BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup, populasi penduduk lanjut usia juga semakin bertambah dari hari ke hari. Pertumbuhan penduduk lansia yang cepat di seluruh dunia telah mengatasi pertumbuhan kelompok usia lainnya. Hal ini dapat dilihat melalui peningkatan penduduk lansia yang signifikan dimana pada tahun 2007, jumlah penduduk lanjut usia adalah sebesar 18,96 juta jiwa dan jumlah ini meningkat menjadi 20.547.541 orang pada tahun 2009 (U.S. Census Bureau,International Data Base, 2009).Di negara-negara maju, jumlah lansia juga ternyata mengalami peningkatan, antara lain : Jepang (17,2%), Singapura (8,7%), Hongkong (12,9%), dan Korea Selatan (12,9%) (Notoadmodjo, 2007). Di Indonesia, peningkatan penduduk lansia juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penduduk lansiayang diperkirakan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain telah menyebabkan Badan Pusat Statistik (BPS, 2004) menjadikan abad 21 bagi bangsa Indonesia sebagai abad lansia. Menurut WHO, pada tahun 2025, Indonesia akan mengalami peningkatan lansia sebesar 41,4%, yang merupakan peningkatan tertinggi di dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa merperkirakan bahwa jumlah warga Indonesia akan mencapai kurang lebih 60 juta jiwa pada tahun 2050 seterusnya meletakkan Indonesia pada tempat ke-4 setelah China, India, dan Amerika Serikat untuk jumlah penduduk lansia terbanyak (Notoadmodjo, 2007). Pertambahan yang cepatdari penduduk lansia sebenarnya turut mengundang permasalahan. Meningkatnya jumlah penduduk lansia akan menimbulkan masalah terutama dari segikesehatan dan kesejahteraan lansia (Notoadmodjo, 2007). Menurut Dinkes Sleman (2009), peningkatan jumlah lanjut usia memiliki potensi munculnya berbagai gangguan fungsional yang memerlukan bantuan khs, antara lain menurunnya kemampuan fisik dan mental, keterbatasan berinteraksi sosial dan menurunnya produktifitas kerja. Selain itu, menurut Pusdatin, Depsos RI (2004), dalam Dinkes Sleman (2009), permasalahan lain yang sering muncul adalah rasio ketergantungan antara penduduk tua dengan penduduk usia produktif semakin meningkat, sebanyak 49,5% lanjut usia mengalami masalah kesehatan yang signifikan, sebanyak 15% lanjut usia terlantar, dan sebagian lansia menjadi korban kekerasan. Dengan meningkatnya jumlah lansia dan berbagai permasalahan tersebut, masalah kesehatan lansia merupakan masalah utama yang harus diberikan perhatian. Adapun penyakit yang sering diderita oleh lansia adalah penyakit yang bersifat degeneratif, (Yusnita, 2004), namun penyakit infeksi juga masih tinggi di kalangan lansia. Kajian klinis dan epidemiologi telah menemukan bahwa angka insidensi atau prevalensipenyakit infeksi meningkat atau berada paling tinggi pada populasi geriartri (Yoshikawa, 1987). Pada lansia, daya tahan tubuh mereka akan menjadi lemah jika dilihat secara fisik. Dalam penelitian yang dibuat oleh Fatmah (2006) tentang respon imunitas pada lansia, beliau menemukan bahwa konfigurasi limfosit dan reaksinya melawan infeksi berkurang yang ditunjukkan dengan rentannya tubuh terhadap serangan penyakit apabila usia semakin meningkat. Infeksi yang sering diderita pada lanjut usia diantaranya adalah pneumonia, dan angka kematian bagi kasus ini adalah cukup tinggi sehingga mencapai 40% oleh karena daya tahan tubuh yang menurun (Ismayadi, 2004). Namun begitu, lansia haruslah tetap menjaga kesehatan. Untuk terusmenerus meningkatkan kesehatan harus menjalankan cara-cara hidup yang sehat. Cara hidup sehat adalah cara-cara yang dilakukan untuk dapat menjaga, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan seseorang. Hal ini termasuklah menjaga kebersihan tubuh dan linkungan (Ismayadi, 2004). Jika dilihat dalam satu penelitian yang dijalankan pada lansia diUPTD Abdi Dharma Asih Binjai oleh Lubis dkk (2005), sebanyak 30% lansia di sana menderita penyakit kulit akibat dari kurangnya personal hygiene (kebersihan perorangan). Selain itu, menurut Soejone (2005), pernah dilaporkan bahwa kejadian infeksi saluran kemih di RSCM pada lansia yang berhasil dikumpulkan selama periode enam bulan adalah 35,6%. Antara faktor predisposisinya adalah gangguan faal kognitif pada lansia yang mengakibatkan usaha perawatan diri sendiri terganggu sehingga kemampuan untuk mandi dengan bersih, membersihkan daerah genitalia dengan seksama tidak dapat dilakukan secara mandiri. Pada lansia juga, aktivitas karies meningkat yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan antaranya ialah oral hygieneyang kurang baik (Sagala, 2005). Jadi, berdasarkan permasalahan kesehatan yang telah dibahaskan di atas, untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan usia lanjut, personal hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor dasar karena individu yang mempunyai kebersihan diri yang baik mempunyai risiko yang lebih rendah untuk mendapat penyakit (Setiabudhi, 2002). Personal hygieneatau perawatan diri/kebersihan diri merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan (Sharma, 2007). Peningkatan personal hygienedan perlindungan terhadap linkungan yang tidak menguntungkan merupakan perlindungan khs yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan (Dainur, 1995). Perawatan fisik diri sendiri mencakup perawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, mata, gigi-mulut, telinga dan hidung (Setiabudhi, 2002). Masyarakat lanjut usia terutamanya harus didorong untuk melaksanakan rutinitas personal hygienesebanyak mungkin karena upaya ini lebih menguntungkan karena lebih hemat biaya, tenaga dan waktu dalam mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan. Di Sumatera Utara, berdasarkan Data Statistik Indonesia (2010), populasi penduduk lansia adalah sekitar 631.604 orang. Melalui Departemen Sosial, berbagai program untuk mendukung kesejahteraan penduduk lansia telah dilaksanakan dan ini termasuklah melalui sistem pelayanan panti. Menurut data direktorat pelayanan sosiallanjut usia, terdapat 14 panti di Sumatera Utara. Namun, masih belum ada penilitian yang dijalankan mengenai perilaku lansia terhadap personal hygienedi panti-panti tersebut. Hasil pencatatan yang dikutip dari penelitian yang dijalankan di UPTD Abdi Dharma Asih Binjai menunjukkan sebanyak 30% lansia di sana menderitapenyakit kulit. Menurut saran yang diberikan oleh peniliti tersebut, gangguan penyakit kulit ini dapat diminimalisasi jika upaya personal hygiene penduduk lansia di panti tersebut dapat ditingkatkan. Contoh Skripsi Kedokteran:Perilaku Lansia terhadap Personal HygieneDownloads Versi PDF >>>>>>>Klik Disini
Senin, 29 Desember 2014
Contoh Skripsi Kedokteran:Perilaku Lansia terhadap Personal Hygiene
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar