BAB I PENDAHULUAN
I. A. Latar Belakang Masalah Pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang
bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam
penyelenggaraannya tidakhanya cukup dilakukan melalui transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi,
tetapi harus didukung oleh peningkatan
profesionalisasidan sistem manajemen tenaga kependidikan serta pengembangan kemampuan siswa untuk menolong
diri sendiri dalam memilih dan mengambil
keputusan demi cita – citanya (Nurihsan dan Sudianto, 2005).
Kemampuan tidak hanya menyangkut aspek
akademis, tetapi juga menyangkut aspek
perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai siswa. Berkaitan dengan pemikiran
tersebut, tampak bahwa pendidikan yang
bermutu di sekolah adalah pendidikan yang menghantarkan siswa pada pencapaian standar akademis yang
diharapkan dalam kondisi perkembangan
diri yang sehat dan optimal (Nurihsan dan Sudianto, 2005).
Namun kenyataannya pendidikan
belum mampu memerankan tugas dan fungsinya
secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya prestasi siswa secara umum serta masih banyaknya kenakalan
siswa dan penyimpanganpenyimpangan yang dilakukan (Rahman, 2003).
Data dari tenaga kependidikan di
sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa
banyak siswa yang meninggalkan sekolah sebelum tamat masih cukup tinggi; ada siswa yang memperoleh prestasi
belajar yang rendah dan ada banyak kasus
siswa yang melarikan diri dari rumah karena merasa tidak mampu mengatasi kesulitan di rumah, sekolah, atau
pergaulan dengan teman; kasus kenakalan
remaja, terutama di daerahpenduduk yang status sosial ekonominya rendah di kota-kota besar, yang mengakibatkan
siswa terpaksaberurusan dengan petugas
kepolisian dan pengadilan; kelakuan kasar di sekolah, sampai menyerang tenaga kependidikan secara fisik atau merusak
milik sekolah; belum menamatkan jenjang
pendidikan menengah, yang akhirnya membuat mereka merasa frustasi selama hidupnya; merasa tidak puas karena
pendidikan di sekolah dinilai tidak sesuai
dengan minat dan bakat mereka, sehingga belajar di sekolah meninggalkan kesan negatif. Tidak semua remaja terlibat
dalam problematika yang dikemukakan di atas,
namun jumlah siswa yang terlibat dalam problematika itu dianggap cukup besar, sehingga memprihatinkan dan menjadi
masalah nasional (Winkel, 1997).
Sudah menjadi harapan setiap
guru, agar siswanya dapat mencapai hasil belajar yang sebaik – baiknya.. Namun,
kenyataan yang dihadapi tidak selalu menunjukkan
apa yang diharapkan itu dapat terealisir sepenuhnya. Banyak siswa yang menunjukkan tidak dapat mencapaihasil
belajar sebagaimana yang diharapkan oleh
para guru. Dalam proses belajar mengajar guru sering menghadapi masalah adanya siswa yang tidak
dapat mengikuti pelajaran dengan lancar,
ada siswa yang memperoleh prestasi belajar yang rendah, dan lain sebagainya. Dalam menghadapi siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar, pemahaman
yang utuh dari guru tentang kesulitan belajar yang dialami siswanya, merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan
dan bimbingan yang tepat (Hallen, 2005 ).
Di dalam lingkungan SMP Negeri 31 Medan, masalah yang sering muncul di sekolah ini selama enam bulan terakhir ini
adalah masalah ketidakhadiran siswa
(absen) yang hampir mencapai 44,37 % siswa. Banyak siswa yang sering absen hampir pada tiap – tiap kelas, tanpa ada
surat atau pemberitahuan dari orang tua
siswa. Untuk mencari informasi mengenai siswa yang tidak hadir tanpa izin, guru bimbingan dan konseling akan menghubungi
langsung orang tua (wali) pada saat hari
pertama itu juga. Kemudian jika siswa melakukan hal yang sama pada hari kedua maka dengan tegas guru bimbingan
dan konseling akan mengirimkan surat
kepada orang tua siswa. Dan selanjutnya guru menanyakan apa masalah yang dihadapi siswanya, kenapa siswa sering
tidak masuk sekolah. Dari data ketidakhadiran
siswa (absen), banyak siswa yang dikeluarkan dari sekolah SMPN 31 Medan ini adalah sekitar 1,9 % siswa.Jika
ditanyakan pada siswa – siswa tersebut
alasan hampir sama semua, ada yang tidak ingin bersekolah di sini karena mereka merasa takut dengan guru mata pelajaran
tertentu, dan ada juga mereka sendiri
yang memang malas untuk bersekolah. Kemudian pada siswa yang tidak hadir karena kurang sehat (sakit), guru
bimbingan dan konseling akan memberikan
kebijaksanaan bagi siswa untuk tidak masuk sekolah sampai siswa benar – benar sehat. Hal ini dikarenakan
petugas atau guru bimbingan dan konseling
tidak ingin penyakit siswa akan menularkan siswa – siswa yang lain...
