BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Proyek pembangunan gedung Laboratorium Akademi
Teknik Keselamatan Penerbangan Medan
terdiri dari 3
lantai. Dalam pembangunan
gedung laboratorium tersebut
diperlukan perencanaan struktur
atas (up structure)
dan struktur bawah
(sub structure). Pada
umumnya bangunan gedung
tersebut memiliki beban
yang sangat bervariasi,
beban yang bekerja
pada struktur bangunan
dapat dikelompokkan berdasarkan
arah kerjanya, beban
yang bekerja pada
struktur suatu bangunan
dapat dibagi menjadi
dua yaitu beban
vertikal (gravitasi) dan
beban horizontal (lateral).
Beban vertikal terdiri
dari beban mati (dead
load) dan beban hidup (live load), beban horizontal terdiri dari beban gempa (earthquake) dan beban angin (wind load).
Semua konstruksi
yang direkayasa untuk
bertumpu pada tanah
harus didukung oleh
suatu pondasi. Pondasi
ialah bagian dari
suatu sistem rekayasa yang meneruskan beban yang ditopang dan
beratnya sendiri ke dalam tanah dan batuan yang
terletak di bawahnya.
Tegangan-tegangan tanah yang
dihasilkan kecuali pada
permukaan tanah, merupakan
tambahan pada beban-beban
yang sudah ada
dalam massa tanah
dari bobot sendiri
bahan dan sejarah
geologinya.
(Bowles,J.E., 1991) Salah satu
jenis pondasi diantaranya pondasi tiang pancang, pondasi tiang pancang
adalah batang yang
relatif panjang dan
langsing yang digunakan
untuk menyalurkan beban pondasi melewati lapisan tanah dengan
daya dukung rendah kelapisan tanah keras
yang mempunyai kapasitas daya dukung
tinggi yang relatif cukup dalam dibanding
pondasi dangkal. Daya
dukung tiang pancang
diperoleh dari daya dukung
ujung (end bearing capacity) yang diperoleh dari tekanan ujung tiang
dan daya dukung
geser atau selimut
(friction bearing capacity)
yang diperoleh dari daya dukung
gesek atau gaya adhesi antara tiang pancang dan tanah disekelilingnya.
Secara
umum tiang pancang
dapat diklasifikasikan antara
lain: dari segi bahan
ada tiang pancang bertulang, tiang pancang pratekan, tiang pancang baja, dan
tiang pancang kayu.
Dari segi bentang
penampang, tiang pancang
bujur sangkar, segitiga,
segi enam, bulat
padat, pipa, huruf
H, huruf I,
dan bentuk spesifik. Dari segi teknik pemancangan, dapat
dilakukan dengan palu jatuh (drop hammer),
diesel hammer, dan hidrolic hammer.
Tiang pancang
berinteraksi dengan tanah
untuk menghasilkan daya dukung yang
mampu memikul dan
memberikan keamanan pada
struktur atas.
Untuk menghasilkan
daya dukung yang
akurat maka diperlukan
suatu penyelidikan tanah
yang akurat juga.
Ada dua metode
yang biasa digunakan dalam
penentuan kapasitas daya
dukung tiang pancang
yaitu dengan menggunakan metode statis dan metode dinamis.
Penyelidikan
tanah dengan menggunakan
metode statis adalah penyelidikan sondir. Penyelidikan sondir
bertujuan untuk mengetahui perlawanan penetrasi
konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan daya dukung lapisan tanah dengan menggunakan
rumus empiris.
Loading test biasa disebut juga
dengan uji pembebanan statis. Cara yang paling
dapat diandalkan untuk menguji daya dukung
pondasi tiang adalah dengan uji pembebanan
statis. Dari hasil
nilai uji pembebanan
statis seorang praktisi dalam
rekayasa pondasi dapat
menentukan mekanisme yang
terjadi, misalnya dengan melihat
bentuk kurva beban penurunan, besarnya deformasi plastis tiang, kemungkinan terjadinya kegagalan bahan tiang,
dan sebagainya.
