Rabu, 24 September 2014

Skripsi Keperawatan:Perilaku Nyeri Pasien Post Operasi dengan Tipe Kepribadian A dan B



BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Kepribadian adalah pola
kognitif, afektif, dan perilaku yang berbeda dan karakteristik yang menentukan gaya personal
individu serta mempengaruhi interaksinya
dengan lingkungan (Sarafino, 2002).
Kepribadian mengatur tingkah laku
manusia dalam merespons hal-hal yang ada di lingkungannya, dan setiap individu mempunyai cara yang
berbeda-beda dalam merespons hal tersebut
sesuai dengan tipe kepribadiannya. Tipe kepribadian dibagi dalam dua jenis, yaitu tipe kepribadian A dan B. Hal
ini diungkapkan Friedman dan Rosenman
(1974 dalam Sarafino, 2002; Sarafino, 2006) sebagai orang yang pertama sekali memperkenalkan pembagian tipe
kepribadian A dan B pada manusia. Tipe
kepribadian A adalah perilaku atau emosional yang dikarakteristikka n dengan tingkat kompetitif
(persaingan) yang tinggi, sangat menghargai
waktu, pemarah, dan suka bermhan. Sedangkan tipe kepribadian B adalah perilaku atau emosional
yang dikarakteristikkan dengan tingkat
kompetitif (persaingan) yang rendah, lebih santai terhadap waktu, tenang, dan tidak mudah marah (Sarafino, 2006).
Hasil penelitian Friedman &
Rosenman (1974 dalam Sarafino, 2002), menyatakan
bahwa ada hubungan kepribadian dengan perilaku seseorang.
Sehingga dengan mengetahui tipe
kepribadian pasien, perawat dapat mengobservasi
perilaku pasien khsnya perilaku nyeri. Oleh karena itu, penting bagi perawat mengindentifikasi tipe
kepribadian pasien pada saat melakukan
pengkajian nyeri. Karena setiap individu cenderung untuk menunjukkan perilaku nyeri ketika mereka
merasakan ketidaknyamanan, dan setiap
individu menunjukkan tipe dan pola perilaku yang berbeda pula (Sarafino, 2002). Seperti halnya fenomena yang
sering kita lihat di rumah sakit, setiap individu mempunyai perilaku yang
berbeda-beda dalam menghadapi nyeri yang
mereka rasakan. Perilaku ini sangat beragam dari waktu ke waktu (Smeltzer & Bare, 2001).
Ketika pasien berada pada beberapa
tingkat nyeri, perilaku tersebut dihubungkan dengan nyeri yang akan terjadi (Fordyce, 1976 dalam Harahap,
2006). Dengan menganalisa perilaku nyeri
dapat membantu perawat dalam memberikan penilaian dasar dan cara menentukan hal-hal apa yang
menyebabkan nyeri yang dialami pasien
(Taylor, 1995; Taylor, 2009).
Perilaku nyeri ini mencakup
perilaku verbal dan nonverbal dalam merespons
suatu nyeri seperti keluhan, rintihan, berteriak, sikap, dan ekspresi wajah. Ada orang yang menanggapinya dengan
perasaan takut, gelisah, dan cemas.Ada
pula yang menanggapinya dengan sikap yang optimis dan penuh toleransi (Smeltzer & Bare, 2001).
Sebagian orang merespons nyeri dengan menangis,
mengerang dan menjerit-jerit, meminta pertolongan, gelisah di tempat tidur, atau berjalan mondar-mandir
tidak tentu arah untuk mengurangi rasa nyeri.
Ada juga orang yang tidur sambil menggemertakkan gigi atau mengepalkan tangan
ketika mengalami nyeri (Berger, 1992).
Nyeri merupakan masalah utama pasien post
operasi (Alexander & Hill, 1987).
Kira-kira 80 % pasien post operasi mengalami nyeri sedang sampai hebat (Rekozar, 2005). Nyeri post operasi
biasanya berlokasi pada area pembedahan.
Intensitas nyeri yang dirasakan tergantung pada lokasi, jenis pembedahan, persepsi pasien tentang nyeri, dan
lain-lain (Good & Roykulcharoen,
2004).
Berdasarkan survey yang dilakukan
oleh peneliti pada tanggal 19 Maret 2011,
didapatkan data bahwa jumlah pasien post operasi di ruang rindu B2 RSUP HAM Medan rata-rata sebanyak 47 orang per
bulan selama satu tahun terakhir. Dengan
jumlah pasien yang relatif banyak ini, perawat harus lebih fokus lagi dalam mengkaji nyeri yang dirasakan
pasien. Salah satu komponen pengkajian
yang penting adalah mengidentifikasi tipe kepribadian pasien sehingga perawat mengetahui perilaku nyeri
pasiennya. Penelitian mengenai perilaku
nyeri pada pasien post operasi dengan tipe kepribadian A dan B belum pernah dilakukan di ruang rindu B2 RSUP
HAM Medan. Oleh karena itu, peneliti
melakukan penelitian mengenai perilaku nyeri pasien post operasi dengan tipe kepribadian A dan B di
ruang rindu B2 RSUP HAM Medan, agar kita
sebagai perawat dapat lebih memahami perilaku yang ditunjukkan individu khsnya pasien dalam
menghadapi nyeri yang dirasakannya,
sehingga perawat dapat bersikap tepat dalam menghadapi pasien dan dapat menjalankan asuhan
keperawatan dengan efektif dan efisien karena
telah memahami kepribadian pasiennya.
1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar
belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah perilaku nyeri pasien
post operasi dengan tipe kepribadian A
dan B di ruang rindu B2 RSUP HAM Medan.
1.3. Pertanyaan Penelitian Bagaimana
perilaku nyeri pasien post operasi dengan tipe kepribadian A dan B di ruang rindu B2 RSUP HAM Medan? 1.4.
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perilaku
nyeri yang diekspresikan oleh pasien post operasi dengan
tipe kepribadian A dan B.
1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1.
Praktik Keperawatan Sebagai informasi
dan tambahan pengetahuan bagi perawat dalam memahami perilaku nyeri pasien post operasi
dengan tipe kepribadian A dan B sehingga
dapat memberikan intervensi yang tepat kepada pasien dengan masalah keperawatan nyeri dalam
rangka meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan.
1.5.2. Pendidikan Keperawatan Sebagai informasi dan tambahan pengetahuan
kepada perawat bahwa perlu adanya
pengkajian tipe kepribadian A dan B di dalam pengkajian nyeri agar perawat lebih mengetahui perilaku
nyeri yang ditunjukkan pasien post
operasi.
1.5.3. Penelitian Keperawatan Sebagai
masukan atau sumber data bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian yang lebih lanjut
mengenai perilaku nyeri pasien post
operasi dengan tipe kepribadian A dan B.

Skripsi Keperawatan:Perilaku Nyeri Pasien Post Operasi dengan Tipe Kepribadian A dan B

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.