Perubahan
gaya hidup menjadi faktor pemicu terjadinya perubahan pola konsumsi. Dengan
semakin padatnya waktu bekerja, masyarakat semakin sibuk sehingga mendorong
pemilihan makanan dengan penyajian lebih praktis, tetapi beragam. Makanan
tersebut harus segar sepanjang hari, penampilan menarik, aman bagi kesehatan,
mengandung banyak kalori dan dapat memberikan nilai gizi yang dibutuhkan oleh
tubuh. Pemilihan akan bahan pangan cenderung berubah seiring dengan perkembangan
social-ekonomi masyarakat dunia. Untuk negara-negara yang sudah maju seiring
dengan peningkatan pendapatan terjadi peralihan ke pemilihan bahan pangan yang
mempunyai kelezatan yang lebih tinggi, yaitu perubahan dari makanan yang
kebanyakan serealia ke makanan yang banyak mengandung protein hewani. Namun,
untuk negara-negara yang sedang berkembang dimana penduduknya masih
berpenghasilan rendah, protein hewani masih sulit diperoleh karena harganya
yang relatif mahal. Sehingga makanan yang banyak terdapat didaerah ini adalah
makanan yang berasal dari serealia yang banyak mengandung pati.
Kecenderungan pola konsumsi yang berubah juga
terjadi di Indonesia, yaitu perubahan dari konsumsi serealia hasil industri
rumah tangga menjadi konsumsi serealia dari pabrik, seperti roti dan kue
panggang. Hal ini disebabkan perkembangan sosial ekonomi dimana pada saat
sekarang ini orang membutuhkan makanan cepat saji (fast-food) tetapi masih
memenuhi akan kebutuhan gizi dan kalori.
Perubahan konsumsi ini umumnya terjadi pada golongan masyarakat menengah ke
atas.
Roti adalah produk makanan yang dibuat dari
tepung terigu dan sangat populer dimasyarakat. Tepung terigu yang digunakan
berasal dari biji gandum yang ketersediaannya diimpor. Pembuatan roti dari
tepung terigu dengan mencampurkannya dengan tepung yang berasal dari tanaman
daerah setempat seperti tepung jagung menjadi salah satu pemecahan dari
permasalahan import tepung terigu dari luar negeri tersebut diatas.
Jagung merupakan tanaman yang tumbuh subur di
Indonesia sepanjang tahun. Tanaman jagung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
di bagian timur Indonesia sebagai makanan pokok. Kandungan gizi jagung yang
baik dan juga kadar karbohidrat yang tinggi yaitu sekitar 71 - 73% yang
terutama terdiri dari pati, sebagian kecil gula dan serat. Pati terutama
terdapat dibagian endosperma, gula terutama di lembaga, dan serat pada bagian
kulit jagung. Berdasarkan kandungan gizi jagung yang sebagian besarnya
merupakan karbohidrat, maka jagung dapat dijadikan tepung yang kemudian dapat
diolah menjadi roti. Roti merupakan produk olahan tepung yang mudah rusak,
terutama akibat serangan mikroba. Mikroba yang umumnya menyebabkan kerusakan
pada roti yaitu Monilia sp yang
dapat menyebabkan timbulnya benang-benang halus pada roti dan akhirnya timbul
lendir sehingga menghasilkan kerusakan pada roti. Hal tersebut menyebabkan umur
simpan roti yang singkat sehingga dibutuhkan bahan pengawet yang dapat
memperpanjang umur simpan.
Natrium propionat digunakan dalam industri
makanan sebagai anti mikroba. Penggunaan propionat pada roti efektif menghambat
kapang. Selain itu propionat
memiliki aktivitas anti mikroba yang tinggi dan tidak mengakibatkan perubahan
rasa dan bau pada roti.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh
Pencampuran Tepung Terigu dengan Tepung Jagung dan Konsentrasi Natrium
Propionat terhadap Mutu Roti Tawar”.
Untuk
mengetahui pengaruh pencampuran tepung terigu dengan tepung jagung dan
konsentrasi natrium propionat terhadap mutu roti tawar
-
Sebagai sumber informasi pada pembuatan roti tawar
- Sebagai sumber data dalam penyusunan skripsi
di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Departemen Teknologi Pertanian
Fakultas Pertanian , Medan.
-
Ada pengaruh pencampuran tepung terigu dengan tepung jagung terhadap mutu roti
tawar.
- Ada pengaruh konsentrasi natrium propionat
terhadap mutu roti tawar.
- Ada interaksi pencampuran tepung terigu
dengan tepung jagung dan konsentrasi natrium propionat terhadap mutu roti tawar
Download lengkap Versi Word
0 komentar:
Posting Komentar