I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Indonesia sebagai
negara agraris memiliki keanekaragaman sumber daya
alam. Potensi alami
Indonesia sangat mendukung
untuk mengembangkan sektor
pertanian, termasuk tanaman hortikultura. Sebagai suatu
kepulauan yang terletak
di daerah tropis
di sekitar khatulistiwa, Indonesia memiliki beragam jenis tanah yang
mampu menyuburkan tanaman, sinar
matahari yang konsisten sepanjang tahun, kondisi iklim yang memenuhi persyaratan tumbuh tanaman, dan curah hujan
rata-rata per tahun yang cukup tinggi.
Semua kondisi itu merupakan faktor-faktor ekologis yang baik untuk membudidayakan komoditas pertanian.
Komoditas hortikultura
merupakan produk yang
prospektif untuk memenuhi
kebutuhan pasar domestik
maupun internasional, baik
dari tanaman sayuran,
buah-buahan, bunga-bungaan, maupun
tanaman hias. Di samping
itu, komoditi ini
juga memiliki nilai
ekonomi yang tinggi
jika dibudidayakan dengan baik.
Keragaman karakteristik lahan, agroklimat, serta sebaran
wilayah yang luas
memungkinkan wilayah Indonesia
digunakan untuk pengembangan
hortikultura tropis dan sub tropis.
Bawang merah
merupakan salah satu
komoditi hortikultura yang tergolong sayuran rempah unggulan yang
sejak lama telah
diusahakan oleh petani
secara intensif. Menurut Rukmana
(1994), bawang merah termasuk komoditas
utama dalam prioritas
pengembangan sayuran dataran
rendah di Indonesia,
karena setelah ratusan
tahun lamanya dibudidayakan, bawang merah
merupakan salah satu
sumber pendapatan petani
maupun ekonomi negara
ini. Permintaan pasar terhadap
komoditi ini cukup
besar, dimana estimasi
permintaan domestik dapat mencapai
976.284 ton. Menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS) terkait dengan volume ekspor sayuran segar pada tahun 2011, menunjukkan bahwa bawang merah
adalah salah satu komoditas ekspor yang juga
cukup andil dalam
perekonomian Indonesia. Hal
ini dibuktikan dengan
keberadaan komoditi bawang
merah di posisi
kedua 1 komoditas
ekspor sayuran segar
yakni sebesar 6.290
ton setelah komoditas kubis
yang berada di
posisi tertinggi komoditas ekspor sayuran
segar yakni sebesar 18.036 ton.
Sumber: Badan Pusat Statistik
(BPS) Kebutuhan bawang merah di
Indonesia tahun 2009 mencapai 936.103 ton/ha
dan meningkat pada
tahun 2010 yaitu
976.284 ton/ha (BPS,
2011).
Komoditi bawang
merah tidak bersubstitusi
atau tidak memiliki
bahan pengganti berupa komoditi
lain yang sifat
dan fungsinya sama
dengan bawang merah sebagai bahan
penyedap dan obat tradisional baik yang sintetis maupun
alami, sehingga keberadaan bawang
merah tentunya akan
tetap banyak dibutuhkan.
Menurut Wibowo (2009), daerah
produksi bawang merah di Indonesia berada di
9 propinsi sebagai
penghasil utama (luas
lahan di atas 1.000ha/tahun),
dan DIY merupakan salah
satu propinsi penghasil
utama bawang merah diantara
propinsi lain seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa
Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Bali,
Nusa Tenggara Barat,
dan Sulawesi Selatan dengan
jumlah produksi sebesar 14.407 ton.
Konsentrasi produksi
bawang merah di
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
terdapat di Kabupaten
Bantul, dimana salah
satu sentra produksinya berada di
Kecamatan Sanden. Bawang merah
di Kecamatan Sanden ini merupakan trade mark mengingat
daerah di Kecamatan Sanden ini strategis sebagai
sentra produksi bawang
merah karena memiliki
daerah ketinggian tempat
antara 5-20 mdpl, iklim
kering dengan intensitas
sinar matahari yang
tinggi, dan maksimal sehingga cocok
untuk penanaman bawang
merah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa
Kecamatan Sanden merupakan
daerah penghasil bawang
merah tertinggi di
Kabupaten Bantul. Pada tahun
2011 Kecamatan Sanden memiliki
luas panen dan produksi seluas 612
ha dengan produksi
77.633 kw dan rata-rata produksi sebesar 126,85 kw/ha.
