BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Berkembangnya
teknologi dan efek globalisasi pada saat ini menyebabkan munculnya perilaku konsumen baru yang
mempengaruhi pada saat melakukan keputusan
pembelian dan pemesanan kembali pada suatu barang atau jasa.
Pelanggan pada masa globalisasi
merupakan perkawinan (hybrid) antara konsumen
tradisional dan konsumen modern. Era globalisasi merupakan era para hybrid consumer( konsumen yang lahir dari perkawinan antara konsumen tradisional dan konsumen modern) dimana dalam
menentukan keputusan para pelanggan ini
menggunakan logika dan emosi.
Pembelian kembali yang dilakukan
konsumen menjadi salah satu tantangan
yang harus dicapai perusahaan dan mempertahankan konsumen dengan membentuk loyalitas pelanggan, terutama
konsumen masa depan yaitu konsumen hybrid.
Loyalitas pelanggan sendiri terbentuk
karena adanya pembelian ulang yang
dilakukan oleh konsumen dalam kerangka waktu tertentu sejak pembeliannya yang pertama. Untuk membentuk
loyalitas pelanggan banyak perusahaan
melakukan investasi besar – besaran, dimulai dari mengenali siapa pelanggan perusahaan sebenarnya sampaipada
langkah – langkah atau strategi yang
perlu diterapkan untuk mempengaruhipelanggan tersebutsehingga mereka tetap setia dan bahkan dapat memberikan
kontribusi yang lebih besar kepada perusahaan.
Membesarnya efek globalisasi menyebabkan peta
persaingan perusahaan menjadi
inkonsistensi. Perusahaan-perusahaan harus beradaptasi dan melakukan inovasi besar-besaran untuk mempertahankan
pelanggan mereka, tidak sedikit dan hampir
semua perusahaan merubah pola sistemikasi dan strategi pemasaran agar dapat mempertahankan konsumennya sehingga
dapat bertahan di bisnisnya.
Perusahaan terus-menerus
melakukan modifikasi di bidang pemasaran
(marketing) yang merupakan baris
terdepan dalam penguasaan pasar demi kelangsungan
bisnis dimasa depan.
Strategi pemasaran konservatif
dan modern yang diaplikasikan secara terpisah
memberikan sedikit kontribusi terhadap pola penguasaan pasar dan branding yang dilakukan oleh perusahan
sehingga tidak dapat menjawab kebutuhan dan keinginan pelanggan pada saat
ini. Menurut Kotler & Armstrong (1992)
mengungkapkan pemasaran sebagai fungsi bisnis yang mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan pelanggan, menetapkan
pasar sasaran mana yang dapat dilayani
secara paling baik oleh organisasi, merancang produk, layanan, dan program yang tepat untuk melayani pasar-pasar
ini, dan mengajak setiap orang dalam
organisasi untuk “memikirkan dan melayani pelanggan”.
Perspektif konsumen saat ini
seperti kualitas, harga, fitur, dan benefit produk, serta keamanan dan kenyamanan adalah
sebagai sesuatu yang terintegritas dalam
identitas produk. Konsumen yang berpengalaman, memiliki harapan yang tinggi atas pelayanan yang diinginkan. Banyaknya alternatif produk pilihan, kecepatan pelayanan, kenyamanan dan kemudahan
dalam mendapatkan produk merupakan yang
diinginkan oleh mereka.
Perusahaan saat ini sangat fokus terhadap
pencapaian kepuasan konsumen, sehingga
dapat menumbuhkan pelanggan bagi perusahaan serta memberikan peningkatan penjualan dengan bertambahnya
loyalitas pelanggan sehingga pelanggan
yang dimiliki perusahaan tetap bertahan dan selalu melakukan pembelian ulang. Mereka memfokuskan terhadap
apa yang diinginkan dan dibutuhkan
pelanggan untuk mencapai tingkat kepuasan yang diinginkan konsumen. Sehingga dengan tercapainya kepuasan
yang diharapkan konsumen maka konsumen
akan tetap menggunakan produk atau jasa tersebut.
Untuk menghadapi persaingan yang
begitu ketat pada era globalisasi ini maka
perusahaan penting memebentuk strategi pemasaran yang handal untuk meningkatkan loyalitas pelanggan
sehinggamemperkuat posisi perusahaan dari kompetitor yang ada.
