BAB PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Hujan merupakan
sumber dari semua
air yang mengalir
di sungai dan
di dalam tampungan baik di luar ataupun di bawah permukaan tanah. Jumlah dan variasi
debit sungai tergantung
pada jumlah, intensitas
dan distribusi hujan.
Terdapat hubungan antara debit sungai dan curah hujan yang jatuh
di DAS yang bersangkutan (Bambang Triatmodjo,
2009).
Prakiraan
debit sungai dalam
berbagai hal sangat
diperlukan. Sistem prakiraan diperlukan untuk melihat kemungkinan terkait
perubahan kondisi alam pada waktu yang
akan datang (Sunardi, 2011).
Perkiraan
besarnya debit merupakan
bahan masukan untuk
perencanaan bangunan air.
Estimasi ini seharusnya
didasarkan pada metode
yang tepat sehingga
dapat menghasilkan perkiraan
banjir yang sesuai
dengan harapan.
Penentuan besarnya debit dapat dilakukan
dengan cara melakukan pengukuran dan pemprediksian
secara langsung, baik itu berdasarkan keadaan iklim maupun dari data yang
telah ada sebelumnya.
Penentuan debit dengan
cara pengukuran memiliki keterbatasan
dalam pemanfaatan jaringan
irigasi kedepannya karena
hasil pengukuran hanya dapat
mengetahui nilai debit pada saat itu, oleh
karena itu perlu dilakukan penentuan
besar debit bulan
atau tahun yang
akan datang dengan
cara peramalan. Prediksi secara
langsung dari grafik atau data yang sudah ada tidak dapat memberikan
kepastian seberapa besar
keakuratan yang dihasilkan
(Supiyati, dk k, 2009),
tetapi tidak semua
DAS yang ada
di Indonesia memiliki
data debit yang mencukupi
untuk dilakukan sebuah analisis (Rintis, 2009).
Di
Indonesia sering digunakan
tiga metode dalam
menganalisis debit berdasarkan hujan,
yaitu Metode Mock,
Nreca, dan Tank
Model. Perhitungan menggunakan ketiga
metode tersebut memerlukan
parameter yang cukup
banyak dalam sebuah analisis
hujan menjadi debit.
Selain itu tiga
metode di atas
merupakan metode konvensional yang sudah dicoba untuk analisis
debit berdasarkan hujan.
Mengatasi
permasalahan yang ada diperlukan sebuah sistem analisis yang mampu memprediksi
dengan baik, salah
satunya adalah menggunakan
Jaringan Syaraf Tiruan
(JST). Jaringan Syaraf
Tiruan hanya membutuhkan
data hujan untuk melakukan
analisis perhitungan debit, sementara
itu metode Mock, Nreca, dan
tank model menggunakan parameter
data hujan,dan data klimatologi.
Kelebihan
dari penggunaan JST
adalah kemampuannya untuk
mempelajari hubungan yang
tidak diketahui yang
sudah ada sebelumnya
antara data input
dan output dari
setiap sistim. Selain
itu pemodelan dengan
JST memiliki atribut
yang diinginkan dan kemampuan
belajar dari contoh-contoh tanpa memerlukan data fisik secara
eksplisit (Supiyati, dkk,
2009). Korelasi yang
dihasilkan jika menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan relatif tinggi
yang bisa mencapai ≥ 0,8 (Rintis, 2009).
Besarnya nilai korelasi yang tinggi bertujuan
untuk mendapatkan hasil simulasi yang mendekati
data observasi, agar data simulasi yang didapatkan bisa digunakan untuk analisis
lebih lanjut. Parameter
lain yang digunakan
dalam analisis adalah
data simulasi harus berada
pada confidenceinterval 95%, maka dari itu digunakan batas atas dan batas bawah untuk data sebaran data.
Aplikasi JST dalam memodelkan hubungan curah
hujan-limpasan dalam suatu DAS telah
banyak dilakukan sejak dekade lalu ( Sharma dan Murthy, 1998; Abdulla dan Badranih.
2000; Tokar dan
Johnson, 1999; Sobri
dan Harun et
al., 2002; Thurumalaiah and Deo, 2000). Pada umumnya
studi-studi terdahulu dilakukan pada obyek
studi dengan luas DAS yang besar.
Lokasi penelitian ini berada di Kabupaten
Wonogiri Propinsi Jawa Tengah. Daerah aliran
sungai Tirtomoyo untuk titik Sulingi
yang berada dibawah pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS).
Penelitian
ini akan menganalisis
debit berdasarkan hujan
Daerah Aliran Sungai (DAS) Tirtomoyo untuk titik Sulingi dengan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan
(JST) backpropagation. Pemilihan
lokasi ini karena
pertimbangan DAS Tirtomoyo
merupakan 1 dari
7 DAS yang
mengaliri waduk Gajah
Mungkur Wonogiri.
Aplikasi
JST dalam memodelkan hubungan curah hujan dengan debit aliran dalam DAS
Tirtomoyo belum dilakukan.
Maka dari itu
penelitian ini akan
menganalisis debit berdasarkan
hujan dengan metode jaringan syaraf tiruan.
1.2
Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini berdasarkan latar
belakang adalah : 1. Berapa koefisien
parameter model JST dalam analisis debit berdasarkan hujan? 2. Berapa korelasi antara hasil simulasi
terhadap data observasi? 3. Berapa
keandalan model pada DAS Tirtomoyo pada Confidence Interval 95%? 1.3 Batasan Masalah Batasan masalah dalam
penelitian ini adalah : 1. Data hujan
yang digunakan adalah data hujan di stasiun
balong, tirtomoyo dan nguntoronadi
tahun 2001-2012.
2.
Analisis debit berdasarkan hujan menggunakan metode Jaringan Syaraf
Tiruan (JST) dengan bahasa pemrogaman
matlab.
3.
Nilai korelasi (R) ≥ 0.8.
4.
Batas Bawah < Nilai Signifikansi < Batas Atas pada Confidence
Interval 95%.
1.4
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mendapatkan koefisien parameter model JST
analisis debit DAS Tirtomoyo dari hasil
simulasi.
2.
Mendapatkan Korelasi antara hasil simulasi terhadap data observasi.
3.
Mendapatkan keandalan dari model analisis di DAS Tirtomoyo.
1.5
Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan didalam peneletian ini adalah
: 1. Manfaat teoritis Memberikan suatu
informasi ilmu ketekniksipilan, terutama
hidrologi berupa analisis
debit berdasarkan hujan
dengan metode jaringan
syaraf tiruan di DAS
Tirtomoyo.
2. Manfaat Praktis Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan
referensi baru untuk
menganalisa debit suatu DAS
dengan lebih akurat dan dapat diaplikasikan dengan mudah.
0 komentar:
Posting Komentar