dini (IMD). Pemberian ASI sejak dini dapat memberikan efek perlindungan pada bayi dan
balita dari penyakit infeksi.
Oleh karena itu, disarankan untuk
memberi ASI bagi bayi segera mungkin yaitu
dalam waktu 1 jam sesaat setelah bayi lahir (Roesli, 2008).
Jarangnya pelaksanaan IMD, dan
kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan
IMD menyebabkan keberhasilan menyi tidak optimal. Menurut survei demografi kesehatan yang dilakukan pada
tahun 2002-2003 hanya 4% bayi yang
mendapat ASI pada satu jam pertama kelahiran dan 8% bayi mendapatkan ASI eksklusif sedangkan pemerintah
menargetkan 80% pencapaian pemberian ASI
eksklusif (Roesli, 2008).
Dengan melakukan Inisiasi Meny
Dini (IMD) dapat mengetahui apakah bayi
akan mendapat cukup ASI atau tidak. Kadang-kadang ibu keberatan untuk menyi bayi nya dengan alasan
ASI belum keluar. Dalam hal ini ibu
harus diberi penjelasan sebaik-baiknya tentang maksud dan tujuan pemberian ASI sedini mungkin (Sumarah dkk,
2009).
Selama ini, baik tenaga kesehatan
maupun orang tua berpendapat bahwa bayi
baru lahir tidak mungkin dapat meny sendiri. Untuk mendapat ASI pertama kalinya, harus membantu bayi dengan
memasukkan puting s ke mulut bayi atau
menyinya. Padahal, bayi baru lahir belum siap meny sehingga jika ibu menyi bayi nya untuk pertama
kali, kadang bayi hanya melihat dan
menjilat puting s, bahkan menolak untuk mey (Roesli, 2008).
Beberapa alasan yang melandasi
dalam prakteknya, sulit sekali untuk melaksanakan
IMD. Kesulitan ini tidak terletak pada aspek tekhnis, tetapi lebih pada aspek sosial. Aspek sosial disini
meliputi masyarakat yang belum banyak
tahu tentang IMD (terutama Ibu yang mau melahirkan), tenaga penolong persalinan yang belum mengenal lebih
jauh IMD, serta keengganan tenaga
kesehatan untuk melakukan IMD karena berbagai alasan.
Penting untuk menyampaikan
informasi tentang IMD pada tenaga kesehatan
yang belum menerima informasi ini. Dianjurkan juga kepada tenaga kesehatan untuk menyampaikan informasi
IMD pada orang tua dan keluarga sebelum
melakukan IMD. Juga dianjurkan untuk menciptakan suasana yang tenang, nyaman, dan penuh
kesabaran untuk memberi kesempatan bayi
merangkak mencari payudara ibu atau ”the breast crawl” (Roesli, 2008).
Kondisi ini juga perlu
dipersiapkan sejak bayi dalam kandungan. Selama kehamilan, ibu sudah mendapatkan konseling
tentang pentingnya ASI dan makanan yang
dapat meningkatkan produksi ASI. Secara psikologis ibu harus siap sehingga ia mau dan mampu untuk
menyi (Purwanti, 2004).
Berdasarkan studi lapangan yang
peneliti lakukan di tiga klinik bersalin kota medan, 6 dari 10 orang ibu hamil tidak
mengetahui tentang inisiasi meny dini.
Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi ibu tentang inisiasi meny dini. Pengetahuan yang cukup
tentang IMD bagi masyarakat dan keluarga
sangat diperlukan. Terutama mengenai manfaatnya yang luar biasa, sehingga mereka termotivasi untuk
melakukan IMD bagi calon anak yang akan
terlahir kelak. Hal ini penting, karena bagaimanapun keluarga ingin memberikan yang terbaik bagi si anak,
terutama pada awal-awal kehidupannya dan
yang terbaik bagi bayi di awal kehidupan tersebut adalah ASI. Dengan informasi yang diberikan kepada
ibu hamil diharapkan terjadi suatu
proses perubahan perilaku ibu sehingga ibu memiliki keinginan dan mau melakukan inisiasi meny dini pada saat
persalinan. Maka berdasarkan uraian
tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi persepsi ibu hamil
tentang inisiasi meny dini.
1.2. Pertanyaan Penelitian Bagaimana
Persepsi Ibu Hamil Tentang Inisiasi Meny Dini di Klinik Bersalin Kota Medan? 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi Persepsi Ibu Hamil Tentang
Inisiasi Meny Dini di Klinik Bersalin Kota Medan.

Skripsi Keperawatan:Persepsi Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.