Perencanaan
pondasi tiang pancang
mencakup rangkaian kegiatan
yang dilaksanakan dengan
berbagai tahapan yang
meliputi studi kelayakan
dan perencanaan teknis.
Semua itu dilakukan
supaya menjamin hasil
akhir suatu konstruksi yang kuat, aman serta ekonomis.
Banyak permasalahan yang
terjadi pada saat
proses pemancangan mulai dari
awal pemancangan sampai akhir pemancangan, sebagai contoh adalah pada saat alat pancang mengangkat tiang pancang
sering terjadi patah dan retak-retak ditengah,
ini akibat kurang baiknya tulangan yang ada pada tiang pancang dalam menahan tegangan tarik yang terjadi.
Pondasi tiang tersebut perlu diperkuat agar
kokoh sampai siap dipancang dan harus diperkuat
untuk menahan tekanan
selama pemancangan. Dan
biasanya panjang pracetak
(pre cast) bervariasi, hal
ini bertujuan agar
dapat disesuaikan dengan keadaan dilapangan.
Untuk menghindari terjadinya kerusakan atau
keruntuhan, suatu pondasi tiang pancang
baik tunggal maupun tiang kelompok haruslah mempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul konstruksi yang ada
diatasnya.
Perencanaan
pondasi tiang pancang
mencakup rangkaian kegiatan
yang dilaksanakan dengan
berbagai tahapan yang
meliputi studi kelayakan
dan perencanaan teknis.
Semua itu dilakukan
supaya menjamin hasil
akhir suatu konstruksi yang kuat, aman serta ekonomis.
1.2 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini
adalah : a. Menghitung dan membandingkan
hasil daya dukung pondasi tiang dari data
sondir, data parameter
tanah, dan bacaan
manometer alat hydraulic jack.
b. Menghitung daya dukung pondasi tiang dengan
menggunakan program Allpile c. Menghitung kapasitas kelompok ijin tiang
berdasarkan effisiensi.
d. Menghitung
daya dukung horizontal
dengan menggunakan Metode Broms dan Brinch Hansen.
1.3 Manfaat Penulisan tugas akhir ini diharapkan
bermanfaat bagi : a. Sebagai bahan
referensi bagi siapa saja yang membacanya khsnya bagi mahasiswa yang menghadapi masalah yang
sama.
b. Untuk menambah ilmu pengetahuan, wawasan, dan
pembanding kelak jika akan melakukan
suatu pekerjaan yang sama atau sejenis.
1.4 Pembatasan Masalah Diharapkan dari
penynan tugas akhir
ini sesuai dengan
maksud dan tujuan
yang telah ditetapkan,
maka perlu adanya
batasan-batasan masalah, diantaranya adalah : 1.
Hanya ditinjau untuk tiang pancang tegak lurus (vertikal) 2.
Perhitungan daya dukung tiang kelompok hanya dari data sondir, data standar
penetrasi test (SPT),
dan bacaan manometer
alat hydraulic jack.
3. Menghitung kapasitas kelompok ijin tiang
berdasarkan effisiensi.
4. Perhitungan
daya dukung horizontal
dengan menggunakan Metode Broms dan Brinch Hansen.
1.5 Metode Pengumpulan Data Dalam
penulisan tugas akhir
ini dilakukan beberapa
cara untuk dapat mengumpulkan data
yang mendukung agar
tugas akhir ini
dapat diselesaikan dengan baik. Beberapa cara yang dilakukan
antara lain: a. Metode observasi Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan
data teknis pondasi tiang diperoleh
dari hasil survey
langsung ke lokasi
proyek Pembangunan Gedung
Laboratorium Akademi Teknik
Keselamatan Penerbangan Medan b. Pengambilan data Pengambilan
data yang diperlukan
dalam perencanaan diperoleh
dari PT. Razasa
Karya selaku kontraktor
pelaksana berupa data
hasil sondir, parameter tanah dan
gambar struktur.
0 komentar:
Posting Komentar