( komunikasi personal, 5 Februari
2008).
Masalah – masalah cabut atau
bolos ketika jam pelajaran sedang berlangsung
juga sering terjadi, tidak mau mencatat pelajaran. Hal ini membuat guru menjadi kesel, padahal sudah seringsiswa
itu dipanggil ke ruangan guru bimbingan
dan konseling. Kemudian ada juga siswa yang membawa handphone danhandphone
tersebut isinya ada video porno, tetapi guru bimbingan dan konseling langsung mengambil handphone
tersebut dan memberikan hukuman kepada
siswa tersebut, dan sampai sekarang tidak ada lagi kejadian seperti itu...
( komunikasi personal, 5 Februari
2008).
Di SMP Negeri 31 guru bimbingan
dan konseling yang sering memeriksa tas
siswa –siswa pada jam tertentu. Kemudian masalah atribut pakaian sekolah yang kurang lengkap. Masalah rambut panjang
pada laki – laki. Masalah siswa dengan
keluarganya, seperti orangtua siswa yang lambat dalam memberikan keperluan untuk anaknya misalnya uang sekolah
ataupun uang buku. Adapun permasalahan
yang lain yang sering muncul yaitu masalah keributan di kelas yang terjadi pada saat pergantian guru untuk pergantian
mata pelajaran dan masalah merokok di
dalam kelas ketika guru tidak ada. Sementara permasalahan yang lain seperti pemakaian obat – obat terlarang,
sampai saat ini belum pernah terjadi di sekolah
ini.
Menurut Syahril & Ahmad
(1986) masalah-masalah yang terjadi pada remaja seperti sering mendongkol terhadaporang
tua bahkan melawan secara fisik, bolos
dari sekolah, merokok di sekolah, minum-minuman keras, membentuk gang-gang, berfoya-foya, menyendiri (lari dari
pergaulan hidup) dan sebagainya menunjukkan
bahwa dalam diri para remajasedang terjadi perubahan baik fisik maupun psikis. Hal ini menyebabkan timbulnya
kegocangan-kegoncangan, kekacau-kekacauan
dalam pikiran. Keadaan seperti ini dikenal dengan istilah ”storm and stress”.
Masa “storm and stress”adalah
suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat
sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar hormone. Kondisi ini disebabkan karena remaja di bawah tekanan
sosial, juga diakibatkan dari kecenderungan
remaja dalam memandang kehidupan menurut apa yang mereka inginkan. Mereka melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang mereka inginkan bukan sebagaimana adanya (Hurlock,
2001). Awal masa “storm and stress”merupakan
ciri dari awal masa remaja yang berkisar dari usia 12 sampai 15 tahun. Masa ini mempunyai arti yang lebih
luas karena remaja lebih melihat dirinya
sendiri dan orang lain sebagaimana ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, ia cenderung menunjukkan kekuatan yang
ada pada dirinya terlebih dalam hal
harapan dan citi – cita (Ridwan, 2004).
Tantangan pokok bagi siswa selam
rentang umur ini terletak dalam menghadapi
diri sendiri bila sudah mulai memasuki masa pubertas, yaitu mengalami segala gejala kematangan seksual,
yang sering disertai aneka gejala sekunder
seperti berkurang semangat untuk bekerja keras, kegelisahan, kepekaan perasaan, kurang percaya diri, dan penantangan
terhadap kewibawaan orang dewasa.
Masalah memuncak pada siswa di kelas dua dan tiga (fase negatif), yang biasanya menimbulkan kesulitan bagi guru dalam
menghadapi siswa, misalnya bila mereka
suka protes dan berontak, menunjukkan kekuatan dirinya dengan berkata-kata yang tajam dan kurang sopan, suka
malas-malasan di kelas dan melamun
ketika guru sedang menerangkan pelajaran, dan melakukan hal-hal yang serba berani. Siswa-siswi di sekolah menengah
pertama biasanya menimbulkan kesan
seolah-olah sudah menguasai dunia ini dan mampu melakukan apa saja (Winkel & Hastuti, 2006).
0 komentar:
Posting Komentar