BAB PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah
penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis),
sebagian besar kuman TBC menyerang paru.
TB Paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis merupakan penyakit kronis (menahun) yang telah
lama dikenal oleh masyarakat luas dan
ditakuti karena menular. Penyakit ini menjadi tidak terkendali pada sebagian besar dunia, dan salah satu penyebab
utama kematian di Indonesia serta negara-negara
berkembang lainnya (Depkes, 2002).
Menurut Depkes (2010), TB
merupakan salah satu masalah kesehatan penting
di Indonesia. Selain itu, Indonesia menduduki peringkat ke-3 negara dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia
setelah India dan China. Jumlah penderita
TB di Indonesia adalah sekitar 5,8 % dari total jumlah penderita TB dunia. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun
terdapat 528.000 kasus TB baru dengan
kematian sekitar 91.000 orang. Angka prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2009 adalah 100 per 100.000 penduduk dan
TB terjadi pada lebih dari 70% usia
produktif. Dalam keadaan itu kerugian ekonomi akibat TB juga cukup besar.
Di Sumatera Utara pada tahun 2008
ditemukan sebanyak 14.158 orang penderita
TB Paru dan 264 orang diantaranya meninggal dunia. Sebagian besar penderita TB Paru tersebut berusia 17 – 54
tahun (kelompok usia produktif) dengan
persentase jumlah mencapai 70%. Seorang penderita dengan BTA positif dapat menularkan kepada 10 – 15
orang setiap tahunnya. Kondisi ini menyebabkan
tingginya angka penderita TB Paru di Sumatera Utara (Depkes, 2009).
Untuk menanggulangi kasus TB Paru
di Indonesia bertepatan dengan peringatan
hari TB Paru sedunia, Menteri Kesehatan Indonesia pada tanggal 24 Maret 1999 mencanangkan dimulainya Gerakan
Terpadu Nasional Penanggulangan TB
(Gerdunas TB) sebagai wahana untuk pemberantasan TB Paru. Penanggulangan TB Paru dilaksanakan
dengan strategi Directly Observed Treatment
Shortcourse (DOTS) atau pengawasan langsung menelan obat, yang dilaksanakan di puskesmas juga melibatkan
rumah sakit. DOTS adalah strategi program
pemberantasan tuberkulosis paru yang direkomendasikan oleh WHO tahun 1995. (Depkes, 2007; Santa, 2009).
Strategi DOTS mempunyai lima
komitmen penting yaitu: komitmen politik
dari para pengambil keputusan termasuk dukungan dana, penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis, pengobatan dengan paduan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO),
jaminan tersedianya OAT jangka pendek
secara teratur, menyeluruh dan tepat waktu dengan mutu terjamin, serta sistem pencatatan dan pelaporan secara baku
untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi
program penanggulangan TB Paru. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK
(Unit Pelayanan Kesehatan) terutama
Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar (Depkes,2007; Aditama, 2002).
Tujuan dari program
penanggulangan tuberkulosis nasional, yaitu angka penemuan kasus minimal 70% dan angka
kesembuhan minimal 85%, dimana penatalaksanaan
penyakit TB merupakan hal penting yang harus diperhatikan yaitu tidak sekedar memastikan pasien menelan
obat sampai dinyatakan sembuh, tetapi
juga berkaitan dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan,petugas yang terkait, pencatatan, pelaporan, evaluasi
kegiatan dan rencana tindak lanjutnya.
Sehingga dalam jangka waktu 5 tahun kedepan angka prevalensi TB di Indonesia dapat diturunkan sebesar 50%
(Depkes, 2007).
Untuk tercapainya tujuan tersebut
puskesmas sebagai pelaksana program penanggulangan
TB Paru di masyarakat perlu melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan dalam memberikan
pelayanan kepada penderita TB Paru dengan
cara mengukur atau menilai kepuasan penderita TB. Pohan (2007) menyatakan bahwa pasien yang mengalami
kepuasan terhadap layanan kesehatan yang
diselenggarakan cenderung mematuhi nasihat, setia, atau taat terhadap rencana pengobatan yang telah disepakati.
Sebaliknya, pasien yang tidak merasakan
kepuasan atau kekecewaan sewaktu menggunakan layanan kesehatan cenderung tidak mematuhi rencana pengobatan,
tidak mematuhi nasihat, berganti dokter
atau pindah ke fasilitas layanan kesehatan lainnya.
Menurut Pohan (2007) kepuasan
pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien
yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkan
dengan apa yang diharapkannya.
Heriandi (2006) menyatakan bahwa
kepuasan pasien akan tercapai apabila setiap pasien memperoleh hasil yang optimal dari
pelayanan, adanya perhatian terhadap kemampuan
pasien/keluarga, terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan memprioritaskan kebutuhan pasien.
Layanan kesehatan yang bermutu sering
dipersepsikan sebagai suatu layanan
kesehatan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi layanan kesehatan dan sekaligus diinginkan
baik oleh klien (individu) ataupun masyarakat
serta terjangkau oleh daya beli masyarakat. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap layanan
kesehatan yaitu kesembuhan, kebersihan,
informasi yang lengkap tentang penyakit, memberi jawaban yang dimengerti, memberi kesempatan untuk bertanya,
ketersediaan obat, privasi, waktu
tunggu, kesinambungan layanan oleh petugas yang sama, dan biaya layanan kesehatan (Ferry, 2009; Pohan, 2007).
Berdasarkan survey awal yang
dilakukan peneliti di puskesmas Medan Johor
dengan jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas sebanyak 83.106 orang. Diperoleh data mengenai jumlah
penderita TB Paru pada periode bulan Januari
sampai Oktober 2010 sebanyak 55 orang dengan hasil pemeriksaan kultur BTA positif dan yang sedang menjalani
pengobatan sebanyak 32 orang, kebanyakan
usia penderita adalah usia produktif. Data ini menggambarkan bahwa masih terdapat penderita TB Paru di wilayah
kerja Puskesmas Medan Johor setiap bulannya,
walaupun telah dilakukan program penanggulangan TB Paru dengan strategi DOTS. Untuk melihat pelaksanaan
program tersebut maka perlu dilakukan
pengukuran yang dinilai dari sudut pandang penderita TB Paru tentang kepuasannya dalam menjalani program pengobatan
TB Paru. Bila penderita TB Paru tidak puas
/ kecewa harus segera diketahui faktor penyebabnya dan segera dilakukan koreksi atau perbaikan karena
apabila tidak segera ditangani dan berlangsung
terus menerus dalam jangka waktu yang lama, akan mengakibatkan menurunnya jumlah kunjungan penderita TB Paru
ke puskesmas untuk berobat.
Berdasarkan penjelasan dan fakta di atas maka
peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian kepuasan penderita TB paru tentang pelaksanaan strategi DOTS dalam penanggulangan TB Paru di wilayah
kerja puskesmas Medan Johor.
2. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian
ini adalah bagaimana kepuasan penderita TB paru tentang pelaksanaan strategi DOTS dalam
penanggulangan TB Paru di wilayah kerja
puskesmas Medan Johor.
3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : untuk
mengidentifikasi kepuasan penderita TB
paru tentang pelaksanaan strategi DOTS dalam penanggulangan TB Paru di wilayah kerja puskesmas Medan Johor.
0 komentar:
Posting Komentar