Strategi pemasaran konvergensi
berusaha untuk menjadi solusi dengan berupaya
menggabungkan strategi pemasaran tradisional dan strategi pemasaran modern tanpa harus menghilangkan salah satu
dari konsep strategi tersebut, dimana
pemasaran tradisional berbasis pada pasar offlineyang berwujud tempat ( marketplace ) dan pemasaran modern yang
berbasis pada pasar onlineyang berwujud
ruang ( marketspace). Hal ini dapat dilihat pada table 1.1 berikut : Tabel 1.1 Perkembangan Pemasaran Tahun
Konsep Penjabaran Penggagas 1953
Marketing Mix Penyatuan dari seluruh
kemampuan promosi Neil Borden 1960 4 P Product, Price, Place, Promotion E. Jerome Mc Carthy 1970
5 P Product, Price, Place,
Promotion, Packaging Nickels and Jolson Tabel
1.1 Perkembangan Pemasaran Lanjutan 1980 7
P Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence Philip Kotler 1990 4 C Commodity, Cost, Channel, Communication Lauterborn, R 1995 7 C Compass Model (C1)Corporation and Competitor, (C2)Commodity, (C3)Cost, (C4)Communication, (C5)Channel, (C6)Consumer, + Compass : N = Needs, W = Wants, S = Security, E = Education (C7)Circumstances + Compass : N = National and International, W=Weather, S = Social and Cultural, E = Economic Koichi Shimizu 2001 5 C (
Konvergensi ) Costumerization, Community,
Channels, Competitive Value, Choice Tools Yoram ( Jerry ) wind, Vijay Mahajan, Robert E Ghuter Sumber :
www.wikipedia.org/wiki/marketingmixdan www.bussinesspme.com/uk/articles/marketing/21/marketing-mix.htmldiolah
Konsep Strategi Pemasaran konvergensiini
hadir bermula dari adanya konsep hybrid
consumer dan konsep Digital Marketingdimana internet dan saluran – saluran offline sangat mempengaruhi
cara pelanggan berbelanja dan apa yang
mereka pandang berharga, inilah yang diungkapkan oleh Peter F. Drucker Clarke seorang Professor Claremont Graduate
Schoolpada bidang social science.
Konsumen sebagai objek yang
diperebutkan dimana konsumen tersebut dapat diarahkan melalui saluran – saluran offline
dan onlinesehingga dalam mengambil sebuah
keputusan pembelian terhadap produk berdasarkan dari hasil pengalaman si konsumen terhadap penjajakan produk.
Berdasarkan survei yang dilakukan
oleh Jerry Wind terungkap bahwa hybrid
consumermenggabungkan berbagai saluran dan pendekatan, mencari informasi secara onlinedan membeli secara
offlineserta mencari secara offline dan
membelinya secaraonlinedengan melakukan aktivitas lain diantaranya. Salah satu perusahaan yang menerapkan strategi
tersebut adalah PT. Sriwijaya Air , perusahaan
jasa penerbangan komersil yang memberikan jasa penerbangan rute dalam dan luar negeri.
PT. Sriwijaya Air sebagai salah
satuperusahaan penerbangan komersil baru
dan sebagai pendatang baru (new comers) di Indonesia saat ini juga terus berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada
penumpangnya. Sejak beroperasinya
perusahaan dari 10 november 2003 memiliki 1 pesawat dan pada saat ini memiliki 24 pesawat diantaranya 3
masih dalam tahap pemesanan.
Meningkatnya jumlah pesawat
menunjukkan adanya peningkatan pelanggan yang terjadi terhadap jasa yang ditawarkan oleh PT.
Sriwijaya Air Hal ini terbukti dengan
adanya peningkatan permintaan pada September 2009, Sales Marketing Sriwijaya
Air, James Wahane mengatakan, “ peningkatan penjualan untuk bulan September ini mencapai 20 persen “ ( Antara
news September 2009). Selain itu, pada
bulan Agustus Majalah Global Asia edisi Agustus 2009 menobatkan Sriwijaya Air berada pada peringkat 68 Top 100
Groups perusahaan teratas di Indonesia,
predikat lainnya pada Majalah Internasional Airline Business telah memasukkan kembali Sriwijaya Air dalam
peringkat internasional di dunia penerbangan.
Majalah yang bertagline ‘Strategy For Airline Boardrooms Worldwide’ itu dari ribuan maskapai
penerbangan dunia menempatkan peringkat Sriwijaya
Air pada peringkat ke 192 (Top Passenger Operations Ranked by Traffic2008: 151 to 200 berdasarkan pax
traffic, pax number dan fleet size).
0 komentar:
Posting Komentar