Rabu, 17 Desember 2014

Download Skripsi Kedokteran:Gambaran Penulisan Resep Askes di Apotek

BAB PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menjalankan tugasnya sebagai penyedia layanan kesehatan, dokter tidak akan terlepas dari hal bernama resep. Resep merupakan perwujudan akhir kompetensi dokter dalam medical care. Dengan menulis resep berarti dokter telah mengaplikasikan ilmu pengetahuan keahlian dan ketrampilannya di bidang farmakologi dan teraupetik kepada pasien (Jas, 2009). Resep juga salah satu sarana interaksi antara dokter dan pasien (Akoria, 2008). Dari definisi di atas dapat disimpulakan bahwa dokter wajib untuk menguasai cara penulisan resep yang benar. Peresepan yang benar memiliki peran yang besar dalam terapi pengobatan dan kesehatan pasien (Ansari dan Neupane, 2009). Namun, pada kenyataannya dokter akan menjumpai beberapa permasalahan dalam menulis resep. Resep yang baik harus memenuhi informasi yang cukup agar apoteker atau perawat yang bersangkutan mengerti obat apa yang akan diberikan kepada pasien (Katzung, 2009). Setiap negara mempunyai ketentuan sendiri tentang informasi apa yang harus tercantum dalam sebuah resep, juga memiliki perundangan sendiri tentang obat mana yang harus diperoleh dengan resep dan siapa yang menulis resepnya (De Vries, 1998). Menurut aturan penulisan resep pada Ars Prescribendi, dalam menuliskan suatu resep harus diperhatikan kejelasan tulisan dan kelengkapan resep yang meliputi inscriptio, prescriptio, signatura, dan subscriptio. Kesalahan dalam penulisan resep terjadi jika terjadi kesalahan dalam penulisan komponen resep di atas (Sari, 2005). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa peresepan yang salah, informasi yang tidak lengkap tentang obat, baik yang diberikan oleh dokter maupun apoteker, serta cara penggunaan obat yang tidak benar oleh pasien dapat menyebabkan kerugian bagi pasien. Kerugian yang dialami mungkin tidak akan tampak sampai terjadi efek samping yang berbahaya. Karenanya diperlukan perhatian besar untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan dalam peresepan (Zairina dan Ekarina, 2003). Hasil penelitian dari Anshari dan Neupane di Nepal melibatkan 268 lembar resep yang berisi 795 obat dari tanggal 15 November 2008 sampai 14 Februari 2009 menyebutkan bahwa kesalahan dalam penulisan resep yang berhubungan dengan informasi obat adalah tidak disebutkannya rute administrasi obat (63%). kuantitas (60%), dosis (19%), bentuk sedian (12%), dan frekuensi (10%). Penelitian Mandal pada tahun 2005 di Sunderland Eye Infirmary , Inggris yang melibatkan total 1952 resep menyebutkan kesalahan dalam penulisan resep terbanyak adalah format yang tidak benar atau illegible dengan kejadian 144 resep. Dari 144 resep yang tidak illegible tersebut didapatkan 18 resep dengan tulisan dokter tidak dapat diidentifikasi. Hasil studi Bobb di Chicago, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kesalahan dalam penulisan resep di rumah sakit umum sering terjadi sehingga banyak rumah sakit di Amerika yang mempertimbangkan pemakaian komputer dalam pemesanan obat. Terbukti, pemakaian komputer dapat menurunkan kejadian kesalahan penulisan dosis obat, yang merupakan kesalahan dalam penulisan resep terbanyak, sebanyak 20% (Bobb, 2004). Di Indonesia sendiri, penelitian oleh Zairina dan Ekarina yang melibatkan 2445 lembar resep dari 3 apotek di Surabaya periode Agustus 2003 sampai November 2003 menyebutkan bahwa persentase kejadian tertinggi yaitu penulisan aturan pakai yang tidak ditulis lengkap, tidak sesuai atau tidak ditulis sebagai aturan pakai/ “signa” sebanyak 35,29%. Serta, hasil penelitian Sari yang melibatkan 6104 lembar resep selama bulan Oktober, November dan Desember 2005 dari 11 apotek di wilayah Surabaya Utara didapatkan total kesalahan dalam penulisan resep adalah 5631 dengan kesalahan penulisan signa sebanyak 9,04%, kesalahan penulisan bentuk sediaan sebanyak 0,98%, kesalahan penulisan kekuatan obat sebanyak 0,48%, kesalahan penulisan dosis sebanyak 0,44% dan kesalahan penulisan nama obat sebanyak 0,16%. Di sendiri, belum pernah dilakukan penelitian mengenai gambaran kesalahan penulisan resep. Pada penelitian Syahirah (2010) mengenai penguasaan peresepan antara mahasiswa FK dengan kurikulum sistem KBK dan dengan kurikulum sistem non KBK ditemukan 40% mahasiswa masih kurang dalam penguasaan peresepan. Namun, bagaimanapun juga kesalahan dalam penulisan resep dapat dicegah. Hal ini penting bagi tiap spesialisasi, rumah sakit atau tim dokter untuk tahu dimana titik kelemahan mereka agar dapat mengoreksi diri menjadi lebih baik (Mandal, 2005).

Contoh Skripsi Kedokteran:Gambaran Penulisan Resep Askes di Apotek

Downloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini




Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2015 Jual Skripsi Eceran™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.