Rabu, 24 September 2014

Skripsi Keperawatan:Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penyakit ginjal kronis
merupakan masalah yang sangat penting dalam bidang ilmu penyakit dalam khususnya bagian
ginjal hipertensi atau nefrologi (Firmansyah,
2010). Menurut data Nutrition Network (2007), penderita ginjal di Indonesia mencapai 150 ribu orang dan yang
membutuhkan terapi pengganti ada sebesar
3 ribu orang. Firmansyah (2010) juga menyatakan bahwa diperkirakan insiden PGK berkisar 100-150 per 1 juta
penduduk dan prevalensi mencapai 200-250 kasus per juta penduduk.
Penyakit ginjal kronis
merupakan kerusakan ginjal progresif
yang berakibat fatal dan ditandai dengan
uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya
jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi
ginjal (Nursalam, 2006). Dialisis merupakan proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah
dari dalam tubuh ketika ginjal tidak
mampu melaksanakan proses tersebut (Brunner & Suddarth, 2002). Metode terapi dialisis yang menjadi pilihan utama dan
merupakan perawatan umum adalah
hemodialisis (Peterson, 1995; Kartono, Darmarini & Roza, 1992 dalam Lubis, 2006).
Proses terapi dialisis harus
dialami pasien selama hidupnya biasanya dua kali seminggu selama paling sedikit 3 atau 4
jam per kali terapi. Umumnya terapi hemodialisa
akan menimbulkan stres fisik seperti kelelahan, sakit kepala dan keluar keringat dingin akibat tekanan darah
yang menurun, sehubungan dengan efek
hemodialisis dan juga mempengaruhi keadaan psikologis penderitaakan mengalami gangguan dalam proses berfikir dan
konsentrasi serta gangguan dalam hubungan
sosial. Semua kondisi tersebut akan menyebabkan menurunnya kualitas hidup pasien dengan hemodialisa, hal
ini diperkuat dengan pernyataan Kunmartini
(2008, dalam Fatayi, 2008) bahwa pasien penyakit ginjal sering diperhadapkan dengan berbagai komplikasi yang mengikuti penyakit
yang dideritanya yang berakibat semakin
menurun kualitas hidup orang tersebut.
Kualitas hidup bisa dipandang
dari segi subjektif dan objektif. Segi subjektif
merupakan perasaan enak dan puas atas segala sesuatu secara umum, sedangkan secara objektif adalah pemenuhan
tuntutan kesejahteraan materi, status
sosial dan kesempurnaan fisik secara sosial budaya (Trisnawati, 2002 dalam Fatayi, 2008). Menurut Cella (1994,
dalam Fatayi, 2008), penilaian kualitas
hidup penderita gagal ginjal dapat dilihat pada aspek kesehatan fisik, kesehatan mental, fungsi sosial, fungsi peran
dan perasaan sejahtera.
Wenger at all (1984, dalam
Yuwono, 2000) kualitas hidup merupakan integrasi
dari publikasi keterbatasan, keluhan dan ciri-ciri psikologis yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk
melakukan bermacam-macam peran dan
merasakan kepuasan dalam melakukan sesuatu. Badan WHO telah merumuskan empat dimensi kualitas hidup yaitu
dimensi fisik, dimensi psikologis,
dimensi sosial dan dimensi lingkungan. Keempat dimensi tersebut sudah dapat menggambarkan kualitas kehidupan
pasien gagal ginjal kronik dengan terapi
hemodialisa yang mempunyai agama, etnis dan budaya yang berbeda (WHO, 1994 dalam Desita, 2010).
Peneliti terdahulu telah
menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran kualitas hidup pasien penyakit ginjal
kronis. Avis (2005, dalam Desita, 2010)
menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang
pertama adalah sosio demografi yaitu
jenis kelamin, umur, suku/ etnik, pendidikan, pekerjaan dan status perkawinan. Bagian kedua adalah medis yaitu
lama menjalani hemodialisa, stadium
penyakit, dan penataklasanaan medis yang dijalani.
Penelitian Yuliaw (2010)
menemukan bahwa karakteristik individu yang terdiri dari pendidikan, pengetahuan, umur dan
jenis kelamin merupakan faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik. Yuliaw (2010) juga menyatakan dalam penelitiannya bahwa
beberapa peneliti lain juga menemukan
bahwa faktor yang mempengaruhi kualitas kehidupan secara signifikan adalah pendidikan, ras, status
perkawinan. Yuwono (2000) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal adalah umur, jenis
kelamin, etiologi gagal ginjal, cara terapi
pengganti, status nutrisi dan kondisi komorbid. Pengukuran kualitas hidup terdiri dari beberapa faktor yaitu simptom
yang dialami selama terapi, kualitas interaksi
sosial, fungsi kognitif pasien dan kualitas tidur (Suhud, 2009).
Yuliaw (2010) mengatakan bahwa
dari hasil studi pendahuluan dengan wawancara
terhadap responden yang sedang menjalani hemodialisa di unit hemodialisa RSUP Dr. Kariadi Semarang, terapi
hemodialisa sangat menunjang kualitas
hidup mereka dan beberapa responden lain telah menjalani hemodialisis lebih dari empat tahun masih mampu bekerja meskipun
tidak maksimal, tetapi di sisi lain
terdapat perbedaan kualitas hidup pasien hemodialisis dimana pasien yang lebih muda memiliki kualitas hidup yang
tinggi dibandingkan pasien yang lebih
tua. Lok (1996, dalam Yuliaw, 2010) juga melaporkan bahwa pasien hemodialisa merasa tingkat aktifitas fisik,
aktifitas sosial, kemampuan hidup umumnya
di bawah rata-rata.
Menurut Suhut (2009) banyak
pasien menganggap hidupnya tinggal dihitung
jari dan melampiaskan keputusasaannya dengan tidak mengindahkan petunjukkan tim medis serta makan dan minum
sembarangan dan juga percaya bahwa
akibat dari penyakit yang diderita mereka tak mungkin lagi dapat berolahraga. Namun kenyataannya adalah
sebagian besar penderita GGT masih dapat
berolah raga. Kalangan profesional di bidang rehabilitas ginjal mengungkapkan bahwa aktivitas olahraga yang
dilakukan secara teratur namun terbatas
tidak hanya dapat meningkatkan aktivitas fisik dari penderita namun juga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita
secara keseluruhan.
Banyak faktor yang berpengaruh
terhadap pasien gagal ginjal kronis. Atas dasar tersebut peneliti ingin menganalisis
faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi
kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUP HAM Medan.
B. Pertanyaan Penelitian 1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
hidup pasien gagal ginjal kronis? 2. Bagaimana kualitas hidup pasien gagal ginjal
kronis? 3. Apakah faktor-faktor tersebut
memiliki hubungan dengan kualitas hidup? 4.
Bagaimana hubungan faktor-faktor tersebut dengan kualitas hidup? 5.
Faktor mana yang paling dominan mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis? C. Tujuan 1.
Tujuan Umum Menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
khususnya pada pasien gagal ginjal
kronis yang menjalani hemodialisa di RSUP HAM Medan.
2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal
ginjal kronik.
b. Mengidentifikasi kualitas hidup pasien gagal
ginjal kronik.
c. Mengidentifikasi hubungan faktor-faktor
tersebut dengan kualitas hidup.
d. Menganalisa faktor yang paling dominan
berpengaruh terhadap kualitas hidup
pasien gagal ginjal kronis.

Skripsi Keperawatan:Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa

Download lengkap Versi PDF







Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.