Sumber : Kabupaten Bantul dalam
Angka, BPS Pola penanaman
yang biasa dilakukan
petani di Kecamatan Sanden adalah pola pergiliran tanaman dengan pola
penanaman padi-bawang merahcabe-bawang
merah. Komoditi bawang
merah dilakukan dua kali
tanam selama setahun
Pola tanam ini
biasanya relatif seragam,
hal ini disebabkan sebelum petani
melakukan penanaman, petani
melakukan pertemuan rutin kelompok sebelum tanam. Penanaman
bawang merah dilakukan pada musim hujan yakni
sekitar bulan Februari sampai
April dan pada
musim kemarau pada bulan Juli sampai dengan September.
Bawang merah
yang ditanam di
Kecamatan Sanden sebagian
besar adalah varietas
lokal tiron. Bawang merah
tiron ini merupakan
varietas bawang merah
lokal yang sudah
dirilis oleh Menteri
Pertanian sebagai varietas
unggul kawasan Bantul dengan
tipe lahan pasir
dan lahan sawah berpengairan.
Jenis bawang merah
ini berasal dari
Kabupaten Bantul yang ditemukan oleh
petani yang bernama
Pawiro Tiron, sehingga
diberi nama bawang
merah tiron. Varietas tiron
memiliki ciri khas
tersendiri dalam hal aroma yang
lebih harum dan
rasa yang lebih
gurih dibanding varietas lain.
Disamping itu, pasar
juga bisa menerima
dengan harga sekitar Rp 8.000 – Rp 10.000 per kg.
Berbagai indikator
menyangkut status, potensi,
dan prospek pengembangan
komoditas bawang merah
di atas secara
implisit tidak saja menunjukkan
sisi positif perkembangan bawang merah, tetapi juga celah dan kesenjangan
akibat adanya kendala yang
harus dihadapi petani dalam usahatani
bawang merah. Kendala
tersebut diantaranya adalah
modal usahatani bawang merah yang besar, ancaman gagal panen akibat
cuaca yang tak terprediksi, kenyataan
sumber pertumbuhan produksi bawang merah yang lebih
didominasi oleh pertumbuhan
areal, dan keberadaan
bawang merah impor. Karakteristik sosial
ekonomi yang beranekaragam
baik karakteristik material
maupun non material
yang dimiliki petani
bawang merah pada akhirnya
menjadikan salah satu
faktor ketidakpercayaan petani
yang berdampak pada
tingkat motivasi individu
petani dalam menjalankan budidaya bawang merah.
Berkaitan dengan hal tersebut
maka penelitian terkait motivasi petani dalam membudidayakan bawang
merah dan sejauh
mana hubungan karakteristik
sosial ekonomi petani
dengan tingkat motivasi
petani yang membudidayakan bawang
merah di Kecamatan
Sanden Kabupaten Bantul diteliti
lebih lanjut sehingga
diharapkan dengan adanya keanekaragaman karakteristik
sosial ekonomi mampu
berpengaruh pada tingkat
motivasi petani untuk
terus menjalankan usahatani
budidaya bawang merah serta menjadikan
referensi atau acuan bagi institusi dan pemerintah setempat dalam menentukan kebijakan dan strategi pengembangan
yang tepat agar budidaya bawang merah
lokal di Kecamatan
Sanden Kabupaten Bantul
dapat mengalami perbaikan
khususnya dalam aspek kekuatan daya saing terhadap produk bawang merah impor, pendapatan, dan
kesejahteraan petani.
B. Perumusan Masalah Komoditas yang
diusahakan petani harus
berorientasi pada pasar, berdasarkan
sumber daya lokal, dan
memberikan kemakmuran pada
petani.
Petani harus melihat peluang
pasar dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang
ada. Setiap pengusaha
dalam menjalankan usahanya
tentu saja mempunyai
tujuan untuk memperoleh
laba sebesar-besarnya dengan
jalan memaksimumkan pendapatan,
meminimumkan biaya, memaksimumkan penjualan dan lain sebagainya (Suparmoko,
2001).
