Sludge dari industri pulp dan kertas terdiri
atas 3 sumber. Sumber pertama yang biasa disebut sludge primer berasal dari klarifier utama,
dimana partikelpartikel kasar akan dipisahkan dari air limbah dan dibuang. Sludge ini menyerupai kertas basah dan
kandungan seratnya cukup tinggi dan mudah terlarut dalam air. Sumber kedua
berasal dari pengelolaan air sekunder dimana pada bagian ini mengalami proses
biologis. Jenis limbah ini biasa disebut dengan istilah biosludge dan memiliki
konsentrasi yang lebih rendah. Jenis limbah ketiga berasal dari deinking, yaitu bagian proses pemisahan kertas
dari tinta dari limbah kertas daur ulang. Setiap industri pulp dan kertas
memiliki perbedaan didalam proses pengelolaan limbahnya, sehingga ada perbedaan
kualitas limbahnya (Latva dan Jouko, 1998).
Saat ini, pengelolaan
limbah industri pulp dan kertas mengalami peningkatan karena dua alasan. Alasan
pertama yaitu untuk mengurangi pencemaran pada air dan alasan kedua adalah
perkembangan pabrik kertas daur ulang yang makin meningkat (Latva dan Jouko,
1998).
Menurut Haroen (2007) limbah padat
industri kertas dibedakan atas limbah serat dan non serat, berasal dari
beberapa unit proses umummnya merupakan hasil akhir proses dan tidak berguna
yang berbentuk lumpur (sludge). Karakteristik limbah padat industri
kertas sangat bervariasi tergantung pada bahan baku, produk yang dihasilkan,
serta tingkat pengolahan pendahuluan yang telah dilakukan. Pengelompokan jenis
limbah padat harus memberikan gambaran tentang
karakteristiknya, seperti jenis limbah, jumlah limbah per ton produk, kandungan
organik, kadar air, kadar abu, nilai kalor, unsur mikro, logam berat dan elemen
spesifik lainnya. Limbah padat berserat industri kertas dihasilkan dari pemisahan
serat yang lolos pada pembungan limbah cair mesin kertas. Limbah padat ini
jumlah dan karakteristiknya sangat bervariasi tergantung dari bahan baku,
proses pembuatan dan produk yang dihasilkan.
Sludge yang dihasilkan industri banyak
dijadikan bahan bakar dengan 2 alasan, yaitu sebagai sumber energi
bahan bakar dan untuk mengurangi volume jumlah penumpukan
limbah dan pembuangan ke sungai dimana saat ini sudah banyak
perbaikan-perbaikan lingkungan khususnya sungai (Latva dan Jouko, 1998). Namun
hal ini tentunya akan berdampak lain, yaitu adanya penambahan tingkat polusi
udara yang tinggi.
Sludge yang berasal dari berbagai industri
pulp di Indonesia di dalam pemanfaatannya masih sangat kurang. Sludge hasil buangan industri tersebut biasanya
dijadikan bahan bakar dan yang selebihnya dialirkan ke sungai atau ke tempat
pembuangan akhir setelah melalui proses penetralan. Sesuai dengah hal tersebut
perlu sebuah usaha dalam pengolahan sludge agar lebih bermanfaat. Selain mengurangi pengaruh negatif
terhadap lingkungan sekitarnya, tentunya akan meningkatkan nilai guna sludge bagi industri tersebut. Intinya perlu dilakukan
sebuah penelitian kandungan sludge
sehingga dapat diolah kembali sebagai
bahan baku serat.
Seiring dengan makin
berkembangnya ilmu pengetahuan tentang sludge, menunjukkan bahwa sludge hasil buangan industri pulp dan kertas masih perlu untuk di
teliti lagi. Selain untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan, dengan pemanfaatan sludge tentunya akan makin membantu di dalam memaksimalkan
penggunaan kayu sebagai bahan baku utama untuk pulping.
Penelitian bertujuan mengetahui
kandungan kimia sludge yang meliputi :
selulosa (α,β,γ),
hemiselulosa, lignin, kandungan abu dan kadar ekstraktif.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi
manfaat di dalam pengolahan sludge
yang dihasilkan dari proses industri pulp
dan kertas sebagai bahan baku serat.
Download lengkap Versi Word
0 komentar:
Posting Komentar