Bawang merah
merupakan salah satu
komoditas sayuran unggulan yang
sejak lama telah
diusahakan oleh petani
di Kecamatan Sanden Kabupaten
Bantul. Varietas tiron yang
berasal dari Kabupaten
Bantul itu sendiri,
banyak dibudidayakan oleh
petani setempat. Varietas
ini memiliki keunggulan
dan ciri khas
tersediri dalam hal
rasa dan aroma
yang diminati oleh
konsumen. Komoditas ini
juga merupakan sumber
pendapatan dan kesempatan
kerja yang memberikan
kontribusi cukup tinggi
terhadap perkembangan ekonomi
wilayah apabila dijalankan secara benar oleh petani di Kecamatan Sanden
Kabupaten Bantul.
Motivasi petani
merupakan salah satu
faktor penting yang
akan mempengaruhi petani dalam
pengambilan keputusan
pemilihan komoditas yang
dijalankan pada usahatani
mereka serta keseriusan
petani dalam menjalankan
usahatani dengan sudut
pandang komersial. Menurut Maslow (1992),
kekuatan motivasi mendorong
pada sejumlah urusan
atau bentuk perilaku, dan harus diarahkan sampai akhir.
Pengaruhnya, seluruh masyarakat apakah
mereka rasional atau tidak rasional, sadar atau tidak sadar, berlaku apa adanya
untuk memuaskan berbagai
kekuatan motivasi. Motivasi
petani dipengaruhi oleh
adanya pertimbangan antara prospek
komoditi apabila dijalankan
dengan ancaman resiko yang
harus dihadapi. Kesesuaian antara prospek
komoditi dengan kemampuan
mengatasi resiko usahatani
tersebut, akan memicu motivasi
petani untuk terus mengusahakan komoditi pertanian di lahan usahatani mereka karena adanya kepuasan
dari petani dan terpenuhinya kebutuhan. Begitu
sebaliknya, jika tidak
ada kesesuaian antara
prospek komoditi dengan
kemampuan petani dalam
menghadapi resiko usahatani tersebut, maka
akan terjadi penurunan tingkat
motivasi petani yang
apabila tidak ada tindak
lanjutnya, justu akan berdampak pada keputusan petani untuk tidak
mengusahakan lahan pertaniannya
kembali dan menciptakan
masalah kemiskinan yang meningkat.
Dalam melaksanakan usahatani bawang
merah di Kecamatan Sanden Kabupaten
Bantul, petani dihadapkan
pada masalah ketersediaan
modal, ancaman gagal
panen, dan daya saing bawang
merah lokal dengan bawang merah impor di pasar. Permasalahan ini
memerlukan adanya usaha aktif dari petani untuk
mengusahakan budidaya bawang
merah secara produktif
dan intensif agar
dengan ketersediaan lahan
dan potensi yang
ada, komoditas bawang
merah lokal mencapai
produktivitas hasil sesuai
harapan dan dapat bersaing di
pasar nasional maupun
internasional. Usaha aktif
petani membutuhkan motivasi.
Tingkat motivasi petani
tidak lepas dari
adanya pengaruh karakteristik
sosial ekonomi yang berasal
dari individu petani.
Karakteristik sosial
ekonomi yang akan diteliti
meliputi umur, pendidikan formal,
pendidikan non formal,
pendapatan, pengalaman usahatani,
luas penguasaan lahan,
kekosmopolitan, dan keaktifan
keanggotaan petani.
Karakteristik sosial ekonomi ini
yang kemudian dapat menggambarkan tingkat motivasi
petani dalam membudidayakan bawang
merah. Sehingga, dengan mengetahui
karakteristik sosial ekonomi
dan tingkat motivasi petani akan dapat dikaji
sejauh mana hubungan
karakteristik sosial ekonomi mempengaruhi
tingkat motivasi petani
bawang merah di
Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul.
Berdasarkan uraian
tersebut, beberapa permasalahan
yang akan dikaji dalam penelitian ini, adalah: 1.
Bagaimana karakteristik sosial
ekonomi petani dalam budidaya
bawang merah di Kecamatan Sanden
Kabupaten Bantul? 2. Bagaimana tingkat
motivasi petani dalam budidaya bawang
merah di Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul? 3.
Bagaimana hubungan antara
karakteristik sosial ekonomi dengan tingkat motivasi
petani dalam budidaya bawang
merah di Kecamatan
Sanden Kabupaten Bantul? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini
adalah: 1. Menganalisis karakteristik sosial ekonomi petani dalam budidaya
bawang merah di Kecamatan Sanden
Kabupaten Bantul.
Download lengkap Versi PDF
0 komentar:
Posting Komentar